
Digitalisasi operasional menjadi salah satu kebutuhan penting bagi pelaku usaha makanan dan minuman (F&B) di Indonesia, terutama ketika bisnis berkembang dari satu gerai menjadi jaringan restoran dengan banyak cabang. Pemanfaatan teknologi pengelolaan usaha dapat membantu meningkatkan efisiensi, mengendalikan persediaan, serta memperkuat daya saing usaha di tengah persaingan industri kuliner.
Perusahaan teknologi sistem kasir atau point of sale (POS), Ideku, mencatat pertumbuhan bisnis hingga delapan kali lipat sejak 2024. Perusahaan yang beroperasi di Indonesia dan Singapura tersebut kini memperluas pasar dengan menyasar usaha kuliner independen, restoran multioutlet, hingga jaringan waralaba yang membutuhkan sistem operasional terintegrasi.
Chief Executive Officer (CEO) Ideku Indonesia Samuel Tanuwidjaja mengatakan pengelolaan restoran memiliki tingkat kompleksitas tinggi karena melibatkan banyak proses, mulai dari penerimaan pesanan, pengolahan makanan, pengendalian bahan baku, hingga pelaporan penjualan.
Menurut dia, sebagian pelaku usaha masih menggunakan perangkat terpisah dan proses manual yang menyulitkan pemantauan kinerja bisnis secara menyeluruh.
“Tujuan kami adalah menghadirkan teknologi yang sesuai dengan realitas bisnis F&B, mulai dari satu kafe hingga grup waralaba multioutlet, sehingga pemilik usaha dapat lebih fokus mengembangkan bisnisnya,” ujar Samuel, di Tangerang, Minggu (11/10/2026).
Melalui pengembangan solusi Restaurant Management Solution, perusahaan berupaya mengintegrasikan proses bisnis restoran dalam satu sistem. Teknologi tersebut memungkinkan pemilik usaha memantau penjualan, persediaan, pengelolaan menu, serta kinerja setiap cabang secara lebih terstruktur.
Sistem juga mendukung pemesanan daring melalui tautan yang dibagikan di media sosial. Pesanan pelanggan dapat diteruskan ke sistem kasir dan dapur, sehingga proses persiapan makanan hingga pengambilan pesanan dapat dipantau dengan lebih baik.
Salah satu tantangan yang menjadi perhatian adalah sinkronisasi pesanan dan persediaan pada restoran dengan banyak lantai atau cabang. Ketidaksesuaian data dapat menyebabkan pesanan terlewat, keterlambatan pelayanan, hingga kehabisan bahan baku ketika permintaan sedang tinggi.
Untuk menjaga keberlangsungan operasional, sistem berbasis cloud yang dikembangkan Ideku juga dirancang agar tetap dapat digunakan ketika koneksi internet terputus. Data transaksi dapat disimpan sementara pada perangkat dan disinkronkan kembali setelah koneksi pulih. Perusahaan menyebut infrastruktur penyimpanan datanya memanfaatkan layanan Google di Indonesia.
Di sisi lain, Ideku mulai menyiapkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat proses pendaftaran menu. Teknologi ini dirancang untuk mengubah foto makanan, gambar daftar menu, atau tulisan menjadi data menu digital yang dapat dimasukkan ke sistem kasir. Langkah tersebut diharapkan memangkas waktu persiapan operasional bagi pelaku usaha yang memiliki banyak pilihan menu.
Perusahaan juga menyediakan pilihan layanan sesuai skala usaha, termasuk sistem kasir berbasis telepon pintar Android dengan biaya mulai Rp199.000 per tahun untuk segmen usaha mikro. Sementara itu, restoran besar dapat menggunakan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan perangkat, integrasi sistem, dan pengelolaan banyak cabang.
Ekspansi pasar turut dilakukan melalui partisipasi dalam FLEI Business Show 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, pada 9–11 Oktober 2026. Pameran tersebut dimanfaatkan untuk memperluas jaringan dengan pemilik usaha dan calon mitra waralaba.
Samuel mengatakan pertumbuhan bisnis ke depan akan diarahkan pada penguatan layanan dan pengembangan teknologi sesuai kebutuhan pelanggan. Setelah memperluas pasar di Indonesia dan Singapura, perusahaan juga menyiapkan ekspansi ke Malaysia.
Upaya tersebut mencerminkan semakin besarnya kebutuhan pelaku usaha terhadap teknologi yang tidak hanya mencatat transaksi, tetapi juga membantu pengambilan keputusan, menjaga efisiensi, dan mempersiapkan bisnis untuk berkembang ke skala yang lebih besar. (H-2)
