Film NAZA Ungkap Penggunaan AI Israel di Gaza, Segera Streaming Gratis
Yuval Abraham dan Rachel Szor.(Al Jazeera)

FILM dokumenter yang menuduh Israel menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan pembunuhan massal warga sipil di Gaza akan segera tersedia untuk ditonton secara gratis secara daring. Penayangan gratis ini akan dilakukan setelah rangkaian peluncuran teatrikal di lebih dari 50 negara selesai.

Sutradara film asal Israel, Yuval Abraham, yang menyutradarai NAZA bersama rekan senegaranya Rachel Szor, mengumumkan bahwa penonton dapat melakukan streaming film pemenang penghargaan ini mulai November mendatang melalui situs web surat kabar Inggris, The Guardian. Diketahui, The Guardian turut membantu memproduksi film tersebut.

“Saya tahu ada permintaan yang sangat besar untuk menonton film ini. Saya berharap dengan cara ini, semua orang akan segera dapat melihatnya: baik di bioskop maupun secara daring dalam beberapa minggu ke depan,” ujar Abraham melalui unggahan di platform X.

Abraham menambahkan bahwa tujuan pembuatan film ini yaitu memicu diskusi publik mengenai tindakan pemerintah Israel di Gaza, pembunuhan lebih dari 73.000 orang yang sebagian besar ialah warga sipil serta normalisasi perang pemusnahan.

NAZA, yang dalam bahasa Ibrani berarti kerusakan kolateral (collateral damage), memiliki durasi 80 menit. Film ini merupakan hasil investigasi selama hampir tiga tahun terhadap perang di Gaza, berdasarkan kesaksian dari sumber militer dan intelijen Israel yang identitasnya dirahasiakan.

Dalam dokumenter tersebut, salah satu subjek menggambarkan proses penggunaan AI untuk membunuh warga Palestina di daerah kantong tersebut sebagai sesuatu yang sangat menyenangkan dan menyamakannya dengan bermain video game. Sumber lain menyebutnya sebagai suatu misi.

Para sumber menjelaskan secara rinci sistem AI yang disebut Lavender, yang digunakan untuk mengidentifikasi target pembunuhan. Israel mengawasi sistem pengawasan massal di Gaza, memantau panggilan telepon, pergerakan, dan interaksi penduduk. Lavender diduga menggunakan data ini untuk memutuskan siapa yang akan dibunuh, dengan tingkat kesalahan yang diyakini mencapai 10 persen.

Kesaksian lain dalam film tersebut mengungkapkan bahwa serangan tetap disetujui meskipun ada pengetahuan bahwa sebanyak 500 warga sipil bisa ikut terbunuh dalam prosesnya.

Kontroversi dan Ancaman di Dalam Negeri

Film NAZA sebelumnya dianugerahi Special Jury Prize di Venice International Film Festival tahun ini. Namun, di dalam negeri, film ini memicu reaksi keras dari pemerintah Israel.

Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar, sempat menyerukan agar kewarganegaraan Abraham dan Szor dicabut dan menuduh mereka melakukan pengkhianatan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga berjanji untuk mengesahkan undang-undang yang akan mencabut kewarganegaraan siapa pun yang dianggap memfitnah tentara Israel.

Menanggapi tuduhan tersebut, Abraham menegaskan posisinya. “Jurnalisme bukanlah pengkhianatan. Kritik bukanlah pengkhianatan. Adalah tugas setiap warga negara yang pemerintahnya melakukan kejahatan untuk mengetahui dan tugas setiap tentara yang menyaksikannya untuk menceritakannya,” tegasnya.

Ia meyakini bahwa ribuan tentara Israel akan menonton film ini dan mengenali kondisi yang digambarkan di dalamnya secara pribadi. “Meskipun menakutkan, adalah tugas Anda untuk menemukan cara untuk bersaksi atas apa yang Anda lihat,” pungkas Abraham.

Setelah tayang di berbagai negara termasuk Inggris, Prancis, Jerman, dan Kanada, NAZA dijadwalkan tayang perdana di Amerika Serikat pada hari Sabtu di New York Film Festival. (Al Jazeera/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *