
INDUSTRI makanan dan minuman (F&B) nasional kini menghadapi tantangan besar dalam menjaga standar kualitas global akibat ketidakpastian cuaca ekstrem di sektor hulu. Ketergantungan pada hasil bumi nusantara menuntut pelaku industri memperkuat kolaborasi dengan petani lokal guna memastikan stabilitas rantai pasok bahan baku segar.
Managing Director Subway Indonesia, Anthony McEvoy, menyatakan bahwa kunci operasional jaringan restoran tersebut selama lima tahun di Indonesia adalah penggunaan bahan baku lokal. Strategi ini diterapkan untuk menjaga kesegaran produk sekaligus mendukung ekosistem agrikultur dalam negeri.
“Pasokan sayuran segar kami tidak diambil dari jauh, melainkan dipasok langsung dari kawasan agrikultur lokal di sekitar Bogor hingga Bandung. Selain itu, bahan baku daging olahan juga diproses di dalam negeri,” ujar Anthony di Jakarta, Senin (19/10).
Namun, Anthony mengakui bahwa model bisnis yang mengandalkan komoditas segar sangat rentan terhadap anomali cuaca seperti El Nino. Musim kemarau panjang seringkali menghambat proses budidaya, yang berujung pada penyusutan volume pasokan dan lonjakan harga di tingkat produsen.
Menurutnya, kondisi tanpa hujan menjadi masalah besar bagi rantai pasok. Tantangan utama perusahaan adalah menyeimbangkan biaya produksi agar harga jual di tingkat konsumen, khususnya segmen generasi muda, tetap terjangkau meski terjadi fluktuasi harga bahan baku.
Sebagai langkah mitigasi, manajemen Subway Indonesia fokus pada efisiensi operasional melalui penguatan jaringan distribusi digital. Selain itu, ekspansi gerai diarahkan pada simpul-simpul transportasi (transport hub) untuk mendekatkan produk kepada konsumen milenial dan Gen Z.
Langkah strategis ini dinilai krusial untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah tekanan ekonomi dan krisis iklim. Dengan mengoptimalkan sumber daya lokal dan efisiensi distribusi, industri F&B diharapkan tetap tangguh menghadapi dinamika pasar yang kian kompetitif. (Z-10)
