Pakar Unand Dorong Peningkatan Kompetensi Pemandu Wisata Gunung Api
Peserta melakukan penyelamatan saat simulasi kecelakaan uji kompetensi pemandu wisata panjat tebing di Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Kamis (20/10/2022).(ANTARA/Hendra Nurdiyansyah)

PAKAR pariwisata dari Universitas Andalas (Unand), Sari Lenggogeni, menekankan pentingnya peningkatan kompetensi spesifik bagi para pemandu wisata yang bertugas di kawasan gunung api. Menurutnya, pendampingan dari pemerintah sangat diperlukan agar para pemandu memiliki standar keselamatan yang mumpuni.

Sari menyatakan dukungannya terhadap program Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang telah memasukkan unsur keselamatan dalam pelatihan pemandu. Namun, ia memberikan catatan bahwa untuk destinasi gunung api, kompetensi yang dibutuhkan jauh lebih mendalam dan teknis.

“Pemerintah perlu menganggap pemandu di gunung api tidak hanya sekadar sebagai pemandu wisata, tetapi sebagai komunikator risiko dan pemberi pertolongan pertama,” ujar Sari saat dihubungi di Jakarta, Jumat (25/9).

Kompetensi Khusus dan Manajemen Krisis

Sari merinci sejumlah kemampuan krusial yang harus dimiliki oleh pemandu wisata gunung api. Hal ini mencakup aspek teknis vulkanologi hingga kemampuan psikologis dalam menangani wisatawan saat situasi darurat.








Kategori Kompetensi Cakupan Pelatihan
Teknis Vulkanologi Pemahaman status aktivitas gunung, zona bahaya, dan ancaman vulkanik.
Komunikasi Risiko Menerjemahkan informasi teknis menjadi bahasa sederhana dan membangun perilaku protektif pada wisatawan.
Keselamatan & Medis Pertolongan pertama (First Aid), respon darurat dasar, dan pengambilan keputusan cepat.
Navigasi & Lingkungan Penilaian cuaca (weather assessment), medan (terrain assessment), penggunaan GPS, dan sistem pelacakan digital.

Ia juga menyoroti aspek psikologi wisatawan. Dalam kondisi krisis, pemandu harus mampu mengarahkan wisatawan agar tidak terjebak dalam “panik protektif”, melainkan tetap tenang mengikuti prosedur keselamatan.

Peluang Menjadi Model Dunia

Mengingat posisi Indonesia yang berada di jalur cincin api (ring of fire), Sari melihat adanya peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi model dunia dalam pengelolaan pariwisata gunung berapi yang aman dan tangguh. Meskipun risiko vulkanik tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, Indonesia bisa menjadi yang terbaik dalam memahami dan mengomunikasikan risiko tersebut.

Gunung api, lanjutnya, bukan sekadar aset wisata alam, melainkan laboratorium hidup untuk pendidikan bencana. Tren global saat ini menunjukkan wisatawan semakin mencari pengalaman autentik, geowisata, dan aktivitas yang memberikan dampak emosional kuat seperti trekking kawah dan fotografi lanskap.

“Ada paradoks yang menarik. Semakin unik suatu gunung api sebagai atraksi wisata, semakin besar pula kebutuhan pengelolaan risikonya. Paradigma kita perlu bergeser dari sekadar wisata gunung api menjadi pariwisata gunung berapi yang aman dan tangguh,” tegasnya.

Sertifikasi dan Mitigasi Berkelanjutan

Sebagai langkah konkret, Sari mengusulkan adanya sertifikasi khusus bagi pemandu gunung api yang disertai dengan refreshment training (pelatihan penyegaran) secara berkala. Simulasi periodik juga harus dilakukan dengan melibatkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BPBD, Basarnas, serta pengelola destinasi.

Ia menekankan bahwa mitigasi harus dimulai sejak tahap prakejadian atau prodromal, yakni dengan membaca tanda-tanda risiko dan mempersiapkan respons sebelum bencana terjadi. Strategi manajemen krisis yang meliputi kesiapsiagaan, implementasi, hingga evaluasi harus menjadi satu sistem yang berkelanjutan di setiap destinasi wisata gunung api di Indonesia. (Ant/Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *