Serangan Houthi di Riyadh Ancam Visi 2030 Mohammed bin Salman
Peta Arab Saudi.(Al Jazeera)

PUTRA Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), mengawali tahun ini dengan optimisme tinggi setelah kunjungan ke Gedung Putih dan dukungan dari Presiden Donald Trump. Namun, eskalasi serangan dari milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman kini menjadi ancaman nyata bagi keamanan kerajaan dan rencana ambisius transformasi ekonomi nasional.

Serangan Mematikan di Jantung Ibu Kota

Pada Sabtu (10/10), setidaknya satu rudal Houthi menghantam bandara internasional di Riyadh, menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai ratusan lain. Insiden ini tercatat sebagai serangan paling mematikan terhadap sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk dalam konflik yang berkaitan dengan perang Iran.

Laporan menyebutkan seorang pramugari asal Mesir tewas akibat luka parah. Sementara itu, dua terminal bandara mengalami kerusakan signifikan dengan atap yang runtuh sebagian.

Otoritas setempat melaporkan serangan lanjutan pada Minggu (11/10) yang menyebabkan kebakaran di Terminal 4, menambah daftar korban jiwa dan luka-luka. Meskipun pejabat Saudi sebelumnya mengeklaim situasi terkendali, intensitas serangan yang mencapai jarak lebih dari 500 mil dari wilayah Houthi mengubah sebagian Riyadh menjadi zona pertempuran.

Ancaman terhadap Visi 2030 dan Ekonomi

Konflik itu membahayakan upaya Arab Saudi untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai pilar ekonomi baru. Konferensi investasi internasional yang dijadwalkan akhir bulan ini kini berada dalam ketidakpastian. Biaya perang yang membengkak telah memperlebar defisit anggaran dan mengancam pertumbuhan ekonomi ke arah kontraksi.

Beberapa dampak ekonomi yang mulai terlihat antara lain:

  • Investasi Asing: Realisasi investasi asing pada dua kuartal pertama tahun ini merosot dan jauh di bawah target Visi 2030.
  • Proyek Megastruktur: Proyek triliunan dolar seperti kota futuristik Neom dan resor ski gurun kini menghadapi tantangan pendanaan yang berat.
  • Pertumbuhan PDB: Kementerian Keuangan Saudi memproyeksikan PDB akan menyusut sebesar 3,6% pada tahun 2026.
  • Sektor Non-Minyak: Ekonomi non-minyak tercatat lebih kecil pada kuartal kedua dibandingkan kuartal pertama tahun ini.

Dilema Militer dan Diplomatik

Putra Mahkota MBS kini menghadapi pilihan sulit. Pakar Teluk dari Baker Institute, Kristian Coates Ulrichsen, menilai bahwa respons militer apa pun berisiko menarik Saudi lebih dalam ke dalam konflik asimetris yang merugikan secara simbolis. Di sisi lain, stok pencegat rudal (interceptor) milik kerajaan dilaporkan mulai menipis akibat intensitas serangan yang terus-menerus.

Meskipun memiliki hubungan dekat dengan Trump, permintaan bantuan militer langsung dari AS untuk memukul mundur kemajuan Houthi belum sepenuhnya terpenuhi, meski penasihat militer telah dikirim. Saat ini, Riyadh dilaporkan tengah mencari bantuan pertahanan udara dari sekutu lain seperti Pakistan dan menjajaki kemungkinan solusi diplomatik untuk meredam konflik.

Konteks Keamanan: Serangan Houthi tidak hanya menyasar bandara, tetapi juga infrastruktur energi vital termasuk pipa minyak Timur-Barat dan kilang-kilang utama, yang bertujuan memutus jalur ekspor alternatif Saudi di luar Selat Hormuz.

Keberhasilan Mohammed bin Salman dalam menangani krisis ini akan memiliki konsekuensi luas, mengingat posisi Arab Saudi sebagai penyokong dana utama industri teknologi global dan mitra strategis militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. (The Wall Street Journal/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *