
PASAR modal Indonesia tengah mengalami salah satu badai terburuk dalam sejarah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak hanya terjerembab ke level psikologis 4.900-an, tetapi juga mencatatkan pelemahan harian terdalam sejak krisis moneter 1998.
Di tengah kepanikan pasar, Anggota Komisi XI DPR RI, Andi Yuliani Paris, buka suara mengenai keterbatasan pengawasan akibat agenda reses, seraya berjanji akan mengevaluasi kinerja mitra kerja legislatif begitu masa sidang kembali dibuka.
Kepanikan di lantai bursa terlihat nyata pada Jumat pekan lalu. Tepat pukul 08.58 WIB, IHSG dibuka anjlok 469,85 poin atau 8,01 persen ke level 5.393,92.
Awan hitam semakin pekat ketika Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa melakukan trading halt (penghentian sementara) karena indeks terus merosot hingga menyentuh ambang batas bawah.
Tekanan berlanjut pada awal pekan. Senin (19/10) pukul 09.38 WIB, IHSG tercatat ambles 273,06 poin atau 5,27 persen dari level 5.185,11 menjadi 4.912,05. Angka ini menjadi pukulan berat bagi pelaku pasar yang berharap adanya rebound.
Di tengah desakan publik agar pemerintah dan regulator segera bertindak, Anggota Komisi XI DPR RI, Hj. Andi Yuliani Paris, memberikan pernyataan terbuka.
Saat mengisi kegiatan Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like It) ke-9 yang digelar oleh LPS di Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa (20/10), ia menyinggung mengenai fungsi pengawasan DPR yang sedang tidak berjalan maksimal akibat masa reses.
“Contohnya hari ini indeks saham gabungannya anjlok, tapi karena kami sedang reses, jadi mungkin nanti pada sesi pertama setelah kami masuk kembali kita akan membahas apa yang perlu dilakukan oleh masing-masing mitra kami untuk memperbaiki kondisi saat ini,” ujar Andi Yuliani dalam pemaparannya.
Ia menegaskan bahwa tugas DPR melalui Komisi XI adalah memastikan fungsi legislasi dan pengawasan berjalan seiring dengan dinamika pasar.
“Tugas kami di DPR adalah meyakinkan bahwa fungsi legislasi kami memberikan mandat kepada BI, LPS, OJK, dan Kemenkeu terkait keuangan, moneter, dan pertumbuhan ekonomi,” tutupnya. (LN/E-4)
