
DUKUNGAN bipartisan yang selama ini menjadi landasan kebijakan Amerika Serikat (AS) terhadap Israel disebut mulai mengalami pelemahan di kalangan pemilih AS. Mayoritas warga Amerika kini semakin mempertanyakan pemberian bantuan militer dan dukungan diplomatik Washington kepada Israel yang dinilai tanpa syarat, terutama di tengah situasi di Gaza dan pendudukan Israel yang terus berlangsung di Tepi Barat.
“Apa yang kita lihat di Amerika Serikat benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya,” kata analis Inggris-Israel Daniel Levy kepada Anadolu, Senin (5/10).
Menurut Levy, perubahan sikap tersebut terjadi di berbagai kelompok ideologis. Para pemilih AS, kata dia, kini secara fundamental mempertanyakan apakah hubungan ini bermanfaat bagi Amerika, bermanfaat bagi pembayar pajak Amerika, bermanfaat bagi keamanan nasional Amerika.
Levy yang juga memimpin organisasi nirlaba US atau Middle East Project yang berbasis di New York mengatakan perubahan opini publik selama ini belum sepenuhnya tercermin dalam kebijakan Washington.
Menurut dia, pendanaan kampanye dalam jumlah besar, aktivitas lobi institusional, serta konsolidasi media telah membantu melindungi para pembuat kebijakan dari perubahan sikap masyarakat.
Kondisi tersebut, lanjut Levy, memunculkan pertanyaan penting mengenai sejauh mana Washington dapat mempertahankan kebijakan yang dinilai bertentangan dengan pandangan mayoritas masyarakat Amerika.
Levy juga membandingkan situasi tersebut dengan perkembangan politik di Inggris. Ia menyinggung pemerintahan Partai Buruh sebelumnya di bawah Keir Starmer yang disebut kehilangan dukungan setelah para pemimpinnya mengabaikan pandangan pemilih terkait Gaza dan hak-hak Palestina.
Menurut Levy, perubahan politik yang membawa Andy Burnham dan Ed Miliband ke posisi kekuasaan dapat menjadi gambaran mengenai apa yang mungkin terjadi di Washington.
Penurunan Dukungan Terjadi Secara Nasional
Levy menilai melemahnya dukungan terhadap Israel bukan merupakan fenomena yang terbatas pada kelompok atau gerakan tertentu, melainkan telah berkembang menjadi tren nasional.
Jajak pendapat Pew Research Center pada Maret menunjukkan 60 persen warga dewasa AS memiliki pandangan tidak baik terhadap Israel. Angka tersebut meningkat dari 53 persen pada 2025 dan 42 persen pada 2022.
Survei yang sama juga menunjukkan 59 persen responden mengaku memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki kepercayaan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Temuan serupa terlihat dalam survei Marquette Law School pada September. Hasil jajak pendapat tersebut menunjukkan dukungan terhadap Israel telah mengalami penurunan selama 20 bulan terakhir.
Dalam survei terbaru itu, 59% responden memandang Israel secara tidak baik, sedangkan 55% menilai Washington memberikan terlalu banyak bantuan militer kepada Israel.
Penurunan dukungan juga terlihat dalam penilaian masyarakat AS terhadap operasi militer Israel di Gaza. Gallup mencatat tingkat persetujuan nasional terhadap operasi tersebut berada pada titik terendah, yakni 32% pada 2025. Sebaliknya, 60% responden menyatakan tidak setuju.
Sementara itu, jajak pendapat Gallup pada Februari menunjukkan untuk pertama kalinya simpati masyarakat Amerika terhadap Palestina sedikit lebih tinggi dibandingkan simpati terhadap Israel. Sebanyak 41% responden menyatakan lebih bersimpati kepada Palestina, sementara 36% memilih Israel.
Survei Economist/YouGov yang dilakukan pada September juga memperlihatkan jarak yang semakin tipis. Sebanyak 26% warga Amerika menyatakan lebih bersimpati kepada Israel, sementara 25% lebih bersimpati kepada Palestina. Menurut data tersebut, selisih itu merupakan yang terkecil yang pernah dicatat YouGov untuk pertanyaan tersebut.
Survei AP-NORC pada Juni menemukan 31% warga dewasa AS menilai tindakan militer Israel di Gaza merupakan genosida. Sementara itu, hanya dua dari 10 responden yang mengatakan tindakan tersebut tidak termasuk genosida.
Perubahan Opini Publik
Perubahan opini publik di Amerika Serikat tersebut bahkan mendapat perhatian dari mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett.
Dalam esainya yang diterbitkan TIME pada Juli, Bennett memperingatkan mengenai tren yang mengkhawatirkan dalam opini publik, khususnya di kalangan warga Amerika yang lebih muda.
Dalam podcast yang diikutinya secara terpisah, Bennett mengatakan Israel sekarang dikaitkan dengan genosida dan pembunuh bayi, sama seperti Italia dikaitkan dengan pasta dan spageti.
Levy menilai pemerintah Israel berupaya menghadapi penurunan dukungan publik di AS dan kesulitan untuk membenarkan tindakannya sendiri dengan memanfaatkan isu antisemitisme serta memperluas definisi istilah tersebut.
Namun, menurut Levy, banyak orang Yahudi tidak mempercayai ini.
Ia menilai isu Israel-Palestina kini semakin menjadi tolok ukur bagi pemilih Amerika dalam menilai integritas politik seorang kandidat.
“Posisi terhadap Israel-Palestina hampir menjadi ujian otentisitas utama. Dapatkah saya mempercayai seorang politisi?” kata Levy.
“Jika Anda tidak dapat menyelesaikan masalah ini dengan benar, bagaimana kami dapat mempercayai Anda dalam hal lain?” pungkasnya. (Anadolu/Fer/P-3)
