
PENGELOLAAN bentang darat dan laut yang terpadu kini menjadi kunci strategis bagi ketahanan ekosistem dan ekonomi Indonesia. Menyadari hal tersebut, para pemangku kepentingan dari berbagai sektor berkumpul dalam acara SOLUSI Day: Integrasi Darat dan Laut untuk Indonesia Tangguh dan Lestari yang digelar di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Kegiatan ini diinisiasi oleh Kementerian PPN/Bappenas dengan dukungan Pemerintah Jerman melalui GIZ Indonesia & ASEAN. Proyek SOLUSI (Solusi Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut Terpadu di Indonesia) dijalankan oleh konsorsium yang terdiri dari Landscape Alliance, SNV, dan Yayasan KEHATI, dengan dukungan pendanaan dari International Climate Initiative (IKI).
Menghapus Sekat Sektoral demi Indonesia Emas 2045
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menegaskan bahwa pengelolaan ekosistem tidak bisa lagi dilakukan secara parsial.
“Keterhubungan antara ekosistem darat, pesisir, dan laut perlu dipertimbangkan dalam perencanaan kebijakan. Pendekatan inklusif sangat dibutuhkan untuk mengejawantahkan kepentingan pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha, sejalan dengan Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Pemanfaatan Ruang Pesisir dan Pulau-pulau Kecil KKP, Permana Yudiarso, menyoroti dampak nyata dari keterhubungan ini. Ia mencontohkan bagaimana pengolahan sampah yang buruk di darat dapat mencemari sungai dan merusak ekosistem mangrove di pesisir. Proyek SOLUSI sendiri diperkirakan memberikan dampak positif bagi lebih dari 5 juta jiwa penduduk di wilayah percontohan.
Peluncuran Lima Dokumen Kebijakan Strategis
Sebagai tonggak penting dalam integrasi bentang darat dan laut (land-and seascapes/LaS), acara ini meresmikan lima dokumen hasil kajian strategis:
| Dokumen Strategis | Fokus Utama |
|---|---|
| Indikator Pengelolaan Darat-Laut Terintegrasi | Standar evaluasi nasional/subnasional berbasis konektivitas ekosistem dan tata kelola inklusif. |
| Pengarusutamaan Gender dalam Keanekaragaman Hayati | Panduan implementasi IBSAP 2020-2045 terkait akses sumber daya dan distribusi manfaat yang adil. |
| Kajian Pengembangan Bioprospeksi | Pemanfaatan bahan hayati berkelanjutan untuk ekonomi hijau dan biru berbasis riset. |
| Strategi Nasional Pendanaan Inovatif | Kerangka pembiayaan berkelanjutan melalui blended finance (publik-swasta). |
| Masterplan Regional Padagimo (Sulawesi Tengah) | Model tata kelola terpadu lintas sektor di Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong. |
Keberlanjutan dan Investasi Hijau
Program Manager Proyek SOLUSI GIZ Indonesia & ASEAN, Yuliana Cahya Wulan, menjelaskan bahwa tantangan lingkungan tidak mengenal batas administrasi. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi harga mati. Proyek ini dilaksanakan di tiga provinsi percontohan: Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, dan Sulawesi Tengah.
Untuk memastikan dampak program tetap terasa setelah proyek berakhir pada 2028, konsorsium SOLUSI telah menyiapkan langkah-langkah strategis:
- Landscape Alliance: Mendorong keterlibatan pihak swasta dalam strategi pembangunan berkelanjutan di tingkat tapak.
- SNV Indonesia: Fokus pada pengembangan komoditas berkelanjutan melalui kemitraan masyarakat dan skema pembiayaan inovatif.
- Yayasan KEHATI: Mengelola investasi hijau senilai EUR 2,8 juta untuk perlindungan spesies endemik (lutung perak, tarsius, dugong, penyu) di area seluas 28 ribu hektar.
Inklusivitas Sosial dan GEDSI
Selain aspek ekologis, Proyek SOLUSI sangat menekankan dimensi sosial. Melalui pendekatan Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI), proyek ini memastikan bahwa masyarakat adat dan komunitas lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga penerima manfaat yang adil dari pengembangan biodiversitas dan bioprospeksi.
Dengan integrasi yang kuat antara kebijakan nasional dan aksi di tingkat tapak, Indonesia optimis dapat menciptakan bentang darat dan laut yang tidak hanya tangguh secara ekologis, tetapi juga mampu menyejahterakan masyarakat secara berkelanjutan. (Z-1)
