Tidak Produktif bukan Berarti Kamu tidak Berharga
Aulia Putri Kinasih, Program Studi Manajemen S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.(Dok. Pribadi)

PERNAH merasa bersalah hanya karena seharian tidak melakukan sesuatu yang dianggap produktif? Tidak belajar, tidak bekerja, tidak mengikuti kegiatan, atau hanya menghabiskan waktu untuk beristirahat. Padahal tubuh sedang lelah, tetapi muncul pikiran, “Seharusnya hari ini aku bisa melakukan lebih banyak.”

Perasaan seperti ini cukup dekat dengan kehidupan anak muda saat ini. Kita hidup di tengah budaya yang sering menganggap kesibukan sebagai tanda keberhasilan. Bangun pagi, kuliah, bekerja, mengikuti organisasi, berolahraga, belajar keterampilan baru, menjalankan bisnis, dan tetap aktif di media sosial seolah menjadi gambaran kehidupan yang ideal.

Masalahnya, manusia memiliki batas. Ketika setiap waktu harus diisi dengan kegiatan, istirahat justru dapat dianggap sebagai kemunduran. Akhirnya, seseorang bukan hanya mengejar keberhasilan, tetapi juga merasa harus terus terlihat produktif.

Sibuk Belum Tentu Produktif

Ada perbedaan antara sibuk dan produktif. Sibuk berarti banyak melakukan aktivitas, sedangkan produktif berkaitan dengan kemampuan menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan tujuan. Seorang mahasiswa bisa mengikuti banyak kegiatan, tetapi belum tentu memiliki waktu yang cukup untuk memahami materi kuliahnya. Seorang pekerja bisa menghabiskan waktu lebih lama di tempat kerja, tetapi belum tentu hasil pekerjaannya lebih baik. Karena itu, banyaknya aktivitas tidak selalu menunjukkan keberhasilan seseorang.

Tekanan untuk selalu produktif juga dapat membuat seseorang merasa bersalah ketika memiliki waktu kosong. Saat sedang menonton film, muncul pikiran bahwa seharusnya waktu tersebut digunakan untuk belajar. Ketika sedang tidur lebih lama, merasa telah membuang waktu. Bahkan ketika berkumpul dengan keluarga atau teman, pikiran masih tertuju pada pekerjaan yang belum selesai. Jika terus terjadi, seseorang bisa kehilangan kemampuan untuk menikmati waktu istirahat.

Media Sosial dan Kebiasaan Membandingkan Diri

Media sosial membuat tekanan tersebut semakin mudah muncul. Setiap hari kita dapat melihat orang lain mendapatkan pekerjaan baru, memenangkan perlombaan, membuka bisnis, mengikuti seminar, berolahraga, atau mencapai sesuatu yang terlihat membanggakan.

Kemudian muncul pertanyaan, “Kenapa aku belum seperti mereka?”

Padahal, media sosial hanya memperlihatkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Kita melihat pencapaian, tetapi belum tentu melihat kegagalan dan proses panjang di belakangnya.

American Psychological Association menjelaskan bahwa dampak media sosial terhadap anak muda tidak dapat disederhanakan sebagai sepenuhnya positif atau negatif. Dampaknya dipengaruhi oleh bagaimana media sosial digunakan, karakteristik individu, serta jenis konten dan interaksi yang diterima.

Artinya, masalahnya bukan sekadar menggunakan media sosial, tetapi bagaimana seseorang memaknai apa yang dilihatnya.

Jika setiap unggahan orang lain dijadikan ukuran keberhasilan diri sendiri, kehidupan akan terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.

Tekanan untuk Selalu Sempurna

Budaya produktivitas juga sering berkaitan dengan keinginan untuk memberikan hasil terbaik. Keinginan tersebut sebenarnya tidak selalu buruk. Memiliki target tinggi dapat mendorong seseorang untuk belajar dan berkembang. Namun, masalah muncul ketika seseorang merasa dirinya tidak cukup baik jika hasilnya belum sempurna.

Mahasiswa mungkin merasa tugasnya belum layak dikumpulkan karena masih ada kekurangan. Pekerja muda bisa takut mengajukan ide karena khawatir salah. Seseorang juga dapat menunda melamar pekerjaan karena merasa belum memiliki kemampuan yang lengkap.

Khossousi dan rekan-rekan (2024), melalui systematic review dan meta-analysis terhadap 83 artikel dengan total 32.304 peserta, menemukan adanya hubungan antara beberapa bentuk perfectionism dengan self-esteem pada orang dewasa. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa perfectionism memiliki beberapa dimensi yang perlu dibedakan. Dengan kata lain, berusaha menjadi lebih baik merupakan hal yang berbeda dengan merasa harus selalu sempurna.

Dunia Kerja Juga Terus Berubah

Setelah memasuki dunia kerja, tuntutan untuk berkembang tidak otomatis berhenti. Justru bentuknya dapat berubah. Karyawan dituntut mampu beradaptasi dengan teknologi, target pekerjaan, perubahan sistem, dan kebutuhan perusahaan.

PwC Indonesia melalui Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 melaporkan bahwa 69% responden pekerja di Indonesia yang disurvei telah menggunakan AI dalam 12 bulan terakhir, sedangkan 16% menyatakan menggunakannya setiap hari. Laporan tersebut juga mencatat bahwa 25% responden Indonesia merasa kewalahan setiap minggu. Survei Indonesia tersebut melibatkan 812 responden dan merupakan bagian dari survei global terhadap hampir 50.000 pekerja di 48 negara dan wilayah.

Data tersebut menunjukkan bahwa perubahan dunia kerja berlangsung cukup cepat. Karena itu, kemampuan untuk terus belajar memang penting. Namun, tuntutan untuk terus berkembang seharusnya tidak membuat seseorang merasa harus bekerja tanpa batas.

Istirahat Bukan Berarti Malas

Salah satu hal yang perlu diubah adalah cara memandang istirahat. Istirahat bukan lawan dari produktivitas. Justru, istirahat merupakan bagian dari kemampuan seseorang menjaga dirinya agar dapat kembali menjalankan aktivitas. Tidak setiap hari harus menghasilkan pencapaian besar. Ada hari untuk bekerja keras, ada hari untuk belajar, dan ada juga hari untuk berhenti sejenak.

Masalahnya, budaya “harus produktif” terkadang membuat seseorang merasa bersalah ketika tidak melakukan apa-apa. Padahal, manusia tidak bisa terus berada dalam kondisi maksimal setiap saat. Produktivitas juga bukan tentang seberapa sibuk seseorang terlihat, tetapi seberapa efektif waktu dan tenaga digunakan untuk mencapai sesuatu yang memang penting.

Belajar Menentukan Batas

Generasi muda tetap perlu memiliki ambisi. Memiliki target, mengejar pendidikan, membangun karier, dan mempelajari keterampilan baru merupakan hal yang baik. Namun, ambisi perlu dibedakan dari tekanan.

Tidak semua kesempatan harus diambil. Tidak semua target harus dicapai sekaligus. Tidak semua waktu kosong harus diisi dengan kegiatan. Kita juga perlu belajar menentukan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, antara belajar dan beristirahat, serta antara berkembang dan memaksakan diri.

Pada akhirnya, kehidupan bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling sibuk. Setiap orang memiliki kemampuan, kondisi, dan perjalanan yang berbeda.

Tidak masalah jika hari ini kita belum mencapai sebanyak orang lain. Yang penting adalah mengetahui apa yang sedang kita tuju dan menjalani prosesnya dengan cara yang sehat. Karena produktif bukan berarti harus selalu sibuk.

Terkadang, berhenti sejenak bukan berarti kehilangan arah. Justru dari sana kita bisa mendapatkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *