
PERILAKU konsumen dalam memilih produk kecantikan semakin beragam. Tidak lagi sekadar mempertimbangkan fungsi produk, konsumen juga memperhatikan kebutuhan pribadi, perkembangan tren, serta pengalaman pengguna lain sebelum menentukan produk yang akan digunakan dalam rutinitas perawatan sehari-hari.
Perubahan tersebut mencerminkan berkembangnya preferensi konsumen terhadap produk kecantikan dan perawatan diri. Pilihan produk tidak lagi terbatas pada perawatan wajah atau kosmetik, tetapi juga mencakup perawatan tubuh, rambut, hingga wewangian yang disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya hidup masing-masing.
Perkembangan ini terlihat dari data internal Sociolla yang menunjukkan pertumbuhan pembelian pada sejumlah kategori produk kecantikan sepanjang periode pengamatan perusahaan pada 2026.
Kategori makeup mencatat pertumbuhan pembelian sebesar 44%, diikuti hair care atau perawatan rambut sebesar 20%, skincare atau perawatan kulit 18%, serta body care atau perawatan tubuh 10%. Sementara itu, kategori fragrance atau wewangian mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 144%.
Data tersebut menunjukkan adanya dinamika preferensi konsumen dalam ekosistem Sociolla, dengan pertumbuhan pembelian yang berbeda pada setiap kategori produk.
Co-founder dan Chief Marketing Officer Social Bella Indonesia, Chrisanti Indiana, mengatakan perkembangan industri kecantikan semakin dipengaruhi oleh cara konsumen mencari informasi, memilih produk, hingga membagikan pengalaman setelah menggunakannya.
“Sebagai beauty ecosystem, kami memiliki kesempatan untuk melihat beauty dari berbagai sisi, mulai dari apa yang konsumen cari, pilih, reviu, hingga bagaimana sebuah produk berkembang dan mendapatkan perhatian di tengah perubahan tren,” ujar Chrisanti.
Menurut dia, memahami perilaku konsumen tidak cukup hanya dengan melihat popularitas suatu produk. Pengalaman pengguna, kinerja merek, serta perkembangan tren juga perlu diperhatikan untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kebutuhan pasar.
“Kami menggabungkan real user review, strong brand performance, dan SOCO Insight Factory Data & Trend untuk mendapatkan perspektif yang lebih holistik mengenai produk dan brand yang memiliki tempat dalam beauty routine konsumen,” katanya.
Pendekatan tersebut memperlihatkan pentingnya pengalaman konsumen dalam perkembangan industri kecantikan. Ulasan pengguna dapat menjadi salah satu sumber informasi bagi calon pembeli yang ingin mengetahui karakteristik produk sebelum memutuskan pembelian.
Di sisi lain, keberagaman pilihan produk juga memungkinkan konsumen membangun rutinitas kecantikan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Perubahan preferensi ini turut menjadi perhatian Sociolla dalam penyelenggaraan Sociolla Awards 2026 yang mengusung tema Choice. Culture. Icons. — Defining Beauties Forward. Ajang penghargaan yang pertama kali diperkenalkan pada 2019 tersebut kembali menggunakan pendekatan berbasis data dan pilihan konsumen untuk melihat perkembangan produk kecantikan di Indonesia.
Salah satu rangkaiannya adalah Sociolla 100 Hotlist 2026, yakni daftar 100 produk kecantikan hasil kurasi yang mencakup 25 kategori. Kategori tersebut meliputi produk perawatan kulit, kosmetik, perawatan tubuh, perawatan rambut, hingga wewangian.
Berbeda dari daftar produk yang hanya didasarkan pada popularitas, proses kurasi Sociolla 100 Hotlist mempertimbangkan sejumlah aspek, termasuk ulasan pengguna, kinerja merek, data konsumen, dan perkembangan tren.
Melalui pendekatan tersebut, perusahaan berupaya memahami bagaimana suatu produk dipilih, digunakan, serta memperoleh respons dari konsumen.
Chrisanti menjelaskan, pilihan konsumen memiliki peran dalam membentuk perkembangan tren kecantikan.
“Pada akhirnya, beauty selalu dimulai dari pilihan. Ketika pilihan tersebut dilakukan oleh banyak orang, pilihan itu dapat menciptakan tren, membentuk culture, dan menjadikan produk tertentu sebagai bagian dari keseharian konsumen,” ujarnya.
Menurut dia, pilihan yang dilakukan konsumen secara kolektif dapat memberikan gambaran mengenai produk yang memiliki relevansi dalam rutinitas kecantikan masyarakat. Karena itu, Sociolla Awards tidak hanya diarahkan untuk memberikan pengakuan terhadap produk tertentu, tetapi juga menjadi sarana memahami perubahan preferensi konsumen.
Setelah melalui proses kurasi, sebanyak 100 produk dalam Sociolla 100 Hotlist 2026 memasuki tahap pemungutan suara untuk menentukan produk favorit pada tiap kategori. Pemungutan suara berlangsung secara daring mulai 28 September hingga 28 Oktober 2026 pukul 23.59 WIB dan terbuka bagi seluruh anggota SOCO yang telah terdaftar.
Setiap akun memiliki satu kesempatan untuk memilih minimal satu produk favorit pada setiap kategori. Pemenang Sociolla Awards 2026 dijadwalkan diumumkan pada 19 November 2026.
Chrisanti mengatakan keterlibatan konsumen dalam proses tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran lebih luas mengenai perkembangan industri kecantikan.
“Inilah yang ingin kami lihat melalui Sociolla Awards 2026, bukan hanya produk apa yang mendapatkan recognition, tetapi juga apa yang dapat kita pelajari dari pilihan konsumen tentang bagaimana beauty terus berkembang,” katanya.
Sociolla merupakan bagian dari ekosistem Social Bella Indonesia yang mengembangkan layanan kecantikan dan perawatan diri melalui kanal daring dan gerai fisik.
Saat ini, Sociolla memiliki lebih dari 190 toko omnichannel yang tersebar di lebih dari 80 kota di Indonesia. Melalui jaringan tersebut, perusahaan menggabungkan pengalaman berbelanja, ulasan pengguna, dan pemanfaatan data untuk memahami kebutuhan konsumen.
Perkembangan pembelian di berbagai kategori serta keterlibatan konsumen dalam memberikan ulasan dan memilih produk favorit menunjukkan bahwa rutinitas kecantikan semakin dipengaruhi oleh preferensi pribadi.
Bagi industri kecantikan, perubahan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam mengembangkan produk dan memahami kebutuhan konsumen yang semakin beragam. (E-1)
