Euforia Juara FIFA ASEAN Cup
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

TERAKHIR penutupan Asian Games 2018 saya datang langsung ke Stadion Utama Gelora Bung Karno. Sesudah delapan tahun, baru Senin lalu saya kembali masuk stadion yang bersejarah itu. Padahal di akhir 1980-an tempat itu menjadi keseharian saya sebagai wartawan olahraga Kompas.

Nostalgia Senin lalu menjadi istimewa karena saya mendapat undangan dari Ketua Umum PSSI Erick Thohir untuk menyaksikan final FIFA ASEAN Cup 2026. Lebih istimewa lagi, saya menjadi bagian dari kegembiraan tim ‘Garuda’ sebagai juara setelah memenangi drama adu penalti melawan Tailan 4-2.

Wajar apabila pendukung tim ‘Merah-Putih’, bukan hanya yang ada di dalam stadion, melainkan juga di seluruh Nusantara, merasakan euforia. Sudah 35 tahun lebih kesebelasan Indonesia tidak pernah bisa memenangi kejuaraan di level ASEAN sekalipun.

Tiga tahun lalu tim ‘Garuda’ pernah merebut medali emas SEA Games di Kamboja. Namun, SEA Games ajang tim di bawah usia 23 tahun, bukan tim senior seperti Senin lalu.

Pendukung tim ‘Garuda’ seperti tidak mau pulang setelah pertandingan berakhir. Mereka berkumpul untuk merayakan kemenangan sambil menyalakan flare sehingga menambah meriah suasana.

Tiga puluh lima tahun merupakan waktu yang sangat panjang. Lebih dari satu generasi kita menunggu datangnya juara. Setelah era Robby Darwis dan kawan-kawan, baru sekarang ini Indonesia bisa mengukuhkan diri sebagai yang terbaik di ASEAN.

Wajar apabila keberhasilan itu membangkitkan keinginan untuk mendapatkan gelar yang kedua. Ajang Piala Asia 2027 pantas menjadi target selanjutnya.

 

KERJA KERAS 

Ada dua catatan yang penting diperhatikan bagi peningkatan prestasi tim nasional ke depan. Pertama, sepak bola tidak hanya urusan tinggi badan, apalagi urusan ras. Sepak bola ialah soal kemampuan teknik, kecerdasan, ketahanan fisik, dan semangat bertanding.

Pada pertandingan final Senin lalu, pelatih Indonesia John Herdman tidak menurunkan satu pun pemain ‘asli’ Indonesia sebagai starter. Pelatih asal Inggris itu lebih memercayai pemain naturalisasi dengan Kevin Diks sebagai kapten kesebelasan.

Dengan fisik yang lebih tinggi dan sebagian besar bermain di liga Eropa, Herdman berpikir, mereka akan mudah mengalahkan Tailan. Apalagi fisik pemain lawan yang kecil seperti kapten kesebelasan Chanathip Songkrasin yang kalah tinggi dari Diks.

Namun, ternyata selama 45 menit pertama tidak ada satu pun gol yang bisa kita cetak. Pemain Tailan bermain dengan penuh disiplin sehingga membuat keunggulan fisik pemain Indonesia tidak banyak memberikan manfaat. Termasuk dalam memanfaatkan tendangan penjuru, tendangan bebas, ataupun lemparan bola ke dalam dari jauh, itu tidak banyak mengancam gawang Tailan.

Songkrasin, sebaliknya, memberikan pemahaman bahwa badan yang kecil bukanlah kendala. Ia justru bisa bergerak sangat lincah dan bisa meliuk-liuk di antara pemain Indonesia yang tinggi besar. Teknik bola yang baik bisa menjawab persoalan tinggi badan.

Memang mahabintang sepak bola tidak harus seperti Franz Beckenbauer yang tinggi be­sar. Diego Armando Mara­dona, Lionel Messi, dan se­karang Lamine Yamal secara fisik tidaklah tinggi. Namun, ketika mereka bergerak de­ngan bola, sulit bagi pemain lawan untuk menghentikan mereka.

Selama 45 menit pertama, Tailan bukan tidak pernah mengancam gawang Indone­sia. Kalau Songkrasin lebih te­nang, ia bisa menjebol gawang Emil Audero karena sudah berdiri bebas tidak terkawal di kotak penalti untuk menyam­but umpan silang.

Tailan juga pandai dalam memainkan umpan daerah. Diks yang bermain untuk Borussia Moenchengladbach, Jerman, beberapa kali ke­colongan. Penyerang sayap Tailan Kakana Khamyok bisa menyelinap dari belakang Diks yang langsung mengan­cam gawang Audero.

Gol balasan Tailan, 3 menit setelah tendangan bebas Dean James membentur badan pe­main lawan dan mengecoh kiper Saranon Anuin, di­akibatkan kelengahan Diks menjaga daerah. Kapten ke­sebelasan Indonesia itu ti­dak melihat Iklas Sanron yang datang dari belakang sehingga bisa bebas menjebol gawang Audero.

 

SEPULUH PEMAIN

Tailan mengajarkan juga pentingnya determinasi da­lam sepak bola. Bayangkan bermain 10 orang sejak Nicholas Mickelson terkena kartu merah di menit ke-81 dan tertinggal satu gol di me­nit ke-84, Tailan bisa bangkit dan bahkan membalikkan keadaan dengan dua gol yang mereka cetak dalam periode 15 menit.

Kalau Indonesia bisa me­maksakan tendangan adu penalti, itu juga disebabkan faktor determinasi. Dua pe­main ‘pribumi’ Egy Maulana Vikri dan Rizky Ridho yang masuk sebagai pemain peng­ganti menjadi penyelamat muka Indonesia.

Egy sangat lincah untuk mengoyak pertahanan kiri Tailan. Empat menit menje­lang pertandingan berakhir, Rizky Ridho bergerak tanpa bola ke kotak penalti Tailan dan Egy dengan satu sentuhan memberikan umpan tero­bosan ke kotak penalti yang langsung disambar Rizky Rid­ho ke mulut gawang Tailan.

Kiper Anuin masih men­coba mengeblok tendangan keras pemain asal Persija Ja­karta itu, tetapi bola tepisan­nya tidak terlalu jauh keluar kotak penalti. Bola muntah jatuh di depan kaki center-back Elkan Baggott yang langsung menendang ke gawang Tailan dan masuk setelah memben­tur bagian dalam atas gawang.

Hal kedua yang harus men­jadi catatan pelatih Herdman ialah janganlah terlalu ber­gantung hanya kepada pemain naturalisasi. Pemain asli Indo­nesia punya harga diri, punya kebanggaan, dan keinginan untuk memberikan yang ter­baik kepada bangsanya. Ke­tika pemain naturalisasi su­dah patah semangat, pemain pribumi masih menunjukkan determinasi untuk mencoba mengatasi ketinggalan. Me­reka pun berhasil.

Kita harus belajar dari pengalaman zaman Indonesia masih dijajah Belanda. Ke­tika Hindia Belanda tampil di Piala Dunia 1938, pelatih Johannes Masterbroek tidak menurunkan pemain berda­rah Belanda. Ia percayakan Sutan Anwar menjadi kapten kesebelasan.

Hanya tiga pemain berda­rah Belanda yang diturunkan menghadapi Hungaria, yaitu Frans Hukom, Jack Samu­els, dan Herman Zommers. Delapan pemain lainnya ialah pribumi Indonesia dan Tionghoa Indonesia.

Kita bukan ingin mem­pertentangkan antara pe­main Indonesia dan pemain naturalisasi. Yang kita ingin sampaikan, pemain natu­ralisasi itu haruslah menjadi katalisator, bukan solusi un­tuk meningkatkan prestasi sepak bola Indonesia.

Ukuran keberhasilan pem­binaan sepak bola harus ber­tumpu kepada pembinaan yang dilakukan di dalam ne­geri. Di tengah kegembiraan menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026, mengenaskan juga melihat hanya lima dari 23 pemain yang asli Indonesia dan mereka pun berjalan di barisan belakang ketika ma­suk ke Stadion Utama Gelora Bung Karno. Padahal, yang kita teriakkan: “Indonesia

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *