
INDONESIA sedang memasuki era ketika kemajuan ekonomi semakin ditentukan oleh kemampuan menguasai teknologi. Industri semikonduktor, kecerdasan artifisial, robotika, energi terbarukan, kendaraan listrik, bioteknologi, hingga teknologi digital membutuhkan semakin banyak tenaga science, technology, engineering, and mathematics (STEM).
Masalahnya, kita masih kekurangan tenaga STEM. Di pendidikan tinggi, bidang-bidang non-STEM masih jauh lebih dominan. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa lulusan program STEM Indonesia sekitar 19,4% dari total lulusan pendidikan tinggi dalam data yang tersedia, sementara Malaysia mencapai sekitar 40% dan Tailan sekitar 32%.
Karena itu, memperbanyak mahasiswa masuk program teknik, sains, teknologi, dan matematika memang penting. Akan tetapi, ada persoalan yang jauh lebih mendasar: STEM tidak akan tumbuh kuat jika akarnya lemah.
Akar yang dimaksud ialah kemampuan membaca dan memahami informasi, menulis dan berkomunikasi, menggunakan numerasi dalam kehidupan sehari-hari, serta kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, kolaboratif, dan memecahkan masalah secara sistematis. Akar tersebut tidak dapat dibangun secara tiba-tiba ketika seseorang masuk perguruan tinggi. Akar yang kuat itu harus ditanam sejak pendidikan anak usia dini dan diperkuat secara terus-menerus sampai sekolah menengah.
Di sinilah pembelajaran mendalam atau deep learning menjadi penting.
MEMAHAMI LEBIH DALAM
Pembelajaran mendalam bukan berarti menambah jumlah materi atau membuat siswa belajar lebih banyak. Intinya adalah mengubah cara belajar, dari sekadar menghafal informasi menuju memahami, menghubungkan, menggunakan dan menciptakan pengetahuan sendiri.
Kemendikdasmen kini terus mendorong pembelajaran mendalam sebagai istrumen untuk mendorong pembelajaran transformatif. Pendekatan ini menempatkan siswa sebagai subjek yang aktif belajar, berpikir, mengeksplorasi, bekerja sama, dan melakukan refleksi.
Bayangkan pelajaran matematika tentang pecahan. Kenyataan dewasa ini, anak lebih banyak diminta untuk mengerjakan puluhan soal rumus, misalnya: ½ + ¼. Namun, ketimbang harus menghafal rumus seperti itu, guru lebih baik mengajak siswa menghitung kebutuhan bahan untuk membuat makanan, membandingkan harga, atau membagi sesuatu secara adil. Matematika akhirnya bukan sekadar rumus, melainkan alat untuk memahami kehidupan.
Dalam pelajaran IPA, siswa tidak hanya menghafal bahwa tumbuhan membutuhkan air dan cahaya. Mereka dapat mengamati mengapa beberapa tanaman di halaman sekolah tumbuh lebih subur daripada yang lain, mengukur intensitas cahaya, mencatat pertumbuhan, membuat dugaan, mengumpulkan data, dan menarik kesimpulan.
Dalam pelajaran bahasa, siswa tidak hanya menjawab pertanyaan setelah membaca sebuah teks. Mereka dapat membandingkan dua berita tentang persoalan yang sama, mencari perbedaan fakta dan opini, mencari/memeriksa sumber informasi, kemudian menyampaikan pendapatnya secara lisan maupun tertulis.
Inilah contoh-contoh sederhana literasi yang dibutuhkan di abad ke-21: tidak sekadar bisa membaca, tetapi mampu memahami, menilai, dan menggunakan informasi.
AKAR MASIH LEMAH
Kondisi Indonesia menunjukkan bahwa pekerjaan rumah kita masih cukup banyak. PISA 2025 mencatat hanya sekitar 25% siswa Indonesia yang mencapai tingkat kecakapan minimum dalam membaca, 18% dalam matematika, dan 34% dalam sains. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata OECD, masing-masing 74%, 69%, dan 76%.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mampu mencapai tingkat tertinggi dalam membaca dan matematika. Pada tingkat tersebut, siswa tidak hanya mampu menjawab soal rutin, tetapi juga dapat memahami persoalan yang kompleks, mengevaluasi informasi, dan memilih strategi pemecahan masalah.
Jelasnya, tantangan pendidikan Indonesia tidak hanya bagaimana membuat lebih banyak anak bersekolah, tetapi juga bagaimana membuat mereka benar-benar belajar. Perlu dipahami bahwa pembelajaran mendalam merupakan strategi untuk memperkuat akar kompetensi yang kuat, bukan sebagai jargon pendidikan baru.
PERSOALAN YANG DEKAT
Pembelajaran mendalam sebenarnya tidak selalu membutuhkan lab yang mahal atau canggih. Persoalan di sekitar sekolah dapat menjadi laboratorium belajar.
Guru bisa mengajak siswa SD menyelidiki mengapa halaman sekolah mudah tergenang ketika hujan. Siswa mengamati saluran air, mengukur luas halaman, menghitung curah hujan sederhana, menggambar aliran air, berdiskusi, dan mengusulkan solusi.
Dengan satu kegiatan sederhana ini, anak mulai dikenalkan dengan cara berpikir: matematika, sains, komunikasi, kerja sama, kreativitas, dan pemecahan masalah, sekaligus.
Dalam persoalan sampah, misalnya, siswa tidak hanya diminta menghafal jenis-jenis sampah. Mereka dapat menimbang sampah sekolah selama satu minggu, mengelompokkan sampah organik dan anorganik, membuat tabel dan grafik, menghitung rata-rata, kemudian merancang cara mengurangi sampah.
Akhirnya siswa memahami bahwa angka bukan sekadar angka. Angka itu adalah data yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan. Keputusan untuk mengelola bahkan dapat mengendalikan sampah.
Di SMP, persoalan dapat dibuat lebih kompleks. Siswa diminta memeriksa penggunaan listrik sekolah. Mereka mencatat jumlah lampu, kipas, komputer, dan perangkat lain, menghitung konsumsi listrik, memperkirakan biaya, lalu menyusun rekomendasi untuk menghemat energi.
Di SMA, pengalaman itu dapat dikembangkan menjadi proyek yang lebih dekat dengan STEM. Siswa merancang sistem penyiraman tanaman yang hemat air, membuat prototipe sederhana, menguji efektivitasnya, mengolah data, dan mempresentasikan hasilnya.
Mereka bukan hanya belajar fisika, matematika, atau teknologi. Mereka belajar bagaimana menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah
GURU ADALAH KUNCI
Semua itu tidak akan berubah dengan mengganti kurikulum. Kemampuan guru merancang pengalaman belajar yang membuat siswa aktif berpikir dan bekerja adalah kuncinya.
Tantangan kita sekarang, bagaimana agar pelaksanaan pembelajaran mendalam ini tidak berhenti pada sekadar pelatihan dan dokumen kebijakan, tetapi benar-benar terlihat dalam keseharian praktik belajar anak sehari-hari.
Perlu dipahami bahwa implementasi pembelajaran mendalam itu harus diikuti dengan pengembangan profesional guru berkelanjutan. Guru perlu belajar merancang problem-based learning, project-based learning, eksperimen, diskusi, asesmen formatif, dan pemanfaatan teknologi. Komunitas belajar seperti KKG dan MGMP perlu dihidupkan kembali sebagai ruang guru berbagi praktik terbaik dan merefleksikan pembelajaran. Dari situ, berbagai kursus ‘micro credential’ besertifkat bagi guru sangat dibutuhkan.
Pada akhirnya, pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang membuat anak mampu menghafal paling banyak. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membuat anak mampu memahami persoalan, mengajukan pertanyaan, menggunakan pengetahuan, bekerja bersama, dan menemukan solusi.
Jika ‘akar’ itu kuat, Indonesia bukan hanya akan memiliki lebih banyak lulusan STEM, melainkan juga generasi yang mampu menggunakan STEM untuk menciptakan teknologi, membangun industri, dan memecahkan persoalan bangsa.
