
PAKISTAN secara resmi mengonfirmasi keberadaan pasukannya di Arab Saudi. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya eskalasi konflik dengan pemberontak Houthi asal Yaman yang didukung Iran, yang baru-baru ini melancarkan serangan mematikan ke sejumlah bandara di wilayah kerajaan tersebut.
Juru bicara militer Pakistan, Letjen Ahmed Sharif Chaudhry, mengungkapkan dalam wawancara eksklusif dengan CNN pada Rabu (7/10/2026) bahwa pasukan Pakistan bersiaga di sana. Meski demikian, jumlah personel dan kemampuan tempur mereka tetap dirahasiakan karena alasan klasifikasi keamanan.
Konfirmasi itu muncul hanya beberapa hari setelah Pakistan, Arab Saudi, dan Turki menyepakati pengerahan pasukan secara cepat sebagai bagian dari perjanjian pertahanan bersama yang baru dibentuk, yang sering disebut sebagai Aliansi Mekah. Pakta ini memiliki ketentuan pertahanan kolektif serupa NATO, yakni serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota.
Chaudhry menegaskan bahwa komitmen Pakistan terhadap keamanan Arab Saudi bersifat absolut. Ia menjelaskan bahwa kehadiran militer Pakistan di Saudi sebenarnya telah berlangsung selama beberapa dekade, tetapi aliansi baru ini memperkuat mekanisme pertahanan kolektif sebagai bentuk pencegahan (deterrent).
Catatan Strategis: Pakistan menegaskan bahwa keterlibatan pasukan mereka bersifat defensif. Chaudhry menolak merinci apakah pasukan tersebut akan terlibat dalam operasi lintas batas ke Yaman dengan menyatakan bahwa strategi penempatan pasukan tidak akan diungkapkan ke publik selama konflik berlangsung.
Serangan Houthi Targetkan Infrastruktur Sipil
Eskalasi ini dipicu oleh serangkaian serangan rudal dan drone Houthi yang menargetkan infrastruktur vital Saudi. Dalam dua hari terakhir, serangan di Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menewaskan sedikitnya tiga orang, termasuk warga negara Sudan, Maroko, dan Aljazair.
Otoritas penerbangan sipil Saudi melaporkan puluhan orang lain luka-luka akibat serangan tersebut. Selain bandara di Saudi, Houthi juga menargetkan Bandara Internasional Aden di Yaman, yang memaksa pengalihan penerbangan sipil ke Jeddah.
Juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Mayjen Turki al-Maliki, menyatakan bahwa pihaknya menghancurkan peluncur rudal balistik yang digunakan dalam serangan ke Riyadh dan memperingatkan ada potensi serangan lanjutan yang segera terjadi.
Dilema Diplomatik Pakistan
Keterlibatan militer ini menjadi perhitungan kompleks bagi Islamabad. Pakistan selama ini berupaya memainkan peran mediator antara Iran–tetangganya sekaligus pendukung Houthi–dan Amerika Serikat. Pada tahun 2015, parlemen Pakistan sempat menolak pengiriman pasukan untuk membantu Saudi dalam perang melawan Houthi.
Namun, dengan runtuhnya gencatan senjata AS-Iran pada Juli lalu dan meluasnya serangan Houthi ke fasilitas minyak Aramco serta kapal tanker di Laut Merah, Pakistan kini memilih posisi yang lebih tegas dalam kerangka Aliansi Mekah.
Di sisi lain, pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi terus melancarkan Operasi Dawn of Yemen untuk merebut kembali posisi strategis di Selat Bab al-Mandab, jalur air krusial bagi perdagangan minyak global yang sempat diklaim berada di bawah kendali Houthi bulan lalu. (CNN/I-2)
