Dampak Karhutla di 7 Provinsi: Kasus ISPA Tembus 277 Ribu, 62 Ribu Balita Terdampak
Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026)(ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

BENCANA kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda tujuh provinsi di Indonesia memicu krisis kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah menembus 277.075 kasus di 63 kabupaten/kota terdampak hingga 12 Oktober 2026.

Dari total ratusan ribu kasus tersebut, kelompok balita menjadi yang paling rentan, di mana 62.400 kasus (22,5 persen) dialami oleh anak-anak berusia 0 hingga 5 tahun.

“Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu ISPA, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis termasuk kelompok rentan,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Aji Muhawarman, Rabu (14/10).

Aji mengatakan jika anak mengalami sesak napas, napas cepat, sulit menyusu atau minum, segera bawa ke fasilitas kesehatan. Penggunaan nebulizer harus sesuai indikasi dan petunjuk tenaga medis, bukan dilakukan sembarangan secara mandiri.

Dampak asap karhutla yang berkepanjangan terhadap kesehatan mental. Kabut asap berkepanjangan dapat menimbulkan gangguan kesehatan jiwa, stres dan kecemasan karena aktivitas sosial ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan terganggu. 

“Karena itu, masyarakat perlu menjaga rutinitas dan aktivitas anak di dalam ruangan yang udaranya lebih bersih, serta memperhatikan perubahan perilaku atau gangguan tidur, pola makan dan sebagainya. Jika keluhan menetap dan mengganggu keseharian, segera konsultasikan dengan tenaga medis/kesehatan, jangan tunggu memburuk,” ujar dia.

Kemenkes menyarankan agar masyarakat yang wilayahnya terdampak asap perlu mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk. Jika harus keluar, gunakan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat untuk membantu menyaring partikel halus. 

Apabila tidak tersedia masker jenis tersebut, bisa gunakan masker medis atau masker kain secara berlapis agar lebih efektif menyaring udara. Bayi dan balita sebaiknya dilindungi dengan mengurangi paparan asap, bukan mengandalkan masker.

Kemenkes bersama pemerintah daerah telah memperkuat pemantauan penyakit, pelayanan kesehatan, kesiapan fasilitas kesehatan, serta distribusi logistik. Per 12 Oktober 2026, laporan mencatat mobilisasi 2.106 tenaga medis/kesehatan dan dukungan logistik berupa lebih dari 2,8 juta masker dari berbagai sumber distribusi pemerintah pusat dan daerah.

Kemenkes juga mendorong kesiapan layanan kesehatan dan perlindungan kelompok rentan di wilayah terdampak. Pemerintah daerah dapat mengoptimalkan fasilitas yang memungkinkan untuk menjadi ruang aman dari asap, dilengkapi penyaring udara yang sesuai dan akses pelayanan kesehatan, terutama bagi bayi, balita, serta ibu hamil. Beberapa daerah terdampak telah menyediakan ruang oksigen.

“Pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kualitas udara dan kebutuhan masyarakat setempat, melalui koordinasi OPD seperti dinas kesehatan, BPBD, dan perangkat daerah terkait. Bagi warga yang rumahnya sulit terlindung dari asap, akses ke ruang dengan udara lebih bersih menjadi penting,” pungkasnya. 

(P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *