Kemarau Panjang dan Hama Tikus di Boyolali Buat Harga Beras Melambung
Pasokan beras mulai berkurang di pasar.(MI/Widjajadi)

KOMBINASI musim kemarau panjang dan ganasnya serangan hama tikus kini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan lokal di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Fenomena alam dan gangguan hama ini tidak hanya memicu gagal tanam, tetapi juga menyebabkan kelangkaan pasokan beras yang berujung pada melambungnya harga berbagai kebutuhan pokok.

Di Pasar Kota Boyolali, merosotnya pasokan beras dari tingkat petani terasa sangat drastis bagi para pedagang. Sularmi, salah satu pedagang beras setempat, mengungkapkan bahwa persediaan beras yang masuk ke pasaran menurun tajam hingga lebih dari separuh dari volume biasanya.

“Dulu biasanya disetor 2 sampai 3 kuintal, sekarang dapat 1 kuintal saja barangnya jarang ada,” beber Sularmi, Minggu (11/10/2026).

Sawah Kering dan Teror Tikus

Minimnya pasokan beras ini merupakan dampak langsung dari kondisi lahan pertanian yang mengalami kekeringan ekstrem sekaligus terjangan hama tikus. Kurangnya pasokan air membuat para petani enggan mengambil risiko gagal panen padi, sehingga terpaksa mengalihkan lahan untuk ditanami komoditas palawija yang lebih tahan panas.

Akibat terganggunya produksi di tingkat hulu, pasokan beras terputus dan mendongkrak harga di pasar-pasar utama di Boyolali. Dalam sebulan terakhir, harga beras naik rata-rata sebesar Rp1.000 per kilogram.

Saat ini, kisaran harga beras di Pasar Kota Boyolali berada pada rentang Rp13.000 hingga Rp19.000 per kg. Beras premium jenis Rojolele telah menyentuh harga di atas Rp19.000 per kg. Sementara itu, beras kelas menengah berada di kisaran Rp16.000 – Rp17.000 per kg, dan beras SPHP (Subsidi) dipatok seharga Rp13.000 per kg sebagai pilihan termurah.

Sayuran Turut Melambung dan Berkualitas Kering

Dampak cuaca ekstrem juga merembet pada komoditas sayuran. Keterbatasan pasokan dari daerah penghasil memicu lonjakan harga yang signifikan. Cabai rawit merah, cabai merah keriting, dan cabai merah teropong kini menembus Rp80.000 per kg, naik 100 persen dari harga normal Rp40.000 per kg.

Selain mahal, kualitas cabai yang beredar diakui pedagang cenderung kering dan kurang segar akibat cuaca panas. Komoditas brokoli juga melambung tinggi hingga Rp30.000 per kg dari harga normal Rp10.000 – Rp15.000 per kg. Kenaikan serupa terjadi pada bawang merah, bawang putih, wortel, labu siam, hingga sawi putih.

Siasat Bertahan Masyarakat

Kondisi pasokan yang terbatas dan harga yang serba mahal memaksa masyarakat serta pelaku usaha kecil memutar otak. Haryati, seorang ibu rumah tangga, mengeluhkan pengeluaran belanjanya yang membengkak drastis akibat seluruh kebutuhan dapur naik serentak.

Untuk menyiasati situasi sulit ini, para pelaku usaha kuliner seperti pedagang nasi goreng mulai mengoplos atau mencampur beras kualitas menengah dengan beras biasa agar tetap bisa berjualan. Sementara itu, konsumen rumah tangga banyak yang beralih memburu beras program SPHP seharga Rp13.000 per kg demi menekan pengeluaran harian. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *