
ISTILAH “toxic” kini semakin jamak digunakan di media sosial untuk melabeli berbagai bentuk perilaku atau hubungan yang dinilai tidak sehat. Kendati demikian, para psikolog mengingatkan agar masyarakat tidak serta-merta menyematkan label tersebut pada setiap konflik, perbedaan pendapat, atau situasi yang memicu ketidaknyamanan.
Psikolog Lisa Liggins-Chambers, Ph.D., dalam ulasannya melalui Psychology Today, Minggu (5/10), menjelaskan bahwa popularitas istilah psikologi di media sosial memang memudahkan masyarakat mengenali dinamika relasi. Namun, penggunaan yang serampangan tanpa memahami konteks sering kali membuat persoalan hubungan terlihat jauh lebih sederhana dari realitas yang sebenarnya.
“Tidak semua perilaku yang tidak sehat adalah toxic, dan tidak semua perilaku yang sulit berarti dilakukan dengan sengaja atau dilandasi niat buruk,” tulis Liggins-Chambers.
Ia mencontohkan, perilaku tertentu seperti tampak suka mengontrol, menjaga jarak, atau kesulitan menaruh kepercayaan kepada orang lain kerap kali berakar dari pengalaman traumatis atau masa lalu seseorang. Kendati demikian, memahami latar belakang tersebut bukan berarti membenarkan tindakan yang merugikan pihak lain. Seseorang tetap memiliki hak penuh untuk menetapkan batasan (boundaries) serta mengevaluasi dampak perilaku tersebut terhadap kesehatan mental mereka.
Hindari Terburu-Buru Mengakhiri Hubungan
Liggins-Chambers juga mengingatkan agar seseorang tidak gegabah mengambil keputusan untuk langsung memutuskan hubungan (cut-off) hanya karena merasa tidak nyaman. Konflik dan perbedaan pendapat merupakan bumbu alami dalam setiap relasi manusia. Oleh karena itu, kemampuan komunikasi yang sehat, keterbukaan menerima kritik, keberanian meminta maaf, serta keinginan memperbaiki hubungan jauh lebih esensial.
Sebelum buru-buru melabeli seseorang atau suatu hubungan sebagai toxic, ia menyarankan agar seseorang melakukan refleksi mandiri melalui empat pertanyaan kunci:
- Bagaimana dinamika dasar hubungan dengan orang tersebut?
- Bagaimana reaksi diri sendiri dalam menghadapi situasi tersebut?
- Apa bentuk peran masing-masing pihak di dalam konflik yang terjadi?
- Apakah masih ada ruang dan kemungkinan untuk memperbaiki hubungan tersebut?
Fenomena Budaya “Cut-Off” di Media Sosial
Di sisi lain, media sosial turut mempopulerkan tren seperti “protect your peace”, “cut-off culture”, hingga “no-contact” sebagai mekanisme pertahanan diri dari hubungan yang merusak. Menurut Liggins-Chambers, langkah ekstrem tersebut terkadang memang diperlukan demi melindungi diri dan membangun batasan yang aman.
Namun, istilah-istilah tersebut tidak seharusnya dijadikan respons instan untuk menghadapi setiap perselisihan kecil atau kekecewaan sepele.
“Ketidaknyamanan bukan selalu bukti adanya perilaku toxic,” tegasnya.
Dengan melihat konteks secara lebih bijak serta memahami bahwa pengalaman personal turut memengaruhi penilaian terhadap orang lain, seseorang dapat belajar membedakan mana relasi yang benar-benar toksik dan merugikan secara psikologis, serta mana hubungan yang sekadar memerlukan proses perbaikan melalui komunikasi yang matang.
(Ant/P-4)
