39 Hunian Sementara Selesai Dibangun Usai Gempa M7,7 NTT
Keterangan Foto BNPB Membangun Hunian Sementara (Huntara) bagi warga korban gempa M7,7 NTT(Dok.BNPB)

SEBANYAK 39 unit hunian sementara (huntara) telah selesai dibangun bagi warga terdampak gempa magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara itu, sebanyak 1.148 unit lainnya masih dalam proses pembangunan, sehingga total huntara yang tercatat dalam data sementara BNPB mencapai 1.187 unit.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pembangunan huntara terus dilakukan secara bertahap bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat. Pemerintah memberikan dua pilihan hunian kepada warga terdampak, yakni dana tunggu hunian (DTH) atau huntara.

Sebagian besar warga memilih huntara. Pembangunan dilakukan BNPB bersama pemerintah daerah di tujuh kabupaten terdampak sebagai bagian dari masa transisi darurat menuju pemulihan.

“Pembangunan huntara dilakukan secara bertahap berdasarkan jumlah penerima manfaat yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah,” kata Berton dalam keterangan tertulis BNPB, Selasa (29/9).

Berdasarkan data sementara per 28 September 2026, di Kabupaten Manggarai terdapat 110 unit huntara yang masih dibangun dan empat unit telah selesai. Dari 110 unit yang sedang dibangun, 50 unit telah mencapai progres lebih dari 50 persen, sedangkan 60 unit masih di bawah 50 persen. Hasil verifikasi mencatat 1.494 rumah rusak berat di kabupaten tersebut.

Di Manggarai Timur, sebanyak 561 unit masih dalam proses pembangunan dan enam unit telah selesai. Pembangunan tersebut merupakan bagian dari target tahap pertama sebanyak 1.305 unit, yang terdiri atas huntara insitu dan eksitu.

Di Kabupaten Ngada, enam huntara mandiri telah selesai dibangun, terdiri atas empat unit di Kecamatan Aimere, satu unit di Riung, dan satu unit di Wolomeze. BNPB juga telah menyelesaikan lima huntara insitu. Sebanyak 272 unit lainnya masih dalam proses pembangunan.

Sementara itu, di Nagekeo, sembilan huntara insitu telah selesai dan 173 unit masih dalam proses penyelesaian. Hasil verifikasi mencatat 314 rumah rusak berat di kabupaten tersebut.

Di Kabupaten Sikka, dua huntara telah selesai dibangun, terdiri atas satu unit tipe keluarga dan satu unit tipe komunal yang terdiri atas lima hunian. Sebanyak 25 unit lainnya sedang dibangun secara paralel.

Adapun di Kabupaten Ende, tujuh huntara telah selesai dibangun dan tujuh unit lainnya masih dalam proses pembangunan.

Jika dirinci, 39 unit yang telah selesai tersebut terdiri atas empat unit di Manggarai, enam unit di Manggarai Timur, 11 unit di Ngada, sembilan unit di Nagekeo, dua unit di Sikka, dan tujuh unit di Ende. Sementara 1.148 unit lainnya masih dalam proses pembangunan.

Untuk Kabupaten Manggarai Barat, pemerintah daerah masih melakukan pendataan keluarga terdampak yang sebelumnya memilih DTH tetapi kemudian beralih memilih huntara. Pemerintah daerah juga tengah menyusun surat keputusan penerima bantuan huntara berdasarkan nama dan alamat.

Berton mengatakan penentuan lokasi huntara dilakukan melalui sosialisasi dan pembahasan bersama masyarakat terdampak. Lokasi pembangunan juga disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

“Penentuan titik huntara didiskusikan dengan warga dan kondisi di lapangan,” ujar Berton.

Bersamaan dengan pembangunan huntara, sejumlah pemerintah kabupaten terdampak juga tengah menyelesaikan dokumen rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa sebagai bagian dari tahapan pemulihan. (H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *