Bukan Sekadar Alat Promosi, Teknologi Jadi Penggerak Utama Ekonomi Kreatif
Kawasan Bakauheni Harbour City (BHC) Lampung Selatan.(ANTARA/HO-ASDP)

KEMENTERIAN Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) menyelenggarakan program “Aktivasi Creative Hub: SIAP” (Sinergi, Inkubasi, Akselerasi, dan Penguatan) bagi para pegiat ekonomi kreatif di subsektor Jasa Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Acara yang berlangsung di Siger Creative Hub, kawasan Bakauheni Harbour City, Kabupaten Lampung Selatan ini dilakukan untuk memperkuat kapasitas, adaptabilitas, serta daya saing para pelaku usaha jasa TIK.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Direktorat Jasa TIK Kemenekraf ini turut mendapatkan dukungan penuh dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan serta organisasi Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs). 

Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan, Syaifuddin menggarisbawahi urgensi peran teknologi dalam ekosistem bisnis modern. Menurutnya, pemanfaatan jasa TIK tidak lagi sekadar instrumen promosi semata, melainkan sarana utama bagi pelaku usaha untuk menemukan, melayani, hingga mempertahankan jangkauan pasar secara berkelanjutan. 

“Mengapa jasa TIK penting bagi ekonomi kreatif? Karena teknologi bukan sekedar alat promosi, ia membantu usaha menemukan, melayani, dan mempertahankan pasar,” kata Syaifuddin.

Ia menambahkan bahwa peluang emas bagi pegiat TIK bukan sebatas membuat akun digital, melainkan menghadirkan solusi nyata atas permasalahan yang dihadapi oleh para pelanggan.

Guna memberikan pemahaman yang komprehensif, program “Aktivasi Creative Hub: SIAP” menghadirkan empat narasumber ahli yang memaparkan materi seputar optimalisasi TIK dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.

Kepala Subdirektorat Pemasaran dan Komersialisasi Jasa TIK Kemenekraf, Harry Noor Sukarna, menjelaskan bahwa sektor jasa TIK memegang posisi penggerak sentral dalam ekosistem digital. Perannya tidak hanya mempercepat digitalisasi internal, tetapi juga menjadi tulang punggung bagi subsektor ekonomi kreatif lainnya dalam meningkatkan produktivitas, memperluas jangkauan pasar, serta mengembangkan model bisnis yang lebih inovatif.

“Jasa TIK memegang peran strategis dalam ekosistem ekonomikreatif,”

ujarnya.

Pandangan senada disampaikan oleh praktisi TIK dari Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), Kuntjoro Pinardi. Ia menegaskan bahwa teknologi TIK bukanlah sesuatu yang mahal atau rumit. Penggunaan aplikasi sehari-hari seperti WhatsApp Business merupakan contoh nyata pemanfaatan TIK yang sangat mudah, murah, serta adaptif untuk dikombinasikan dengan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) guna menunjang operasional bisnis.

Ketua DPW Gekrafs Lampung, Handrie Kurniawan, memaparkan rencana aksi strategis untuk menangkap peluang bisnis digital di wilayah Lampung. Ia mengingatkan para peserta bahwa Provinsi Lampung merupakan ruang kolaborasi yang sangat dinamis dan masih menyimpan potensi besar yang siap dioptimalkan oleh para kreator lokal.

(P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *