
SEORANG siswa sekolah menengah asal Israel tewas dan dua lusin orang lainnya mengalami luka-luka akibat ledakan yang diduga berasal dari sisa bom milik kelompok Hizbullah. Insiden tragis ini terjadi saat rombongan sekolah sedang melakukan kegiatan mendaki di kawasan dekat perbatasan Libanon pada hari Senin.
Militer Israel meluncurkan helikopter ke lokasi kejadian pasca-insiden. Berdasarkan hasil tinjauan awal militer, ledakan tersebut kemungkinan besar dipicu oleh amunisi milik kelompok militan Libanon yang belum meledak saat pertempuran terdahulu.
Pihak kepolisian Israel mengungkapkan bahan peledak yang diduga berupa bom cluster (cluster bomb) dari rangkaian pertempuran tiga tahun lalu itu meledak di tangan seorang siswa yang mengambilnya. Polisi menambahkan otoritas sekolah sebenarnya telah mengantongi izin resmi untuk menggelar kegiatan luar ruangan di wilayah tersebut.
“Saya berbagi duka mendalam dengan keluarga anak laki-laki yang tewas dalam ledakan saat perjalanan di dekat perbatasan utara, dan saya mendoakan kesembuhan yang cepat dan penuh bagi semua korban luka,” tulis Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam unggahannya di media sosial X, sembari menambahkan bahwa insiden ini sedang diselidiki.
Otoritas Israel menyebutkan bahwa korban tewas diperkirakan berusia 14 atau 15 tahun. Sementara itu, layanan darurat Magen David Adom (MDA) melaporkan sebanyak 24 orang lainnya mengalami luka-luka dalam ledakan tersebut, termasuk dua remaja laki-laki yang berada dalam kondisi parah akibat luka tembus serpihan bom.
Teknisi medis darurat MDA, David Radko, menggambarkan situasi mencekam saat dirinya pertama kali tiba di lokasi kejadian.
“Para korban bergelimpangan di sepanjang jalan, beberapa di antaranya memegang dan mencoba menolong teman-teman mereka yang terluka,” kata David Radko dalam sebuah pernyataan resmi.
“Beberapa bahkan memasang tourniquet pada teman-teman mereka untuk menghentikan pendarahan,” lanjutnya.
Seluruh korban luka langsung dievakuasi ke tiga pusat medis di wilayah utara Israel. Rekaman video dari Rumah Sakit Ziv di Kota Safed memperlihatkan petugas medis bergegas memindahkan para korban luka menggunakan tandu roda dari ambulans ke dalam fasilitas kesehatan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pendidikan Yoav Kisch dilaporkan turut menjenguk sejumlah siswa yang dirawat di Rumah Sakit Rambam, Haifa.
Pemerintah Kotamadya Maalot-Tarshiha mengonfirmasi insiden tersebut menimpa para siswa dan staf dari sekolah menengah keagamaan yang sedang mengadakan perjalanan.
Peristiwa ini kembali memicu desakan keamanan di dalam negeri. Yair Golan, pimpinan partai oposisi Demokrat yang berhaluan tengah-kiri, menegaskan bahwa pertempuran berkala dengan Hizbullah selama tiga tahun terakhir telah mencemari wilayah perbatasan utara Israel dengan bahaya yang tidak boleh diabaikan. Ia mendesak otoritas terkait untuk segera melakukan pemeriksaan menyeluruh di area jalur pendakian di utara serta membersihkan sisa-sisa amunisi yang belum meledak.
Sebelumnya, Israel dan Libanon telah menyepakati kerangka perjanjian pada Juni lalu yang mencakup perlucutan senjata Hizbullah, penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah selatan, serta penempatan tentara Libanon di kawasan tersebut. Meskipun kekerasan di area perbatasan sempat menurun sejak kesepakatan tersebut, ancaman dari amunisi aktif yang tertinggal di lapangan masih menjadi bahaya nyata bagi warga sipil. (AFP/Z-2)
