
KASUS Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mengalami peningkatan cukup signifikan. Lonjakan kasus ini dipicu oleh musim kemarau panjang serta maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memperburuk kualitas udara.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya periode Januari-Agustus, tercatat sebanyak 14.951 pasien mendapatkan pengobatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KHZ Musthafa, puskesmas, serta fasilitas kesehatan lainnya hingga dinyatakan sembuh.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya, Otong Kusmana, menjelaskan bahwa cuaca kering dan debu jalanan menjadi faktor utama meluasnya paparan penyakit ini pada balita, anak-anak, hingga remaja.
“Sejak Januari hingga Agustus memang ada peningkatan kasus lantaran kondisi cuaca tidak menentu, jalan berdebu, sesak napas kambuh, polusi udara kurang hingga banyak kebakaran lahan. Berdasarkan data kasus ISPA tercatat 14.951 orang dan para pasien mengalami gejala batuk, hidung tersumbat, demam, sulit bernapas,” ujar Otong Kusmana, Kamis (24/9).
DAMPAK EL NINO DAN KRISIS AIR BERSIH
Otong menambahkan, fenomena El Nino membawa dampak sistemik yang tidak hanya memicu karhutla, tetapi juga memperluas krisis air bersih hingga ke pelosok pedesaan. Hal ini turut mempercepat penularan dan pemburukan kondisi kesehatan masyarakat.
Meski demikian, ia mencatat sebagian besar kasus ISPA yang ditemukan bukanlah jenis pneumonia, melainkan kambuhnya keluhan pernapasan seperti asma.
“Setiap hari pasien mengeluhkan batuk, bersin, hidung meler, sakit kepala, suara serak, hidung tersumbat. Namun, pasien yang datang ke puskesmas maupun rumah sakit disebabkan pengaruh cuaca panas, berdebu, jalan gersang, lahan kering serta konsumsi air lantaran masyarakat selama ini mengandalkan bantuan,” katanya.
Dari belasan ribu laporan pasien yang masuk sepanjang Januari–Agustus, kelompok balita dan anak-anak menjadi penderita terbanyak. Kondisi lingkungan yang dipenuhi debu dan polusi udara akibat kebakaran lahan mempercepat penyebaran infeksi pada saluran pernapasan anak.
Guna mencegah lonjakan kasus yang lebih luas, Dinas Kesehatan mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan mandiri dan segera mengakses layanan kesehatan terdekat bila mengalami gejala.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat guna mengantisipasi penyakit ISPA agar memakai masker, karena kondisi cuaca panas, kering, berdebu, kebakaran lahan maupun rumah berpengaruh pada saluran pernapasan. Namun, warga yang terserang agar melakukan pemeriksaan dengan mendatangi fasilitas kesehatan,” pungkasnya. (AD/P-2)
