Temuan Korban KM Arupadhatu I Penting untuk Evaluasi Model Hanyutan BRIN
Istri Arie Basuki Yanti (kiri) menabur bunga didampingi Bintang di pantai Pagedongan, Pandeglang, Banten, Jumat (18/9/2026). Tabur bunga untuk lima jurnalis yang hilang kontak dengan menumpangi kapal KM Arupadhatu I digelar sehari setelah pencarian dari Ti(ANTARA FOTO/Paramayuda/agr)

PENEMUAN satu jenazah korban KM Arupadhatu di Pulau Enggano, Bengkulu, pada 12 September 2026, menjadi data penting bagi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam mengevaluasi model transpor partikel dalam memetakan pola hanyutan di perairan Selat Sunda.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN Widodo Setiyo Pranowo mengatakan, hasil perhitungan ulang menunjukkan lokasi temuan korban berada dalam sebaran salah satu kelompok skenario simulasi yang telah dibuat sebelum informasi penemuan tersebut diketahui tim peneliti.

“Yang cocok adalah kelompok skenario dengan titik hilang kontak versi Bangka Pos. Dari hasil simulasi kami menggunakan Euler-Lagrangian particle transport, keempat variannya menempatkan korban di perairan Pulau Enggano tepat pada 12 September 2026,” ujar Widodo, Selasa (29/9). 

Menurut Widodo, kesesuaian tersebut belum dapat diartikan bahwa model mampu menentukan lokasi korban secara pasti. Hasil simulasi baru dapat dikonfirmasi pada tingkat kawasan Pulau Enggano karena tim belum mendapatkan koordinat geografis secara persis lokasi jenazah ditemukan.

Ia menjelaskan, data mengenai posisi pantai, waktu korban mencapai pantai, serta penggunaan rompi pelampung dibutuhkan untuk melakukan penelusuran balik atau back trace modeling secara lebih presisi.

Evaluasi juga menunjukkan bahwa skenario yang menggunakan data arus total dari Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS) tanpa tambahan dorongan angin melalui formula leeway menghasilkan simulasi yang lebih sesuai dengan fakta temuan.

“Struktur modelnya tidak perlu diubah, bagian itu sudah teruji. Yang kami koreksi adalah bobot skenario, dari delapan skenario berbobot sama menjadi hanya empat skenario Bangka Pos. Kami juga mencoba satu rumus atau formula baru khusus jasad, tetapi rumus itu justru memberi hasil lebih buruk,” jelasnya.

Berdasarkan evaluasi tersebut, tim melakukan simulasi ulang untuk periode 7–21 September 2026 hingga pukul 23.00 WIB atau hari ke-14 sejak kejadian. Simulasi terbaru difokuskan pada koordinat versi Bangka Pos dan akan dikembangkan hingga 5 Oktober 2026.

Hasil pembobotan ulang hingga hari ke-14 menunjukkan sebaran probabilitas di sejumlah wilayah. Sekitar 41% berada di Pulau Enggano dan sekitarnya, 10% di perairan lepas barat Bengkulu Selatan, serta 43% menuju Samudra Hindia bagian barat Bengkulu.

Secara kumulatif, kata dia, sekitar 42% sebaran model telah berada dalam kondisi terdampar di pantai.

Widodo menegaskan, angka tersebut merupakan wilayah peluang dan bukan penunjuk lokasi individu. Hasil simulasi, kata dia, perlu dibaca sebagai informasi ilmiah untuk memahami kemungkinan pola transport partikel berdasarkan kondisi arus dan parameter yang digunakan.

Temuan di Enggano juga menjadi bahan bagi peneliti untuk menguji kembali asumsi, pembobotan skenario, dan parameter model. Data lapangan yang lebih lengkap diharapkan dapat memperkuat pengembangan simulasi transpor partikel untuk menggambarkan dinamika hanyutan di perairan Indonesia. (H-4)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *