Militer Israel Serang Film NAZA tentang Operasi di Gaza
Sebuah adegan dari film NAZA yang disutradarai oleh Yuval Abraham dan Rachel Szor.(The Guardian)

MILTER Israel membantah gambaran operasi militernya di Gaza dalam film dokumenter NAZA. Militer Israel menyebut film tersebut menyajikan gambaran yang “terdistorsi, menyesatkan, dan jauh dari kenyataan”.

Film NAZA mendokumentasikan pembantaian oleh Israel di Jalur Gaza. Film ini telah berulang kali dikecam oleh para pejabat di pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang disebut-sebut sebagai pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel.

Pernyataan itu disampaikan militer Israel pada Kamis (1/10), menjadi respons resmi pertama terhadap film karya sutradara Israel Yuval Abraham dan Rachel Szor. NAZA mengulas proses penentuan target dan serangan militer Israel di Jalur Gaza berdasarkan kesaksian sejumlah personel intelijen dan militer Israel.

Dalam pernyataannya, militer Israel mengatakan narasi film tersebut dibangun berdasarkan kesalahan faktual mendasar. Menurut militer Israel, proses perencanaan dan persetujuan serangan tidak digambarkan secara utuh.

“Gambaran dalam film tersebut didasarkan pada kesalahan faktual mendasar yang dihasilkan dari penyajian yang terdistorsi dan manipulatif,” kata militer Israel.

Militer Israel juga membantah bahwa kecerdasan buatan (AI) secara mandiri menentukan target serangan.

“Kecerdasan buatan tidak pernah secara mandiri memilih target untuk diserang. Identifikasi target dilakukan secara eksklusif oleh perwira intelijen yang memenuhi syarat dan berwenang, sementara komandan operasional mengambil keputusan mengenai serangan,” ujar militer Israel.

Militer Israel menyatakan sejumlah narasumber dalam film merupakan mantan personel korps intelijen. Namun, menurut mereka, para narasumber hanya membahas tahap awal dan terbatas dari pekerjaan intelijen, bukan keseluruhan proses perencanaan serta persetujuan serangan.

Kesaksian Personel Israel

NAZA disutradarai Yuval Abraham dan Rachel Szor, dua sineas Israel yang sebelumnya menjadi bagian dari tim film dokumenter No Other Land. Film tersebut diproduksi The Guardian.

Film ini dibuat secara rahasia selama tiga tahun. Identitas, suara, dan wajah narasumber diubah secara digital untuk melindungi keselamatan mereka.

The Guardian melaporkan bahwa pembuat NAZA mewawancarai lebih dari 100 sumber selama proses produksi. Film tersebut memuat kesaksian 24 personel militer dan intelijen Israel yang identitasnya disamarkan. Kesaksian itu disebut diperiksa silang dengan dokumen dan sumber independen.

Film tersebut membahas sistem pengawasan dan teknologi yang digunakan dalam operasi penargetan Israel di Gaza. Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah penggunaan sistem berbasis AI dalam proses identifikasi target.

Militer Israel mengakui penggunaan AI dalam proses penargetan, tetapi menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Militer juga membantah tuduhan bahwa serangan disetujui dengan memperhitungkan jumlah korban sipil yang tinggi.

Diputar di Festival Venesia

NAZA mendapat Penghargaan Khusus Juri dalam Festival Film Venesia 2026. Film tersebut memperoleh tepuk tangan berdiri selama sekitar 25 menit setelah pemutaran perdananya di festival tersebut.

Film ini kemudian memicu kontroversi di Israel. Sejumlah pejabat Israel mengecam film dan pembuatnya. Sutradara film juga menghadapi ancaman serta tekanan politik terkait isi dokumenter tersebut.

Pemerintah Israel sebelumnya juga mengkritik film tersebut. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan mendorong kemungkinan pencabutan kewarganegaraan pembuat film, menurut laporan The Guardian.

Sementara itu, para pembuat NAZA mempertahankan penggunaan sumber anonim. Mereka menyatakan kerahasiaan identitas diperlukan karena narasumber mengungkap informasi mengenai operasi militer yang masih menjadi persoalan sensitif. (AA/B-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *