Cegah Bullying di Sekolah, Aplikasi Self-Defense Diperkenalkan
UM Indonesia mengenalkan aplikasi Android Self-Defense Pencak Silat sebagai salah satu sarana edukasi untuk mencegah perundungan.(Dok.Istimewa)

UNIVERSITAS Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) mengenalkan aplikasi Android Self-Defense Pencak Silat sebagai salah satu sarana edukasi untuk mencegah perundungan atau bullying dan kekerasan di lingkungan sekolah.

Program tersebut dilaksanakan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SMP Bani Saleh 1 Bekasi, Jawa Barat, Kamis (24/9). Kegiatan diikuti lebih dari 100 siswa dari SMP Bani Saleh 1, SD Bani Saleh 1, dan SD Bani Saleh 5.

Program yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi itu memadukan teknologi digital, pencak silat, pendidikan karakter, dan psikologi.

Ketua pelaksana kegiatan Dani Nur Riyadi mengatakan sekolah perlu menjadi lingkungan yang aman dan nyaman bagi peserta didik. Menurut dia, bullying dapat terjadi dalam bentuk verbal, fisik, sosial, maupun melalui media digital.

Pencegahan, lanjut Dani, tidak cukup dilakukan dengan memberikan pemahaman mengenai perundungan. Siswa juga perlu dibekali pendidikan karakter, kesadaran terhadap risiko, serta keterampilan menghadapi situasi yang berpotensi membahayakan.

Melalui aplikasi Self-Defense Pencak Silat, peserta didik diperkenalkan pada materi keselamatan diri dan teknik dasar pertahanan diri yang bersumber dari nilai-nilai pencak silat.

Dr. Aridhotul Haqiyah mengatakan aplikasi tersebut dirancang sebagai media pembelajaran yang dapat digunakan siswa untuk mengenal keselamatan diri dan dasar pertahanan diri.

“Aplikasi Android Self-Defense Pencak Silat dirancang sebagai media pembelajaran yang praktis dan edukatif. Siswa dapat mengenal manfaat aplikasi serta mempelajari cara menggunakannya untuk mengakses materi keselamatan diri dan pengenalan teknik dasar pertahanan diri secara lebih mudah,” kata Aridhotul.

Ia menegaskan materi self-defense tidak diarahkan untuk mengajarkan siswa melakukan kekerasan atau membalas tindakan kekerasan. Keterampilan tersebut digunakan untuk membangun rasa percaya diri, keberanian, pengendalian diri, dan kemampuan mengambil keputusan ketika menghadapi situasi berisiko.

PRINSIP LATIHAN PENCAK SILAT

Guru Tapak Suci Imron Rosadi mengatakan prinsip latihan pencak silat memiliki keterkaitan dengan keterampilan pertahanan diri sekaligus pendidikan karakter.

“Tapak Suci memiliki gerakan dan prinsip latihan yang relevan dengan self-defense. Melalui pengenalan yang tepat, siswa dapat memahami keterampilan menjaga diri sekaligus menanamkan disiplin dan pengendalian diri,” kata Imron.

Menurut dia, kemampuan bela diri harus digunakan untuk melindungi diri, bukan untuk menyerang atau membalas kekerasan.

Aspek psikologis juga menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Dr. Siti Nurhidayah mengatakan bullying tidak dapat dianggap sebagai persoalan biasa di antara siswa karena dapat memengaruhi rasa aman, kondisi psikologis, dan kehidupan sosial korban.

“Bullying perlu dipahami bukan sebagai persoalan biasa antarteman, karena perilaku ini dapat berdampak pada rasa aman, kondisi psikologis, dan kehidupan sosial siswa,” ujar Siti.

Ia meminta siswa mengenali berbagai bentuk bullying, memahami dampaknya, serta mengetahui tempat meminta bantuan dan melaporkan kejadian kepada orang dewasa yang dipercaya.

MATERI TAMBAHAN

Selain materi penggunaan aplikasi dan pertahanan diri, kegiatan juga diisi dengan materi “Bukan Cari Lawan Tapi Kawan” yang disampaikan Dindin Abidin. Materi tersebut menekankan nilai persaudaraan, penghormatan, pengendalian diri, dan tanggung jawab dalam pencak silat.

“Pencak silat bukan sekadar seni bela diri, melainkan pendidikan karakter yang mengajarkan persaudaraan, penghormatan, pengendalian diri, dan tanggung jawab,” kata Dindin.

Menurut dia, siswa perlu berani mengambil sikap ketika melihat perundungan, antara lain dengan mendampingi korban dan melaporkan kejadian kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya.

Kegiatan tersebut melibatkan tim lintas bidang keilmuan UM Indonesia, yakni Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi serta Psikologi. Tim juga melibatkan dua mahasiswa anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pencak Silat.

Tim pelaksana turut menyerahkan peralatan latihan dan plakat kepada SMP Bani Saleh 1. Kepala SMP Bani Saleh 1 Bekasi Mardhatullah mengatakan edukasi mengenai pencegahan bullying perlu dilakukan secara berkelanjutan.

“Kami berharap kegiatan edukasi seperti ini dapat dilaksanakan secara rutin agar semakin banyak siswa memahami pencegahan bullying dan mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika mengalaminya atau menyaksikannya,” kata Mardhatullah.

Ia menambahkan sekolah perlu terus membangun lingkungan yang aman, nyaman, sehat, dan saling menghormati untuk mencegah kekerasan di kalangan peserta didik.  (E-2)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *