
Universitas Tarumanagara (Untar) memberikan pelayanan kesehatan dan pendampingan psikososial bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), belum lama ini. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan kesehatan fisik dan psikologis masyarakat pascabencana.
Program pengabdian kepada masyarakat yang dikoordinasikan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (Dikti) Wilayah III tersebut melibatkan dosen, mahasiswa, dan alumni Fakultas Kedokteran (FK) serta Fakultas Psikologi (FPsi) Untar, dengan dukungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untar.
Pelayanan dilaksanakan di sejumlah wilayah, antara lain Pongleko, Bea Mese, dan wilayah kerja Puskesmas Lao. Melalui keterangan resmi Untar yang diterima Media Indonesia hari ini menyebutkan Tim Untar mengintegrasikan pemeriksaan kesehatan dengan pendampingan psikososial guna menjawab kebutuhan masyarakat terdampak bencana.
Di Pongleko, tim FK Untar memberikan pelayanan kepada 136 pasien dengan berbagai keluhan, antara lain gangguan pencernaan, batuk, pilek, dan anemia. Pemeriksaan dilakukan untuk menangani keluhan kesehatan sekaligus mengantisipasi memburuknya kondisi kesehatan yang telah dialami warga sebelum bencana.
Sementara itu, tim FPsi Untar memberikan pendampingan psikososial kepada 90 warga. Melalui konsultasi dan observasi, warga memperoleh ruang untuk menyampaikan pengalaman, kekhawatiran, serta kondisi emosional yang mereka hadapi setelah gempa.
Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pemulihan, mengingat dampak bencana tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan psikologis masyarakat.
Apresiasi
Kehadiran tim Untar turut mendapat apresiasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai. Juru Bicara Posko Health Emergency Operation Center (HEOC) Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Andi Jemahu, menilai keterlibatan tim FPsi Untar bersama para relawan lainnya memberikan dukungan moral sekaligus memperkuat kesiapan sistem kesehatan daerah dalam menangani dampak psikososial akibat bencana.
Saat melepas tim pengabdian beberapa waktu lalu, Wakil Rektor Untar Assoc. Prof. Sri Tiatri, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog, menekankan pentingnya penerapan keahlian akademik untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kehadiran perguruan tinggi harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami berharap keahlian di bidang kedokteran dan psikologi dapat membantu masyarakat terdampak bencana, baik dalam pemulihan kesehatan fisik maupun psikologis,” ujarnya.
Menjangkau Warga Rentan
Perhatian terhadap kemudahan akses pelayanan juga diwujudkan di wilayah Lao. Tim Untar memberikan pemeriksaan kesehatan di rumah Ketua RT agar lebih mudah dijangkau masyarakat, khususnya warga lanjut usia (lansia).
Sebanyak 48 warga memperoleh pelayanan kesehatan melalui pendekatan tersebut. Langkah ini menunjukkan pentingnya menyesuaikan pelayanan dengan kondisi masyarakat, terutama kelompok yang memiliki keterbatasan mobilitas.
Kolaborasi antara bidang kedokteran dan psikologi memungkinkan penanganan kesehatan fisik dan psikologis dilakukan secara terpadu sesuai kebutuhan warga.
Perwakilan warga setempat menyampaikan apresiasi atas pelayanan yang diberikan tim Untar. Kehadiran tenaga medis dan pendamping psikososial dinilai membantu warga memperoleh pemeriksaan kesehatan sekaligus dukungan dalam menghadapi kondisi pascabencana.
“Pelayanan ini sangat membantu warga, terutama para lansia yang kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan karena manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” ungkap perwakilan warga.
Kegiatan di Manggarai melanjutkan keterlibatan Untar dalam membantu masyarakat terdampak bencana di berbagai daerah. Sebelumnya, Untar turut memberikan bantuan kemanusiaan dan pelayanan kesehatan bagi korban gempa Cianjur pada 2022, serta masyarakat terdampak bencana di Sumatera Barat pada 2025 dan Tegal pada 2026.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan kesinambungan kontribusi Untar dalam menjawab kebutuhan masyarakat melalui penerapan keahlian dan sumber daya perguruan tinggi.
Melalui kegiatan di Manggarai, pengetahuan dan keahlian yang dikembangkan di lingkungan akademik diterapkan secara langsung untuk membantu masyarakat menghadapi persoalan nyata. Keterlibatan dosen, mahasiswa, dan alumni sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pemulihan masyarakat pascabencana.(H-2)
