Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali pada Jumat 9 Oktober 2026
Gunung Anak Krakatau erupsi.(Antara)

Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dilaporkan mengalami erupsi sebanyak dua kali pada Jumat (9/10/2026). Peningkatan aktivitas vulkanik ini memicu pengawasan intensif dari pihak berwenang guna memantau perkembangan kondisi gunung api tersebut secara berkelanjutan.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, mengonfirmasi bahwa erupsi terjadi pada petang hari. Namun, secara visual, tinggi kolom abu tidak dapat teramati dengan jelas.

“Telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau, Lampung Selatan, pada 9 Oktober 2026 pukul 18.28 WIB dan 18.34 WIB. Tinggi kolom erupsi tidak teramati,” ujar Suwarno dalam keterangannya, Jumat.

Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih bertahan pada Status Level II atau Waspada. Sehubungan dengan status tersebut, otoritas terkait mengeluarkan rekomendasi keselamatan ketat bagi masyarakat, wisatawan, maupun pendaki.

Rekomendasi Keselamatan:

Masyarakat dan pengunjung dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas apa pun dalam radius dua kilometer dari kawah aktif guna menghindari potensi bahaya vulkanik.

Suwarno menjelaskan bahwa pemantauan aktivitas dilakukan secara nonstop selama 24 jam, baik melalui pengamatan visual maupun instrumental. Data yang diperoleh dari hasil pemantauan ini menjadi basis utama dalam menentukan langkah mitigasi serta mengantisipasi segala potensi ancaman bahaya yang mungkin timbul.

Selain larangan mendekati kawah, Suwarno juga memberikan peringatan khusus kepada para nelayan yang beroperasi di perairan Selat Sunda. Para nelayan diminta untuk selalu memperbarui informasi mengenai aktivitas gunung api dan memperhatikan kondisi cuaca sebelum memutuskan untuk melaut.

Pihak Pos Pantau turut mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Warga diharapkan hanya mengacu pada keterangan resmi dari lembaga berwenang untuk menghindari kesimpangsiuran informasi.

“Kami berharap kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan dan pemantauan informasi secara berkala dapat membantu mengurangi risiko bencana serta menjaga keselamatan masyarakat di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau,” pungkas Suwarno. (Ant/E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *