
MUSIM kemarau panjang semakin meluas di berbagai daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya, memasok air bersih diperuntukkan bagi 33.855 Kepala Keluarga (KK) atau 105.703 jiwa terdampak krisis air di 53 Kelurahan dari 69 tersebar 10 Kecamatan. Kekeringan tersebut, menyebabkan ratusan sumur milik warga menyusut drastis.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Tasikmalaya, Budi Martanova Apatar mengatakan, bencana El Nino semakin meluas hingga terdampak di 53 Kelurahan tersebar 10 Kecamatan. Kekeringan tersebut, BPBD pasok air bagi 105.704 jiwa atau 33.855 Kepala Keluarga (KK) dilakukan di 248 titik pengiriman atau 489 rit air bersih.
“Fenomena El Nino semakin kering sudah mencakup 10 Kecamatan hingga pasokan air bersih gratis yang diberikan mencapai 2.213.000 liter. Kebutuhan tersebut, untuk meringankan beban bagi masyarakat dan diperuntukkan untuk minum, masak, cuci pakaian, wudlu dan lantaran ratusan sumur mengalami menyusutan dan kondisinya kering,” ujar, Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya, Budi Martanova Apatar, Selasa (13/10/2026).
Budi mengatakan, musim kemarau yang terjadi semakin kering dan krisis air bersih meluas menyebabkan setengah warga Kota Tasikmalaya mengandalkan bantuan lantaran sumur mereka kering Namun, krisis air bersih terdampak di 53 kelurahan dari jumlah keseluruhan 69 dan kebutuhan tersebut dipasok setiap hari hingga larut malam demi kemanusian.
“Kebutuhan air bersih gratis dipasok ke pelosok perkampungan, pesantren, rumah sakit, sekolah, perkantoran, perbankan dan yang lain. Pendistribusian air bersih tidak hanya dilakukan BPBD, tapi berbagai pihak turut membantu supaya air yang diberikan dapat bermanfaat sesuai kebutuhan hingga mereka harus hemat air,” katanya.
Sementara itu, Solihin (48) warga Kecamatan Tamansari mengatakan, musim kemarau panjang yang terjadi semakin parah hingga membuat sumur miliknya kering dan sudah terjadi sejak 6 bulan. Namun, kebutuhan air bersih mengandalkan bantuan dari BPBD diperuntukkan untuk minum, masak, cuci pakaian, wudlu dan buang air.
“Musim kemarau yang terjadi sangat parah dan lahan pertanian kekeringan tidak bisa ditanam lantaran saluran irigasi termasuk sungai serta Situ Cibeureum kering. Akan tetapi, adanya bantuan air hanya bisa untuk mandi, wudu dan separuhnya membeli air galon lantaran tidak cukup dalam waktu 4 hari meski kebutuhan air ditampung dalam jolang, ember besar, jerigen dan gentong,” pungkasnya. (AD)
