Sebuah fenomena unik sekaligus menggelitik jagat media sosial tengah menjadi sorotan. Seorang livestreamer asal Tiongkok bernama Fanqie Jiang Ye menjadi perbincangan hangat setelah mengizinkan penontonnya mengendalikan gerakan fisik dirinya secara langsung lewat fitur gift berbayar.
Cuplikan video yang beredar memperlihatkan kursi yang diduduki sang streamer berputar secara otomatis setiap kali ada penonton yang mengirimkan uang sebesar 50 Yuan (sekitar $7,50 atau Rp120 ribuan).
Baca juga: RTX 5090 Bakal Disuntik Mati? Chip GB202 Dialihkan Khusus Kartu Profesional!
Aksi ini mengubah konsep livestreaming dari yang tadinya sekadar tontonan pasif menjadi atraksi di mana penonton bisa membeli kontrol atas tindakan fisik sang kreator.
Una streamer china llamada Fanqie Jiang Ye te cobra 7.5 dólares por hacerla girar y a su público le encantó y no paran de hacerla girar. Que roto está todo. https://t.co/q2UOJJGqlo
— Leno (@BurgerFcts) October 8, 2026
Meskipun klip tersebut viral, beberapa detail teknis mengenai keaslian dan mekanisme kerja sistem ini masih menyisakan teka-teki:
- Infrastruktur Software & Hardware: Belum terverifikasi jenis alat atau motor penggerak apa yang terpasang di bawah kursi sang streamer, serta bagaimana software interaksi di platform tersebut terhubung secara instan ke penggerak fisik.
- Manajemen Antrean Pembayaran: Belum jelas bagaimana sistem merespons jika ada puluhan penonton yang mengirimkan uang secara bersamaan dalam waktu berdekatan—Apakah durasi putaran otomatis menumpuk, atau ada jeda keselamatan (cooldown).
- Kendali Kontrol Kreator: Tidak diketahui apakah sang streamer memiliki tombol darurat (emergency pause) untuk menghentikan putaran jika ia merasa pusing atau tidak nyaman.
Reaksi Netizen: Menyerempet Konsep Serial ‘Black Mirror’
Sontak, fenomena ini memicu perdebatan panas di kalangan netizen. Banyak yang langsung mengaitkan kejadian ini dengan salah satu episode dari serial antologi sci-fi populer Netflix, Black Mirror, khususnya episode “Common People” di Season 7.
Pada episode fiksi tersebut, sang tokoh utama rela melakukan tindakan berbahaya dan merendahkan diri secara live demi mendapatkan uang dari penonton yang membayar.
Meskipun kasus Fanqie Jiang Ye jauh dari kata berbahaya atau se-ekstrem kisah di serial TV, tren ini memicu pertanyaan etis yang mendasar: Sejauh mana pembayaran penonton boleh membeli kendali atas tindakan fisik seorang manusia di layar kaca?
Batas antara hiburan interaktif yang kreatif dan eksploitasi demi konten makin tipis di era livestreaming modern. Kasus Fanqie Jiang Ye menjadi contoh nyata bagaimana teknologi dan dorongan ekonomi bisa menciptakan dinamika interaksi baru yang unik, seru, sekaligus membuat kita merenungkan etika di balik industri hiburan digital.
