
KETUA Komisi XII DPR RI yang juga Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Melchias Markus Mekeng, MH mendukung upaya pemerintah memperbesar pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk memperkuat ketahanan energi dan keandalan sistem kelistrikan nasional. Hal tersebut disampaikan Mekeng dalam FGD Komisi XII DPR RI bersama PLN bertema “Sinergi Penguatan Ketahanan Energi dan Keandalan Sistem Ketenagalistrikan Nasional”.
Mekeng menilai pengembangan EBT merupakan bagian penting untuk mendukung agenda Presiden Prabowo Subianto mewujudkan swasembada energi yang saat ini terus didorong melalui berbagai kebijakan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
“Kita mendukung agenda Presiden Prabowo untuk swasembada energi dan langkah yang dijalankan Menteri ESDM. Kita punya matahari, air, panas bumi, bioenergi dan sumber energi lainnya. Jadi sekarang bagaimana semua potensi ini kita manfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan energi kita sendiri,” kata Mekeng dikutip Kamis (24/9).
Mekeng menyoroti RUPTL 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW. Dari jumlah tersebut, sekitar 76 persen atau 52,9 GW berasal dari EBT dan storage, yang terdiri dari 42,6 GW EBT dan 10,3 GW sistem penyimpanan energi. Menurutnya, arah tersebut menunjukkan semakin besarnya peran sumber energi domestik dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional.
“EBT kita tambah, itu bagus. Tetapi jangan kemudian reliability-nya terganggu. Listrik itu harus tersedia 24 jam. Masyarakat butuh, industri juga butuh. Jadi EBT bertambah, sistemnya juga harus semakin kuat,” tegas Mekeng.
Karena itu, Mekeng menilai pengembangan pembangkit EBT harus berjalan bersama dengan penguatan jaringan transmisi, interkoneksi dan sistem penyimpanan energi. Ia juga mendukung arahan Presiden Prabowo dalam pengembangan PLTS 100 GWp yang diarahkan untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional. Program tersebut telah mulai dijalankan pemerintah pada Agustus 2026.
“Kalau energi matahari yang kita punya bisa semakin banyak menggantikan BBM untuk pembangkit, tentu ini bagus. Kita kurangi BBM, biaya bisa ditekan, dan ketergantungan terhadap energi dari luar juga semakin berkurang. Tetapi sistemnya harus disiapkan, termasuk storage dan transmisinya, supaya listrik tetap reliable,” ujarnya.
Mekeng menegaskan pengembangan EBT jangan hanya dipandang sebagai agenda energi hijau. Menurutnya, pemanfaatan sumber energi domestik merupakan bagian dari upaya membangun ketahanan energi agar Indonesia semakin mampu memenuhi kebutuhan energinya dengan kekuatan sendiri.
“Jadi jangan kita melihat EBT hanya sebagai soal green energy. Ini juga soal energy security. Kita punya sumber energinya, kita manfaatkan sendiri, listriknya reliable, dan ketergantungan dari luar kita kurangi. Itu esensi swasembada energi yang menjadi agenda Presiden Prabowo dan harus kita kawal bersama,” pungkas Mekeng. (E-4)
