
KEBIASAAN menaikkan volume televisi, sering meminta lawan bicara mengulang kalimatnya, atau kesulitan mendengar di tempat bising sering kali dianggap sebagai tanda penuaan biasa. Namun, bagi para penyandang diabetes, gejala tersebut tidak boleh disepelekan.
Sebuah tinjauan ilmiah baru yang menganalisis 29 studi menemukan fakta mengejutkan: penyandang diabetes memiliki risiko lebih than dua kali lipat mengalami gangguan pendengaran tingkat sedang hingga berat, dengan dampak terkuat justru terlihat pada usia di bawah 60 tahun.
Kaitan Erat Gula Darah Tinggi dan Fungsi Telinga
Menurut para peneliti, lonjakan gula darah yang terjadi secara kronis seiring waktu dapat merusak pembuluh darah dan jaringan saraf di seluruh tubuh, termasuk di area telinga bagian dalam yang sangat bergantung pada suplai darah sehat untuk memproses gelombang suara.
Meskipun faktor usia membuat penurunan pendengaran menjadi hal yang lumrah pada lansia, data menunjukkan bahwa kelompok usia produktif di bawah 60 tahun dengan diabetes menghadapi risiko hingga tiga kali lipat lebih tinggi mengalami masalah pendengaran signifikan.
Deteksi Dini dan Langkah Pencegahan
Karena kerusakan pendengaran akibat kondisi ini umumnya bersifat permanen, deteksi dini menjadi kunci utama. Segera konsultasikan ke dokter atau lakukan pemeriksaan audiometri jika Anda mulai mengalami tanda-tanda berikut:
- Sering meminta orang lain mengulangi ucapan mereka di ruangan yang tenang.
- Tanpa sadar terus menaikkan volume suara televisi atau gawai.
- Merasa kesulitan membedakan satu suara di tengah keramaian atau latar belakang yang bising.
Dengan mengenali risiko ini lebih awal, penyandang diabetes dapat mengambil langkah penanganan yang tepat, seperti menggunakan alat bantu dengar atau menyesuaikan strategi komunikasi demi menjaga kualitas hidup yang optimal.
(MindBodyGreen/P-4)
