Festival Budaya Nasional 2026 di Bogor, 200 Seniman Angkat Kekayaan Nusantara
Festival Budaya Nasional di Kebun Raya Bogor merayakan Hari Kebudayaan Nasional dengan pagelaran 200 seniman, pameran tradisi Nusantara, dan Dialog Budaya Nasional.(Dok. Rifaldi Putra )

MEMPERINGATI hari budaya nasional yang jatuh pada 17 Oktober 2026, Festival Budaya Nasional diselenggarakan di Kebun Raya Bogor, Bogor. Sebuah ruang perjumpaan bagi komunitas budaya, seniman, akademisi, generasi muda, dan masyarakat untuk bersama-sama mengenal, merayakan, dan menjaga kekayaan budaya Indonesia.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon mengatakan, penetapan 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional merujuk pada terbitnya aturan pemerintah tentang lambang dan semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika, 75 tahun lalu.

“Hari ini diambil sebagai Hari Kebudayaan Nasional karena pada hari ini 75 tahun yang lalu, keluarlah aturan dari pemerintah tentang lambang dan semboyan negara kita yaitu Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu juga,” ujar Fadli Zon.

Menurutnya, perbedaan budaya bukanlah ancaman yang dapat memecah belah masyarakat, melainkan kekuatan untuk mempersatukan bangsa.

Pagelaran Budaya

Rangkaian festival menghadirkan beragam kegiatan yang memadukan pertunjukan seni, pengenalan tradisi, kreativitas, serta interaksi langsung dengan para pelaku budaya. Festival yang digagas oleh Yayasan Mawar Budaya itu, melibatkan komunitas dari berbagai daerah.

Sebagai puncak festival, Pagelaran Budaya Nusantara bertajuk “Mari Bersama merawat akar budaya” digelar. Melibatkan 200 seniman, dalam perjalanan artistiknya pagelaran ini merangkai ragam budaya dari Sabang sampai Merauke. 

Perpaduan koreografi tradisional dan kontemporer dengan teknologi digital membawa penonton menyusuri empat babak “Jejak Peradaban”, “Budaya Nusantara”, “Budaya Berkembang”, dan “Budaya yang Terus Hidup”. Pagelaran ini turut menghadirkan Novia Bachmid dan perwakilan Putra Putri Kebudayaan Indonesia, menghadirkan pertemuan lintas generasi dalam satu panggung.

Selain pagelaran seni, festival menghadirkan Pameran dan Kegiatan Interaktif 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) bersama komunitas budaya. Pengunjung dapat mengenal manuskrip dan tradisi menulis lontar, ritus daur hidup Jawa, permainan rakyat, Hikayat Aceh, dongeng Nusantara, membatik, musik Sape Dayak, pencak silat, teknologi tempa tradisional, hingga adat Malam Bainai dari Sumatera Barat. 

Pengalaman tersebut dilengkapi dengan pengenalan Warisan Budaya Takbenda melalui wayang dan angklung interaktif, serta Instalasi Ketahanan Pangan Nusantara yang memperkenalkan kekayaan pangan lokal dan pengetahuan tradisional masyarakat Indonesia. Lomba menggambar, kompetisi video pendek, dan Pasar Budaya UMKM turut menjadi ruang kreativitas, edukasi, serta apresiasi terhadap karya dan produk budaya Nusantara.

Dialog Budaya Nasional

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Dialog Budaya Nasional yang diselenggarakan melalui kolaborasi dengan Universitas Pakuan, Bogor, mengangkat tema “Budaya untuk Masa Depan: Antara Warisan, Inovasi, dan Perubahan”.

Bertempat di Graha Pakuan Siliwangi, Universitas Pakuan, diawali dengan paparan pembuka oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan empat narasumber, yaitu Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Restu Gunawan, Rektor Universitas Pakuan Didik Notosudjono, pelaku dan akademisi seni Nungki Kusumastuti serta sejarawan dan pendiri Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali.

Forum ini menjadi ruang berbagi pandangan mengenai pewarisan budaya, peran pendidikan dan generasi muda, kreativitas, serta inovasi agar kebudayaan Indonesia terus hidup dan relevan di tengah perubahan zaman. (Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *