
PT Prodia Widyahusada Tbk berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini thalassemia melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Tahun ini, Prodia memperluas edukasi dan skrining thalassemia ke wilayah Banyumas dengan berkolaborasi bersama Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menggelar seminar dan skrining thalassemia di Auditorium Ukhuwah Islamiyah UMP.
Program yang melibatkan 1.000 mahasiswa UMP tersebut merupakan bagian dari implementasi pilar keberlanjutan Prodia, yakni *Promoting Healthcare Services for All dan Involving People, serta turut mendukung pencapaian SDGs 3: Good Health and Well-being melalui perluasan akses pemeriksaan kesehatan, edukasi, dan keterlibatan generasi muda dalam menjaga kesehatan.
Kegiatan dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Banyumas Dani Esti Novia, Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jebul Suroso, Finance & Sustainability Director Prodia Marina Eka Amalia, Ketua III Yayasan Thalassemia Indonesia (YTI) Kabupaten Banyumas Wahyono, serta Ketua Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI) Kabupaten Banyumas Siti Aminah.
“Sebanyak 1.000 mahasiswa mengikuti edukasi dan skrining agar dapat menyampaikan informasi ini kepada keluarga dan teman. Saat ini di Banyumas terdapat sekitar 657 pasien thalassemia yang sedang menjalani perawatan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dan RSUD Banyumas. Jika berbicara soal thalassemia, ada pasien yang membutuhkan perawatan dan pengobatan berkelanjutan, ada keluarga yang terus-menerus mendampingi, serta ada biaya dan perhatian yang harus diberikan secara berkelanjutan,” kata Dani.
Dani menegaskan, untuk memutus mata rantai thalassemia, seluruh pemangku kepentingan tidak hanya fokus pada pengobatan pasien, tetapi juga pada upaya pencegahan.
Thalassemia merupakan kelainan darah yang berkaitan dengan pembentukan hemoglobin dan dapat diturunkan secara genetik (herediter). Seseorang yang membawa sifat (carrier) thalassemia dapat terlihat sehat dan tidak selalu menunjukkan gejala. Karena itu, edukasi dan skrining menjadi langkah penting untuk membantu masyarakat mengetahui kondisi dirinya lebih awal.
Mahasiswa menjadi salah satu kelompok penting untuk mendapatkan pemahaman mengenai thalassemia sejak dini, termasuk pentingnya mengenali kondisi kesehatan diri sebagai bekal dalam mempersiapkan masa depan. Pelaksanaan skrining dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kapasitas pemeriksaan dan stabilitas sampel.
Dengan target 1.000 peserta, pengambilan sampel dilakukan pada 17–24 September 2026 di kawasan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Rangkaian kegiatan juga menghadirkan seminar bersama klinisi patologi klinik/dokter spesialis imunologi, Tonang Dwi Ardyanto.
“Indonesia termasuk wilayah dengan prevalensi thalassemia yang cukup tinggi, dengan sekitar 3–10% populasi merupakan pembawa sifat thalassemia. Indonesia berada di kawasan thalassemia belt dan menjadi salah satu wilayah dengan angka hemoglobinopati yang cukup tinggi,” kata Tonang. (X-6)
