Dari Kreasi hingga Pasar, Ekosistem Seni Indonesia Terus Diperkuat
President Director UOB Indonesia, Hendra Gunawan dan Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Kementerian Ekonomi Kreatif Dadam Mahdar bersama Pemenang UOB Painting of the Year (POY) (Indonesia) kategori Established Artist, Begok Oner melalui karyanya yang(Dok UOB)

SEBANYAK karya finalis 16th UOB Painting of the Year (POY) Indonesia dipamerkan di The Melting Pot, Lantai Dasar ASHTA District 8, Jakarta, mulai 24 September hingga 10 Oktober 2026. Pameran tersebut menjadi ruang bagi seniman untuk memperluas jangkauan karya sekaligus mempertemukan seni dengan publik dan pasar.

Pameran yang menampilkan delapan karya pemenang itu juga menjadi bagian dari Oktober Kreasi, kampanye nasional Kementerian Ekonomi Kreatif untuk merayakan perkembangan ekonomi kreatif dan keberagaman subsektor kreatif Indonesia.

Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Kementerian Ekonomi Kreatif Dadam Mahdar mengatakan pengembangan seni rupa membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, kata dia, tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan dunia usaha, komunitas, akademisi, media, dan lembaga keuangan.

“Pemerintah tidak bisa sendiri. Kami yakin dengan bantuan teman-teman UOB, ketemulah antara seniman dan buyer,” kata Dadam di Jakarta Selatan, Kamis (24/9).

Ia mengatakan pemerintah mendorong penguatan ekosistem melalui lima mata rantai industri kreatif, yakni kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, dan konservasi. Pada tahap kreasi, pemerintah memberikan dukungan melalui inkubasi dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas seniman. Sedangkan pada tahap produksi, pendampingan diarahkan pada peningkatan kualitas karya, pengemasan, hingga kemampuan membaca kebutuhan pasar.

“Bagaimana produksinya itu bisa bagus, pengemasannya, bahkan kita dampingi bagaimana produksi-produksi tersebut bisa diminati oleh pasar saat ini,” ujarnya.

Dadam menilai keterlibatan dunia usaha menjadi penting pada tahap distribusi. Seniman membutuhkan akses yang lebih luas agar karya mereka dapat bertemu dengan pembeli dan kolektor.

Menurutnya, pameran juga tidak cukup hanya menjadi ruang apresiasi. Interaksi antara seniman, pengunjung, dan kolektor perlu diarahkan untuk membuka peluang transaksi sehingga karya memiliki nilai ekonomi.

“Bagaimana nanti dengan para pengunjung, tapi juga ada transaksi dengan kolektor dan sebagainya,” katanya.

Sementara, Head of Strategic Communication and Brand UOB Indonesia Luke Ariefiandi mengatakan keterlibatan UOB dalam seni merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap komunitas dan masyarakat, sejalan dengan tujuan UOB membangun masa depan ASEAN.

“Selain sebagai sebuah bank yang men-support ekonomi di Indonesia, kita juga memiliki kewajiban terhadap komunitas dan society. Di sini, selain pendidikan dan anak-anak, salah satunya adalah seni,” ujar Luke.

UOB POY pertama kali digelar di Singapura pada 1982 dan hadir di Indonesia sejak 2011. Tahun ini, kompetisi tersebut memasuki penyelenggaraan ke-45 di tingkat regional dan ke-16 kalinya di Indonesia.

Luke mengatakan perjalanan panjang tersebut membuat POY tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi berkembang sebagai platform untuk membangun komunitas dan jejaring alumni seniman.

“Kita selalu melihatnya sebagai beyond competition. Kita melihatnya sebagai sebuah platform. Kita mencoba membangun sebuah komunitas, bahkan alumni network dari Painting of the Year,” katanya.

Menurut Luke, pemenang POY Indonesia juga memiliki kesempatan melanjutkan kompetisi ke tingkat regional di Singapura bersama para pemenang dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. Selama 16 tahun penyelenggaraan di Indonesia, tujuh seniman Indonesia telah meraih gelar Southeast Asian Winner. Capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan seniman Indonesia memperoleh pengakuan dan eksposur di tingkat regional. 

Dukungan UOB juga diberikan setelah kompetisi melalui berbagai program pengembangan, termasuk art talk serta pembekalan personal branding, kemampuan komunikasi, dan literasi keuangan. UOB juga mendukung pameran regional dan program residensi seni di luar negeri. Luke mengatakan pengembangan kemampuan di luar aspek artistik diperlukan agar seniman mampu membangun karier secara berkelanjutan.

“Seniman juga perlu personal branding. Kemampuan komunikasi juga sangat penting. Kita ingin melengkapi skill yang dibutuhkan seniman untuk berkembang,” ujarnya.

Melalui UOB Artist Alumni Network, para seniman juga dapat memperluas koneksi dengan berbagai pelaku dalam ekosistem seni. Jejaring tersebut sekaligus membuka peluang bagi seniman untuk menjangkau audiens baru di tingkat regional dan global. (E-4)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *