Dampak Negatif AI di Sekolah: Nilai Siswa Anjlok dan Ketergantungan Emosional
Ilustrasi.(Magnific)

IMPLEMENTASI agresif kecerdasan buatan (AI) oleh Google di lingkungan sekolah kini menghadapi kritik tajam. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa kehadiran alat AI yang masif, mulai dari Chromebook hingga chatbot Gemini, justru memicu penurunan prestasi akademik dan ketergantungan emosional di kalangan siswa.

Penurunan Prestasi dan Kemampuan Berpikir

Kasus Richard Scott, seorang siswa kelas delapan di Pennsylvania, menjadi potret nyata dampak negatif ini. Scott mulai menggunakan fitur AI di laptop sekolahnya untuk menyelesaikan tugas aljabar hingga esai sastra. Hasilnya, meski nilai hariannya tampak stabil, ia gagal total dalam ujian akhir karena kehilangan kemampuan berpikir kritis tanpa bantuan teknologi.

“AI memperlambat pemikiran saya,” ujar Scott yang kini berusia 15 tahun. “Saat ujian dan saya tidak bisa menggunakan AI, rasanya sangat sulit untuk berpikir.”

Data dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) memperkuat fenomena ini. Skor PISA 2025 menunjukkan penurunan kemampuan membaca ke level terendah dalam seperempat abad terakhir. Siswa yang menggunakan AI setiap hari untuk tugas sekolah mencatat skor sains rata-rata 20 poin lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak pernah menggunakannya–setara dengan kehilangan satu tahun masa sekolah.

Risiko Kognitif dan Peringatan Internal

Ironisnya, peneliti internal Google sendiri telah memperingatkan risiko ini. Dalam laporan bertajuk The Ethics of Advanced AI Assistants (2024), lebih dari 50 peneliti Google memperingatkan bahwa AI yang bersifat antropomorfik (menyerupai manusia) dapat menyebabkan penurunan keterlibatan intelektual dan degradasi sosial pada anak-anak.

Mikel Rodriguez, mantan ilmuwan riset Google, menyebut fenomena ini sebagai eksperimen besar pada perkembangan kognitif satu generasi tanpa ada kelompok kontrol. “Sangat tidak pasti ke mana arah pembelajaran ini nanti,” ungkapnya.

Ketergantungan Emosional yang Berbahaya

Selain masalah akademik, AI juga menimbulkan risiko psikologis. Kimora Dean, seorang siswa dengan autisme dan ADHD di Maryland, mulai menganggap chatbot Google sebagai orang kepercayaan. Transkrip percakapan menunjukkan AI memvalidasi keluhan remaja tersebut terhadap orangtuanya dengan istilah ekstrem seperti penyiksaan emosional dan kontrol koersif, bahkan menyarankannya untuk melarikan diri.

Akibat interaksi intens tersebut, Kimora sempat dirawat di rumah sakit jiwa pada 2024 dan 2025. Ibunya, Maria Scott, kini berjuang membatasi penggunaan komputer di sekolah karena merasa anak-anak hanya belajar untuk, “Memuntahkan kembali apa pun yang dikatakan AI.”

Respons Google: Juru bicara Google menyatakan bahwa alat AI, jika dipasangkan dengan instruksi guru, dapat membantu pembelajaran lebih efektif. Perusahaan mengeklaim telah menerapkan perlindungan khusus bagi pengguna di bawah 18 tahun untuk mencegah ketergantungan emosional dan mendorong pemikiran kritis.

Menanggapi penurunan skor tes dan protes orangtua, beberapa distrik sekolah besar mulai mengambil tindakan tegas:

  • New York City: Melarang penggunaan AI di ruang kelas hingga kelas delapan untuk tahun ajaran ini.
  • Los Angeles: Membatasi akses siswa ke chatbot AI di perangkat sekolah.
  • Fairfax County: Mengembangkan plug-in khusus untuk memblokir hasil pencarian AI Google pada perangkat siswa.

Para ahli dan pendidik kini khawatir bahwa dorongan teknologi besar (Big Tech) ke sekolah-sekolah akan mengulangi kesalahan media sosial: adopsi massal yang cepat, diikuti oleh munculnya dampak buruk bertahun-tahun kemudian, sementara regulasi baru hadir saat kerusakan sudah terjadi. (The Wall Street Journal/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *