
SEJUMLAH wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi mengalami kekeringan meteorologis. Sesuai Pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada awal Oktober 2026 mencatat hari tanpa hujan di sejumlah wilayah mencapai lebih dari 60 hari. Ancaman ini muncul ketika El Niño berada pada kategori sangat kuat dan curah hujan November diprakirakan masih di bawah normal.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I NTT Rahmatulloh Adji dalam Buletin Klimatologi Oktober 2026 menyebutkan, anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 di Samudra Pasifik mencapai +3,33 derajat Celsius pada awal Oktober.
Artinya, suhu permukaan laut di kawasan tersebut lebih hangat 3,33 derajat Celsius dibandingkan rata-rata normalnya. Kondisi ini menjadi salah satu indikator kuatnya El Niño yang dapat memengaruhi pola hujan di Indonesia.
Sementara itu, dalam Buletin Klimatologi NTT edisi Oktober, disebutkan El Nino 2026 diprediksi akan bertahan hingga awal Tahun 2027. Pemantauan BMKG menunjukkan panjangnya periode tanpa hujan di NTT.
“Monitoring Hari Tanpa Hujan berturut-turut (HTH) Dasarian I Oktober 2026 di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya mengalami Hari Tanpa Hujan hingga kategori Ekstrem Panjang,” katanya, Minggu (18/10).
Selain itu, peringatan dini BMKG menunjukkan potensi kekeringan meteorologis dengan tingkat ancaman Awas dan Siaga di sebagian besar wilayah NTT. “Sebagian besar wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur berpotensi mengalami kekeringan meteorologis dengan tingkat ancaman yang didominasi oleh kategori Awas dan Siaga,” ujarnya.
Potensi Awas dan Siaga mencakup mayoritas kecamatan di Pulau Timor, wilayah timur Flores, serta Alor, Rote Ndao, Lembata, Sabu Raijua, dan Sumba Barat Daya. Sementara itu, potensi Siaga diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah Manggarai Barat, Ngada, Ende, dan pedalaman Timor Barat.
Adapun kekeringan meteorologis terjadi ketika curah hujan jauh lebih rendah daripada kondisi normal dalam periode tertentu. Kondisi ini berbeda dari El Niño, yaitu fenomena iklim di Samudra Pasifik yang dapat mengurangi peluang hujan di Indonesia. El Niño meningkatkan risiko kekeringan, tetapi tidak berarti seluruh wilayah otomatis mengalami kondisi yang sama.
Sementara itu, BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah NTT menerima curah hujan sekitar 21-100 milimeter selama November. Sejumlah wilayah di Flores berpotensi menerima hujan lebih banyak, tetapi secara umum sifat hujan di seluruh kabupaten dan kota di NTT diprakirakan berada di bawah normal. (Z-2)
