Saat Martinez dan Diallo Frustrasi
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

“SUNGGUH memalukan. Saya tidak tahu harus menggunakan kata apa lagi.” Kekesalan itu disampaikan penyerang sayap muda Manchester United, Amad Diallo, di media sosialnya setelah menelan kekalahan 0-2 dari Atletico Madrid di babak pertama Liga Champions.

Belum satu menit pertandingan berjalan, gawang ‘Setan Merah’ sudah kebobolan oleh gelandang Atletico, Pablo Barrios. Pemain belakang Manchester United tidak ada yang mengantisipasi bola daerah sehingga gelandang Alex Baena bisa bebas mendapatkan bola. Ketika pemain belakang Manchester United hendak menutup ruang tembak, Baena melepaskan umpan tarik yang disambut dengan sempurna oleh Barrios.

“Kami tidak memiliki tim terbaik yang sama kualitasnya dengan klub-klub besar lain,” ujar center-back Lisandro Martinez yang sama frustrasinya.

“Saya kira kami harus berani naikkan investasi seratus persen. Saya sungguh sangat berharap kepada Direktur Teknik Jason Wilcox. Sangat menyedihkan kalah dari Atletico karena kami kalah kelas. Saya harus bekerja sendiri menutup barisan belakang dan kita bisa paham seperti apa kualitas kami saat ini,” tukas Martinez.

Wilcox disorot sebagai pihak yang ikut membuat terpuruknya kembali prestasi ‘Setan Merah’. Orang mulai mempertanyakan kualitas mantan pemain yang pernah ikut membawa Blackburn Rovers memenangi kompetisi Liga Inggris pada 1995 itu sebagai sosok yang pantas atau tidak memegang jabatan Direktur Teknik Manchester United.

Masalahnya pria berusia 55 tahun itu baru pertama kali menangani klub besar seperti ‘Setan Merah’. Sebelumnya di Manchester City, Wilcox hanya menjabat sebagai direktur akademi yang menangani pemain junior dan hanya setahun menjadi Direktur Teknik Southampton.

Manchester United mengalami masalah besar di semua lini. Kuartet pemain di belakang, yaitu Diego Dalot, Harry Maguire, Martinez, dan Luke Shaw, sudah bermain bersama sejak 2022. Tidak ada pemain yang bisa dijadikan sebagai pengganti apabila salah satu dari mereka cedera.

Ketika Shaw cedera Selasa malam lalu, pelatih Michael Carrick terpaksa menggeser Dalot ke kiri dan menurunkan pemain muda Ayden Heaven mengisi posisi Dalot di kanan. Gol pertama Atletico Madrid tercipta karena kelengahan Heaven mengantisipasi bola.

 

CASEMIRO

Ketika musim lalu Casemiro pensiun, Wilcox tidak segera mencari pemain pengganti yang sepadan. Padahal, musim lalu nama Elliot Anderson masuk dalam radar untuk direkrut.

Kini ketika panggung Eropa sudah direbut, Manchester United tidak mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh. Tidak ada perubahan yang juga dilakukan di barisan depan sehingga mereka tampil tanpa penyerang murni.

Carrick mencoba bereksperimen dengan false nine, tetapi ia tidak memiliki pemain yang berkualifikasi untuk peran itu. Baik Matheus Cunha maupun sekarang Bryan Mbeumo bukanlah kelas Kevin de Bruyne yang lengkap kemampuannya.

Manchester United sebenarnya memiliki penyerang murni seperti Benjamin Sesko atau Joshua Zirkzee. Namun, Carrick tidak percaya akan kemampuan keduanya yang memang kalah kelas jika dibandingkan dengan Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Teddy Sheringham, Robin van Persie, Andy Cole, atau Dwight Yorke dulu.

Banyak sebenarnya pemain kelas dunia yang berminat untuk bergabung dengan Manchester United. Namun, persoalannya, pemilik Manchester United terlalu pelit untuk belanja pemain.

Keluarga Glazer tidak pernah mau menyuntikkan modal untuk membangun Manchester United. Sir Jim Ratcliffe pun terlalu berhitung bisnis dalam kiprahnya di Manchester United.

Sebagai direktur teknik, Wilcox seharusnya bisa meyakinkan para pemilik modal untuk mau menambah modal. Kuncinya, ia harus menyiapkan proposal yang jelas tentang apa yang akan diraih Manchester United apabila mendatangkan pemain yang lebih berkualitas.

Di sinilah peran Wilcox dipertanyakan banyak pihak. Ia tidak cukup memiliki wawasan karena pengalaman menangani tim senior baru didapat ketika dipercaya menjadi Direktur Teknik Southampton.

Apalagi Carrick pun ternyata tidak cukup cerewet untuk meminta pemain tambahan. Padahal pemain baru yang didatangkan tidak mampu memberikan perubahan besar kepada penampilan tim.

Lihat saja kemampuan jelajah para ‘Setan Merah’ yang hanya 671,4 km, kelima terendah di Liga Primer, padahal para pemain Arsenal yang paling tinggi bisa menjelajah sejauh 716,2 km. Dalam hal sprint pun para pemain hanya bisa 581 km, sementara para pemain Brentford yang tertinggi mencapai 765 km.

Tanpa ada perubahan yang mendasar, Manchester United akan berkutat di papan tengah. Sekarang ini mereka hanya mampu menduduki peringkat ke-13 dengan hanya sekali mengantongi kemenangan dari enam pertandingan.

Lebih berbahaya lagi di ajang Liga Champions. Sulit bagi Manchester United bersaing dengan klub-klub elite dunia dengan kualitas seperti ini. Klub sekelas Manchester City saja dihajar 2-4 oleh Paris St Germain di kandang mereka. Sekarang tinggal berpulang, mau jadi apa Manchester United?



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *