Olahraga 3 Menit vs 90 Menit, Mana yang Memicu Perubahan Lebih Besar?
Ilustrasi(Magnific)

OLAHRAGA tidak selalu harus dilakukan dalam durasi yang lama untuk memberikan dampak signifikan bagi tubuh. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa latihan berintensitas tinggi dalam waktu singkat mampu memicu perubahan molekuler yang jauh lebih besar dibandingkan aktivitas fisik berintensitas sedang yang dilakukan selama 90 menit.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell Reports Medicine ini melibatkan 19 pria muda sehat sebagai peserta. Dilansir dari The Washington Post, para peserta menjalani dua skenario latihan yang berbeda: bersepeda selama 90 menit dengan intensitas sedang, serta latihan interval intensitas tinggi (HIIT) yang hanya memakan waktu total sekitar 23 menit.

Latihan singkat tersebut dirancang dengan enam sesi sprint maksimal, di mana masing-masing durasinya hanya 30 detik dan diselingi waktu istirahat. Meski total waktu aktif untuk melakukan sprint hanya sekitar tiga menit, respons biologis yang terdeteksi di dalam tubuh peserta justru sangat masif.

Ratusan Protein Mengalami Perubahan

Laporan dari The Rockefeller University merinci bahwa enam sprint maksimal selama 30 detik tersebut menyebabkan perubahan pada hampir seperempat protein yang diukur dalam darah peserta segera setelah latihan berakhir.

Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan hasil latihan bersepeda selama 90 menit dengan intensitas sedang. Aktivitas durasi lama tersebut tercatat hanya mengubah kurang dari 0,25 persen protein yang diamati. Perbedaan mencolok ini menunjukkan bahwa intensitas aktivitas fisik merupakan faktor kunci dalam menentukan respons molekuler tubuh manusia.

Selain protein, peneliti menemukan perubahan pada lebih dari 200 metabolit—molekul yang dihasilkan atau digunakan dalam proses metabolisme. Perubahan metabolit ini mencerminkan aktivitas biologis yang dinamis di dalam tubuh setelah terpapar latihan fisik yang berat.

Menariknya, respons tersebut tidak hanya terbatas pada jaringan otot. Data menunjukkan bahwa perubahan molekuler setelah latihan intensif berkaitan erat dengan komunikasi antarorgan, termasuk hati, jaringan lemak, hingga otak.

Bukan Berarti Olahraga Lama Tidak Berguna

Temuan ini juga mengaitkan perubahan protein setelah latihan intensitas tinggi dengan proses biologis yang dapat menurunkan risiko penyakit kronis, seperti penyakit jantung, obesitas, dan diabetes tipe 2.

Kendati demikian, para ahli menekankan bahwa hasil penelitian ini tidak serta-merta berarti olahraga singkat selalu lebih baik daripada olahraga durasi lama bagi semua orang. Mengingat penelitian ini hanya melibatkan 19 pria muda sehat, hasilnya belum tentu dapat digeneralisasi pada perempuan, kelompok lanjut usia, atau individu dengan kondisi medis tertentu.

Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa durasi bukanlah satu-satunya indikator efektivitas olahraga. Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi, meski dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, terbukti mampu menghasilkan perubahan biologis yang signifikan bagi kesehatan tubuh.  Sumber: The Rockefeller University, The Washington Post



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *