
Pentagon akhirnya mengakui pada Jumat (9/10) malam bahwa jumlah tentara Amerika Serikat yang tewas di Timur Tengah selama operasi melawan Iran lebih tinggi dari yang dilaporkan sebelumnya. Departemen Pertahanan AS kini memperbarui penghitungan resmi dengan memasukkan dua kematian non-tempur tambahan.
Langkah ini menyusul laporan eksklusif The Washington Post bulan lalu yang mengungkap bahwa jumlah personel militer yang gugur melampaui data publik dalam sistem Defense Casualty Analysis System (DCAS). Meski Menteri Pertahanan Pete Hegseth sempat menyebut laporan tersebut sebagai kebohongan total di media sosial, Pentagon kini secara resmi menaikkan angka kematian di DCAS.
Rincian Korban dan Data Terbaru
Hingga Jumat, total kematian tentara yang dikaitkan oleh pemerintah dengan operasi melawan Iran mencapai 21 jiwa. Angka ini mencakup dua kematian non-tempur tambahan, yaitu:
- Mayor Sorffly Davius, 46: Anggota Garda Nasional Angkatan Darat yang meninggal di Kuwait pada 6 Maret.
- Personel Angkatan Laut: Satu kasus bunuh diri yang tidak disebutkan identitasnya yang terjadi pada bulan September.
Selain korban jiwa, data terbaru DCAS mencatat sebanyak 865 personel militer mengalami luka-luka. Militer juga mengakui satu kematian tambahan akibat kecelakaan latihan di Irak pada bulan Mei, yakni Sersan Devin A. Seibel, 26. Namun, kematian Seibel dicatat di bawah Operation Inherent Resolve (operasi melawan ISIS) dan bukan bagian dari operasi langsung terhadap Iran, sehingga total tentara yang tewas di Timur Tengah sejak 28 Februari mencapai 22 orang.
Kritik dari Kongres: Anggota komite House Armed Services, Adam Smith dan Chrissy Houlahan, menyatakan bahwa kesalahan dalam pelaporan data sebesar ini tidak dapat dimaafkan dan menyebut keterlibatan Kongres untuk mengoreksi angka tersebut sebagai hal yang memalukan bagi militer.
Perubahan Sistem Pelaporan
Dalam pernyataannya, Pentagon tidak secara eksplisit mengakui ada kesalahan angka sebelumnya, tetapi menyatakan tengah melakukan revisi pada cara DCAS melaporkan korban. Salah satu pembaruannya adalah kategori baru bernama pending adjudication untuk memproses pelaporan korban secara lebih teliti.
Transparansi mengenai jumlah korban selama ini menjadi sorotan karena adanya perubahan cara penghitungan di tengah konflik oleh pemerintahan Trump. Kritikus menilai perubahan ini merupakan upaya untuk menyembunyikan biaya nyata dari personel militer yang terlibat.
Kebingungan data DCAS juga dipicu oleh pernyataan Presiden Trump awal tahun ini yang menyebut Operation Epic Fury telah berakhir, meskipun kontak senjata antara AS dan Iran masih terus berlangsung. Akibatnya, Pentagon menciptakan kategori baru untuk korban luka dan tewas yang tidak terikat pada operasi tersebut, melainkan dimasukkan ke dalam kategori operasi kontingensi luar negeri. (The Washington Post/I-2)
