Mendikdasmen Jelaskan Arti Pembelajaran Mendalam Dihadapan Para Kepala Sekolah di Papua
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti di Jayapura, Papua.(Dok. MI/Despian)

MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) menjadi salah satu upaya mengatasi persoalan kualitas pembelajaran di Indonesia. Pendekatan ini menekankan keterlibatan aktif siswa, proses berpikir kritis, serta penguatan nilai dan karakter.

Abdul Mu’ti mengatakan, persoalan pendidikan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga fenomena schooling without learning, yakni kondisi ketika anak bersekolah tetapi tidak memperoleh pembelajaran secara optimal.

“Ketika kita punya masalah schooling without learning, jadi anak-anak pergi ke sekolah tapi tidak belajar,” ungkapnya dalam Sarasehan Kelompok Kerja Guru bertajuk “Mari Merajut Pembelajaran Mendalam bersama Guru Papua, Belajar dari Noken” di Jayapura, Papua, Senin (19/10).

Menurut dia, persoalan tersebut antara lain berkaitan dengan rendahnya motivasi belajar siswa. Kondisi ini dapat terjadi ketika siswa merasa tetap akan naik kelas, terlepas dari kesungguhan mereka dalam mengikuti pembelajaran.

Selain itu, Indonesia masih menghadapi dampak kehilangan pembelajaran (learning loss) akibat pandemi covid-19. Saat pembelajaran daring diterapkan, sebagian siswa terkendala keterbatasan sarana, sementara sebagian guru belum terbiasa atau belum mampu memaksimalkan pembelajaran secara daring.

Karena itu, pemerintah berupaya menyelesaikan persoalan tersebut dari hulu melalui perubahan pendekatan pembelajaran. Pembelajaran mendalam diharapkan tidak hanya meningkatkan capaian akademik, tetapi juga membangun pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa.

“Pembelajaran mendalam itu ada filosofinya, yaitu pembelajaran sebagai proses yang memuliakan murid, guru, dan memuliakan ilmu,” kata Abdul Mu’ti.

Ia menjelaskan, setiap anak memiliki bakat dan kemampuan yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan. Dalam pendekatan ini, siswa tidak lagi dipandang sekadar sebagai objek pembelajaran, melainkan individu yang memiliki potensi dan kebutuhan berbeda.

Guru juga tidak hanya berperan sebagai fasilitator, tetapi sekaligus menjadi pembelajar. Dengan demikian, proses mengajar tidak semata-mata berlangsung satu arah, melainkan menjadi ruang bagi guru dan siswa untuk sama-sama belajar.

Abdul Mu’ti menambahkan, pembelajaran mendalam memiliki tiga prinsip utama, yakni mindful, meaningful, dan joyful. Ketiganya menekankan kesadaran dalam belajar, pemahaman yang bermakna, serta pengalaman belajar yang menyenangkan.

Belajar dari Filosofi Noken Papua

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga mengangkat filosofi noken sebagai inspirasi dalam menerapkan pembelajaran mendalam. Noken, tas tradisional khas Papua, menurut dia, mengandung nilai kesabaran, ketelitian, keterbukaan, kolaborasi, kemanfaatan, dan jejaring.

Ia menjelaskan, proses pembuatan noken tidak berlangsung secara instan, melainkan membutuhkan waktu dan tahapan. Filosofi tersebut sejalan dengan proses belajar yang memerlukan keterlibatan, kesabaran, dan pemahaman secara bertahap.

“Ilmu itu adalah jejaring atau bersambung. Karena itu, noken ini kan tidak sekaligus jadi, tapi dibuat dengan proses. Itulah orang belajar,” ujarnya.

Abdul Mu’ti mencontohkan, guru dapat mengajarkan suatu konsep dengan mengajak siswa menelusuri sejumlah karakteristik sebelum sampai pada kesimpulan. Ketika menjelaskan tentang kucing, misalnya, guru tidak langsung menyebut nama hewan tersebut, tetapi mengajak siswa mengidentifikasi ciri-cirinya, seperti berkaki empat, berbulu halus, memiliki kuku tajam, dan memakan daging.

Melalui proses itu, siswa dilatih menghubungkan informasi, mengembangkan penalaran, dan menyusun kesimpulan secara mandiri. Pendekatan tersebut diharapkan membuat siswa lebih terlibat dalam pembelajaran, bukan sekadar menerima informasi dari guru.

Ia menegaskan, pembelajaran mendalam pada akhirnya juga harus mencakup pendidikan nilai dan karakter. Dengan begitu, proses pendidikan tidak berhenti pada penguasaan materi pelajaran, tetapi turut membentuk sikap dan perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *