
PRESIDEN Prancis Emmanuel Macron mengecam keras aksi anarkis yang menunggangi gelombang unjuk rasa di berbagai kota di Prancis. Macron menyebut para pelaku perusakan sebagai “penyebar kekacauan” dan menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam menghadapi tindakan kekerasan tersebut.
Gumpalan gas air mata memenuhi jalanan Paris pada Sabtu ketika demonstrasi menentang pemerintah meluas ke luar ibu kota. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez melaporkan sekitar 550.000 demonstran turun ke jalan di seluruh Prancis, termasuk 110.000 orang di Paris. Pihak penyelenggara bahkan memperkirakan jumlah partisipan jauh lebih tinggi, dengan aksi serupa yang juga berlangsung di Rennes, Lyon, dan Marseille.
Sejumlah foto menunjukkan massa memanjat patung-patung bersejarah dan membakar bangunan. Di Lille dan Marseille, para demonstran dilaporkan menerobos masuk ke gedung-gedung pemerintahan saat malam mulai tiba. Saat malam makin larut di Paris, kelompok pemuda melakukan penjarahan dan menyulut api di akhir aksi, yang memicu respons polisi berupa tembakan gas air mata dan pukulan tongkat di celah-celah jalan sempit.
Menanggapi eskalasi kekerasan dan perusakan fasilitas publik tersebut, Macron mengutuk para oknum yang mengganggu jalannya demonstrasi damai.
“Penyebar kekacauan,” kata Macron yang menegaskan pada Sabtu malam bahwa “mereka yang telah merusak, menyerang kantor-kantor kepolisian (prefectures), serta bisnis, dan bahkan menjarah balai kota kita, akan diadili dan dihukum.”
Sikap tegas pemerintah juga disuarakan oleh Kepolisian Paris. Pihak kepolisian menyatakan tidak akan mengalah pada kelompok perusuh yang menyerang aparat penegak hukum, sembari menegaskan bahwa jajarannya tetap bertahan dengan keberanian dan profesionalisme.
Gelombang unjuk rasa besar-besaran akhir pekan ini merupakan lanjutan dari aksi protes yang dipelopori para siswa bulan lalu. Gerakan ini berkembang menjadi koalisi luas yang menyuarakan penolakan terhadap fasilitas sekolah yang rusak, lonjakan biaya hidup, serta lambannya penanganan pemerintah. Aksi ini menjadi simbol dari kekecewaan antargenerasi yang merasa aspirasi perubahan sosial dan politik mereka diabaikan oleh pemerintah.
Di tengah aksi tersebut, kemarahan publik terhadap kepemimpinan Macron terus menyuarai jalanan. “Ada penumpukan kekayaan dan kekuasaan yang sepenuhnya tak terkendali,” ujar seorang demonstran berusia 36 tahun bernama Pauline di Paris. Demonstran lain, Louise, 38, mengeluhkan berkurangnya kualitas demokrasi dan adanya konsentrasi kekuasaan di bawah kepemimpinan Presiden Emmanuel Macron.
Laporan resmi mencatat sedikitnya 195 orang telah ditahan di tengah kritikan atas tindakan keras aparat. Bentrokan di lapangan juga memakan korban jiwa dan luka-luka. Seorang demonstran di Saint-Etienne dilaporkan kehilangan tangannya pada Sabtu, menjadi kasus kedua demonstran yang kehilangan tangan dalam gelombang protes siswa saat ini.
Meski demikian, otoritas mencatat bahwa mayoritas besar masyarakat sebenarnya berdemonstrasi secara damai. Tokoh politik sayap kiri, Jean-Luc Melenchon, melalui unggahan di platform X turut menekankan bahwa sebagian besar demonstran beraksi dengan tertib.
“Sementara saluran berita dibanjiri dengan gambar-gambar kekerasan di puluhan kota, semuanya berlangsung secara damai dengan puluhan ribu orang bermobilisasi secara tenang. Dua dunia, dua realitas,” tulis Melenchon. (CNN/Z-2)
