IHSG Hari Ini Diprediksi Melemah Jelang Akhir Pekan akibat Aksi Ambil Untung
Pengunjung berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta,(MI/Usman Iskandar)

INDEKS Harga Saham Gabungan atau IHSG hari ini (25/9) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bergerak melemah. Kondisi ini dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) oleh para pelaku pasar menjelang periode akhir pekan.

Meskipun sempat dibuka menguat, IHSG pada pukul 09.40 WIB bergerak memerah dengan penurunan sebesar 13,05 poin atau 0,21 persen ke posisi 6.285,56. Sejalan dengan itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga mengalami pelemahan sebesar 1,35 poin atau 0,22 persen ke posisi 621,91.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengungkapkan bahwa indeks domestik berpotensi mengalami koreksi lanjutan pada hari ini. “Diperkirakan IHSG kembali uji level 6.186 hingga 6.200 pada perdagangan Jumat,” kata Ratna dalam kajiannya di Jakarta.

Sentimen Global dan Kenaikan Yield Obligasi

Dari pasar mancanegara, perhatian investor tertuju pada perkembangan geopolitik dan ekonomi global. Pelaku pasar tengah mencermati kunjungan kenegaraan pertama Presiden China, Xi Jinping, ke Amerika Serikat (AS) sejak tahun 2015. Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Xi Jinping tersebut diperkirakan akan berfokus pada dua topik utama, yakni isu perdagangan internasional dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Di sisi lain, pasar obligasi global tengah mengalami tekanan. Terjadi peningkatan yield (imbal hasil) obligasi jangka menengah dan panjang di sejumlah negara dengan ekonomi terbesar dunia, seperti AS, Jepang, Prancis, hingga Inggris. Lonjakan imbal hasil ini berdampak pada kenaikan nilai utang negara-negara tersebut.

“Kenaikan yield ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga, tekanan inflasi akibat biaya energi yang terus berlanjut, pertumbuhan ekonomi yang lesu, serta tingginya belanja fiskal,” jelas Ratna.

Pergerakan Komoditas dan Bursa Regional

Dari pasar komoditas, harga minyak mentah dunia bergerak menguat. Minyak mentah jenis Brent ditutup naik 3,4 persen ke level 106 dolar AS per barel, sementara jenis WTI menguat hampir 2,7 persen ke posisi 94 dolar AS per barel. Kendati menguat, posisi ini masih berada di bawah level tertinggi sesi perdagangan hari Kamis (24/09), menyusul adanya laporan mengenai pembahasan kesepakatan bertahap antara negosiator AS dan Iran di New York.

Kondisi pasar global yang penuh tekanan turut membayangi penutupan bursa saham di berbagai belahan dunia sebelumnya:

  • Bursa Eropa (Kamis, 24/09): Kompak melemah. Euro Stoxx 50 turun 0,43 persen, FTSE 100 Inggris terpangkas 0,24 persen, DAX Jerman melemah 0,57 persen, dan CAC 40 Prancis berkurang 0,52 persen.
  • Bursa Wall Street AS (Kamis, 24/09): Mayoritas ditutup melemah. Indeks S&P 500 turun tipis 0,02 persen ke level 7.704,13, Dow Jones melemah 0,31 persen ke level 51.349,98, sedangkan Nasdaq Composite naik tipis 0,01 persen ke posisi 26.939,37.
  • Bursa Saham Asia (Jumat Pagi): Bergerak bervariasi cenderung melemah. Indeks Shanghai turun 1,22 persen ke 3.888,37, Hang Seng Hong Kong merosot 1,77 persen ke 24.322,24, dan Straits Times Singapura melemah 0,15 persen ke 5.674,10. Sebaliknya, indeks Nikkei Jepang berhasil menguat 1,28 persen ke posisi 66.350.

Kondisi Likuiditas Domestik dan Rekomendasi Saham

Dari dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Agustus 2026 tumbuh sebesar 8,2 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp10.448,1 triliun. Angka pertumbuhan ini sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan bulan Juli 2026 yang mencapai 8,3 persen (yoy).

Perlambatan M2 tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) yang melambat menjadi 9,0 persen (yoy) dari bulan sebelumnya sebesar 10 persen (yoy). Di sisi lain, pertumbuhan uang kuasi mengalami peningkatan menjadi 6,5 persen (yoy) dari sebelumnya 5,6 persen (yoy).

Komponen giro Rupiah tercatat melambat menjadi 7,1 persen (yoy) dari posisi sebelumnya 10,9 persen (yoy). Namun, tabungan Rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu menunjukkan akselerasi dengan tumbuh 8,9 persen (yoy) dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 6,8 persen (yoy). Sementara itu, tagihan bersih kepada pemerintah pusat mengalami kontraksi sebesar 7,0 persen (yoy), berbalik dari pertumbuhan 4,6 persen (yoy) pada bulan lalu.

Melihat dinamika data ekonomi domestik tersebut, Phintraco Sekuritas menilai fundamental pasar modal Indonesia masih ditopang oleh kondisi internal yang solid. Kombinasi antara pertumbuhan kredit yang ekspansif serta likuiditas yang sehat menjadi sinyal positif bagi saham-saham di sektor perbankan besar (big banks) dan sektor konsumer. Pelaku pasar disarankan dapat melakukan akumulasi secara bertahap pada kedua sektor tersebut. Selain itu, tren kenaikan harga minyak mentah dunia juga berpotensi memberikan katalis positif bagi saham-saham di sektor energi dan industri terkait. (Ant/H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *