Angkatan Laut AS Ungkap Alasan Lonjakan Jumlah Korban Perang Iran
Selat Hormuz.(Al Jazeera)

ANGKATAN Laut Amerika Serikat (AS) menyatakan telah memvalidasi sepenuhnya lonjakan jumlah tentara AS yang terluka dalam Perang Iran. Langkah ini dilakukan setelah data publik mengenai jumlah korban diam-diam diperbarui dan menunjukkan ada puluhan personel tambahan yang cedera dalam konflik tersebut.

Pentagon meningkatkan jumlah korban luka sebanyak 37 personel awal pekan ini, sebagaimana dilaporkan pertama kali oleh The Washington Post pada Jumat (25/9). Pembaruan data pada sistem Defense Casualty Analysis System (DCAS)–database yang melacak tentara AS yang terluka dan tewas dalam operasi militer–tersebut awalnya dilakukan tanpa disertai pengumuman resmi maupun penjelasan dari pihak Pentagon.

Protokol Verifikasi Standar

Dari total 37 personel tambahan tersebut, sebanyak 29 orang merupakan pelaut Angkatan Laut (Navy) dan delapan orang lain ialah anggota Marinir. Pihak Angkatan Laut menegaskan bahwa seluruh 29 pelaut yang terdata telah kembali bertugas aktif, tetapi identitas mereka tidak akan dipublikasikan kepada umum.

“Karena protokol verifikasi standar, pembaruan pada Defense Casualty Analysis System (DCAS) mencatat ada peningkatan statistik baru-baru ini pada korban Angkatan Laut,” ujar seorang juru bicara Angkatan Laut AS dalam pernyataan kepada Newsweek.

Memasuki bulan ketujuh, Perang Iran yang terus memakan korban ini diperkirakan akan semakin tidak populer di mata publik Amerika Serikat, terlebih menjelang pemilihan paruh waktu (midterm). Di sisi lain, Presiden Donald Trump akhir pekan ini menyatakan penolakan proposal Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz, yang telah dikendalikan secara efektif oleh Iran selama berbulan-bulan hingga mengganggu pasokan dan harga bahan bakar global.

Kritik Transparansi dan Klasifikasi Konflik

Sejumlah media massa terus mengkritik aturan pelaporan Pentagon yang dinilai semakin restriktif, termasuk pemotongan akses ke situs-situs Departemen Pertahanan dan stafnya. Meskipun Pentagon mengeklaim diri sebagai departemen perang paling transparan dalam sejarah, mereka tercatat melewati waktu berbulan-bulan tanpa mengadakan pengarahan pers resmi.

Awal bulan ini, The Washington Post melaporkan setidaknya ada empat personel militer AS lagi yang tewas di Timur Tengah sejak Februari melebihi jumlah yang diakui Pentagon secara publik. Laporan yang mengutip enam pejabat AS yang tidak disebutkan namanya itu sempat menuai reaksi keras dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Ia menyebutnya sebagai laporan yang menjijikkan dan palsu saat memberikan kesaksian di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat terkait anggaran tahun fiskal 2027.

Database DCAS sendiri membagi korban Perang Iran ke dalam dua kategori terpisah:

  • Korban yang dicatat selama bulan-bulan pertempuran antara Februari hingga Juni, yang awalnya diberi nama sandi Operation Epic Fury. Selama fase ini, 418 tentara tercatat terluka dalam tugas dan 14 personel tewas.
  • Korban yang tewas atau terluka sejak 7 Juli, yang diklasifikasikan sebagai korban Operasi Luar Negeri (Overseas Operations/OO).

Tanggal 7 Juli menandai runtuhnya gencatan senjata yang sempat diumumkan oleh Presiden Donald Trump pada bulan Juni. Setelah gencatan senjata berakhir, AS kembali meluncurkan serangan udara ke Iran menyusul tindakan Teheran yang menargetkan beberapa kapal dagang di lepas pantai Oman.

Sejumlah anggota parlemen dan pengamat menilai pemisahan kategori setelah 7 Juli ini merupakan upaya pemerintah untuk menghindari keharusan mendapatkan persetujuan Kongres guna melanjutkan operasi militer, sekaligus meminimalkan persepsi publik terhadap dampak nyata yang dialami pasukan AS di wilayah tersebut.

Bahkan, Wakil Presiden JD Vance pada awal September sempat enggan menyebut situasi tersebut sebagai perang. “Saya tidak akan menyebutnya perang. Saat ini tidak ada baku tembak aktif,” katanya.

Rincian Korban sejak Juli

Data DCAS menunjukkan bahwa sejak 7 Juli, terdapat 443 personel AS yang terluka dalam tugas, termasuk 50 personel Angkatan Laut dan sembilan anggota Marinir. Selain itu, lima personel AS dilaporkan tewas di Timur Tengah dengan rincian empat gugur dalam pertempuran (killed in action) dan satu kematian akibat insiden non-tempur.

Serangan Iran sejak 7 Juli sebagian besar menyasar pangkalan militer AS di kawasan tersebut, termasuk serangan terhadap instalasi di Yordania yang menewaskan tiga personel. Satu tentara AS lain tewas di sebuah pangkalan di Irak dalam insiden yang disebut Pentagon sebagai peledakan terkendali pesawat tanpa awak (drone).

Empat personel yang gugur dalam pertempuran diidentifikasi sebagai:

  • Letnan Satu Tyler James Feehan
  • Prajurit Isabella Gonzales
  • Sersan Angel Rampersad
  • Sersan Michael Emmanuel Swinton

Sementara itu, korban tewas kelima diidentifikasi oleh pihak Angkatan Darat sebagai Kapten Bianca C. Wilkerson. Ia dinyatakan meninggal dunia pada 18 September akibat insiden non-tempur saat mendukung operasi luar negeri di Doha, Qatar.(I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *