Alma Hernandez dan Realitas Kelam Ancaman Kekerasan Pejabat AS
Ilustrasi.(Magnific)

RUMAH Alma Hernandez dulu menjadi tempat perlindungan yang damai. Kini, tempat tinggalnya lebih menyerupai benteng pertahanan. Dalam beberapa tahun terakhir, anggota parlemen negara bagian Arizona ini memasang kamera pengawas, alarm, hingga kunci pintu dengan sensor sidik jari. Jendelanya kini dipasangi jeruji besi, dan lampu sorot yang menyilaukan terpasang di teras depan.

Hernandez bahkan harus menebang dua pohon di halamannya setelah polisi memperingatkan bahwa pohon tersebut bisa membantu penyusup masuk. Ketika ancaman pembunuhan semakin intens, saudara laki-lakinya terpaksa pindah ke rumahnya untuk memberikan perlindungan ekstra. Menjabat sebagai wakil rakyat sejak 2019, Hernandez tidak pernah menyangka bahwa pekerjaan ini akan memaksanya untuk terus waspada setiap saat.

“Politisi tidak lagi diperlakukan seperti manusia,” ujar Hernandez, politikus Demokrat berusia 33 tahun yang merupakan keturunan Meksiko-Amerika dan beragama Yahudi.

Ancaman dari Berbagai Sisi

Sebagai anggota parlemen termuda yang pernah terpilih di Legislatur Arizona, Hernandez menerima ancaman dari spektrum politik kiri jauh maupun kanan jauh. Intimidasi ini muncul sebagai reaksi atas dukungannya terhadap Israel, advokasi vaksin, hingga kampanye pertamanya yang menarik perhatian mantan pemimpin Ku Klux Klan, David Duke.

Ancaman kekerasan mengalir melalui media sosial, email, hingga telepon kantor. Alamat rumahnya disebarkan secara daring dan ibunya menerima panggilan telepon yang mengancam.

Tahun lalu, mobil seorang asisten yang diparkir di depan rumahnya ditembaki. Tahun ini, polisi negara bagian menyelidiki pesan media sosial yang mengancam akan menyiksa dan membunuh Hernandez, teman-temannya, hingga salah satu anjing peliharaannya.

Kondisi ini tidak hanya mengubah kehidupan pribadinya, tetapi juga memengaruhi kebijakan politiknya. Hernandez, yang memiliki gelar master di bidang kesehatan masyarakat, menyatakan tidak akan lagi mensponsori undang-undang pro-vaksin setelah menerima gelombang pelecehan yang luar biasa. “Saya bertanya pada diri sendiri, ‘Apakah ini benar-benar sepadan?'” tuturnya.

Kasus Hernandez mencerminkan tren yang lebih luas di Amerika Serikat. Investigasi The New York Times menemukan bahwa politisi profil tinggi hingga pejabat tingkat lokal menghadapi pelecehan kekerasan yang konsisten. Survei tahun 2026 oleh Universitas Princeton dan CivicPulse menunjukkan hampir 20 persen dari 460 pejabat lokal melaporkan menerima ancaman dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Di Arizona, ketegangan politik sangat terasa. Di Maricopa County, ancaman pembunuhan melonjak setelah pemilu 2020 akibat teori konspirasi kecurangan pemilu. Seorang pengawas wilayah bahkan didiagnosis menderita PTSD dan memilih tidak mencalonkan diri kembali.

Data Ancaman di Arizona:

  • 57 ancaman terkonfirmasi terhadap pejabat wilayah dan kota sejak 2022 (Bridging Divides Initiative).
  • Senator Wendy Rogers (Republik) diancam akan ditembak di kepala pada 2022.
  • Senator Analise Ortiz (Demokrat) terpaksa tinggal di lokasi rahasia selama dua minggu setelah menerima ancaman gantung.

Dampak Psikologis dan Masa Depan Politik

Kekerasan politik bukanlah hal baru bagi keluarga Hernandez. Saudara laki-lakinya, Daniel Hernandez, ialah saksi mata sekaligus pemberi pertolongan pertama saat anggota Kongres Gabrielle Giffords ditembak di Tucson pada 2011. Daniel, yang kemudian menjadi anggota parlemen, mengaku terkejut dengan tingkat kebencian, terutama antisemitisme, yang kini diarahkan pada saudara-saudaranya.

Situasi ini membuat Alma Hernandez dan pasangannya, Sam Segal, ragu untuk membangun keluarga. “Apakah kami merasa aman membawa keluarga ke lingkungan seperti ini? Sejujurnya, jawabannya saat ini adalah tidak,” kata Hernandez.

Meskipun Hernandez dijadwalkan akan bertugas di Senat Negara Bagian jika memenangkan pemilu November mendatang, ia mengaku jika bisa memutar waktu, ia mungkin akan memilih jalur karier yang lebih tenang. “Saya akan memberi tahu Alma sembilan tahun lalu, ‘Tunggu. Pergilah jalani hidupmu.’ Ini bukan masa yang mudah,” pungkasnya. (New York Times/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *