Burnout pada Generasi Z: Antara Tekanan Media Sosial, Akademik, dan Dunia Kerja
Fahmilia Lutfiani, Program Studi Manajemen – Universitas Pamulang(Dok.Pribadi)

Pendahuluan

“Kenapa aku capek terus, ya?”

Pertanyaan sederhana itu mungkin pernah muncul ketika seseorang sedang duduk di depan laptop, menatap tugas yang belum selesai, sementara ponsel di sampingnya terus berbunyi. Bukan karena melakukan pekerjaan fisik yang berat. Bukan juga karena seharian berada di luar rumah. Namun, entah mengapa energi rasanya sudah habis.

Belum selesai memikirkan tugas kuliah, muncul notifikasi dari grup organisasi. Saat membuka media sosial untuk sekadar mencari hiburan, justru muncul unggahan teman yang mendapatkan beasiswa, memenangkan lomba, diterima di perusahaan impian, atau sedang menikmati liburan.

Tanpa sadar, muncul pikiran lain.

“Teman-teman sudah sejauh itu, aku kapan?”

Di sinilah masalahnya sering dimulai.

Generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang hampir tidak pernah benar-benar berhenti. Informasi datang setiap detik, media sosial selalu aktif, tuntutan pendidikan semakin beragam, dan dunia kerja meminta anak muda untuk terus mengembangkan kemampuan. Di satu sisi, keadaan tersebut memberikan banyak peluang. Namun di sisi lain, ada harga yang harus dibayar: pikiran yang sulit beristirahat.

Fenomena kelelahan akibat tekanan berkepanjangan semakin sering menjadi pembicaraan di kalangan anak muda. Dalam dunia kerja, kondisi ini berkaitan dengan burnout. World Health Organization (WHO) mendefinisikan burnout sebagai fenomena akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola, dengan ciri seperti kehabisan energi, semakin menjauh secara mental dari pekerjaan, dan menurunnya efektivitas profesional. WHO juga menegaskan bahwa burnout bukan diklasifikasikan sebagai kondisi medis.

Namun, persoalan yang dihadapi Gen Z tidak hanya muncul ketika mereka sudah bekerja. Tekanan dapat dimulai jauh sebelumnya, dari lingkungan pendidikan, media sosial, hingga tuntutan untuk menjadi “sukses” sejak usia muda.

Lalu, mengapa generasi yang masih muda justru bisa merasa begitu lelah?

Ketika Media Sosial Membuat Hidup Orang Lain Terlihat Lebih Baik

Media sosial pada awalnya diciptakan untuk menghubungkan manusia. Sekarang, fungsinya jauh lebih besar. Media sosial menjadi tempat mencari hiburan, informasi, pekerjaan, bahkan membangun identitas diri.

Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: apa yang kita lihat di media sosial bukan keseluruhan kehidupan seseorang.

Kita melihat teman mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak melihat berapa kali ia gagal dalam proses melamar. Kita melihat seseorang berlibur, tetapi tidak mengetahui masalah yang sedang ia hadapi. Kita melihat pencapaian orang lain, tetapi tidak mengetahui perjalanan panjang di belakangnya.

Sayangnya, otak manusia tidak selalu membedakan antara “apa yang ditampilkan” dan “kehidupan sebenarnya”.

Akhirnya, kehidupan sendiri terasa kurang menarik dibandingkan kehidupan orang lain.

Scroll.

Bandingkan.

Merasa tertinggal.

Scroll lagi.

Siklus tersebut dapat berlangsung berjam-jam.

Yang lebih melelahkan adalah ketika media sosial dibawa sampai ke waktu istirahat. Tubuh sudah berada di tempat tidur, tetapi tangan masih menggulir layar. Bukannya mendapatkan istirahat, otak justru menerima semakin banyak informasi.

Pada titik tertentu, seseorang bukan hanya lelah karena aktivitas yang dilakukan, tetapi juga karena terlalu banyak hal yang masuk ke pikirannya.

FOMO: Takut Ketinggalan di Dunia yang Bergerak Terlalu Cepat

Selain kebiasaan membandingkan diri, Gen Z juga sangat dekat dengan istilah FOMO atau Fear of Missing Out.

Takut ketinggalan tren.

Takut tidak mengetahui informasi terbaru.

Takut tidak ikut acara bersama teman.

Takut melewatkan kesempatan.

Bahkan takut tertinggal dari pencapaian orang lain.

Perasaan tersebut membuat seseorang terus ingin terhubung. Ponsel diperiksa berkali-kali, notifikasi segera dibuka, dan media sosial menjadi bagian dari hampir setiap jeda dalam aktivitas. Masalahnya, tidak semua hal perlu kita ikuti.

Dunia akan tetap berjalan meskipun kita tidak mengetahui tren terbaru hari ini. Teman-teman akan tetap menjalani hidup mereka meskipun kita tidak selalu mengikuti setiap kegiatan. Dan orang lain tetap akan mencapai sesuatu meskipun kita sedang beristirahat.

Namun, di tengah dunia digital yang bergerak cepat, memahami hal tersebut ternyata tidak selalu mudah.

Kuliah Bukan Lagi Sekadar Mengejar Nilai

Bagi banyak mahasiswa Gen Z, tekanan akademik tidak berhenti pada nilai.

Ada tuntutan untuk aktif berorganisasi. Ada keinginan untuk mengikuti perlombaan. Ada kebutuhan mencari pengalaman magang. Ada sertifikat yang ingin dikumpulkan. Ada portofolio yang harus dibangun. Semua kegiatan tersebut memang memiliki manfaat.

Masalahnya muncul ketika seorang mahasiswa merasa harus melakukan semuanya sekaligus.

Pagi kuliah.

Siang mengerjakan tugas.

Sore rapat organisasi.

Malam mengerjakan proyek.

Setelah itu masih harus belajar untuk ujian.

Keesokan harinya dimulai lagi.

Dalam kondisi seperti itu, waktu istirahat sering menjadi korban pertama. Lebih parah lagi, ada mahasiswa yang merasa bersalah ketika tidak melakukan apa-apa. Saat sedang beristirahat, muncul pikiran bahwa orang lain sedang belajar, bekerja, atau mengejar prestasi. Padahal, beristirahat bukan berarti tidak memiliki tujuan. Justru tanpa istirahat yang cukup, kemampuan untuk belajar dan bekerja dapat ikut terganggu.

Budaya “Harus Produktif” dan Rasa Bersalah Saat Beristirahat

Media sosial juga memperkenalkan budaya produktivitas dengan cara yang sangat menarik.

Kita sering melihat konten “morning routine”, “day in my life”, tips belajar, tips bekerja, hingga konten tentang bagaimana seseorang dapat mencapai banyak hal dalam satu hari. Konten semacam itu bisa menjadi motivasi.

Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan.

Ketika produktivitas dijadikan ukuran keberhasilan diri, seseorang bisa merasa bersalah hanya karena beristirahat.

Tidur dianggap membuang waktu.

Bermain dianggap tidak produktif.

Menonton film dianggap tidak berguna.

Bahkan mengambil satu hari untuk tidak melakukan apa-apa bisa terasa seperti sebuah kesalahan.

Padahal, manusia mempunyai batas.

Tidak ada seseorang yang bisa terus bekerja dengan energi yang sama setiap hari. Istirahat bukan tanda seseorang kehilangan ambisi. Istirahat adalah bagian dari menjaga kemampuan agar dapat terus berjalan.

Setelah Lulus, Tekanan Tidak Otomatis Hilang

Banyak mahasiswa mungkin berpikir bahwa setelah lulus kuliah, semuanya akan menjadi lebih mudah.

Kenyataannya, tantangan hanya berubah bentuk.

Setelah lulus, muncul pertanyaan baru:

“Sudah dapat kerja?”

“Kerja di mana?”

“Gajinya berapa?”

“Kapan naik jabatan?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar biasa. Namun jika terus diterima, terutama ketika seseorang masih mencari arah, tekanan dapat semakin besar.

Dunia kerja juga membawa tantangan tersendiri. Pekerja muda harus beradaptasi dengan lingkungan baru, memahami tanggung jawab, memenuhi target, dan terus meningkatkan keterampilan.

Survei Deloitte 2025 terhadap lebih dari 23.000 Gen Z dan milenial di 44 negara menunjukkan bahwa lebih dari 80% responden menyebut kondisi keuangan jangka panjang dan keuangan sehari-hari sebagai faktor yang berkontribusi terhadap kecemasan atau stres. Dalam survei yang sama, 40% Gen Z mengatakan mereka merasa stres atau cemas sepanjang atau hampir sepanjang waktu. Responden juga menyebut jam kerja panjang dan kurangnya penghargaan sebagai faktor yang berkontribusi terhadap stres.

Artinya, persoalan Gen Z di dunia kerja bukan sekadar soal ingin cepat sukses. Ada kekhawatiran mengenai uang, masa depan, keseimbangan hidup, dan makna pekerjaan.

Dunia Kerja yang Selalu Terhubung

Teknologi memang membuat pekerjaan menjadi lebih mudah.

Namun, teknologi juga membuat pekerjaan bisa mengikuti seseorang sampai ke rumah.

Pesan dari atasan masuk melalui WhatsApp.

Email kantor muncul di malam hari.

Rapat dilakukan secara daring.

Laptop kerja bisa dibuka dari kamar.

Akibatnya, batas antara “waktu kerja” dan “waktu pribadi” semakin tipis.

Data American Psychological Association dalam survei Work in America 2024 menunjukkan bahwa 67% pekerja yang disurvei melaporkan setidaknya satu pengalaman pada bulan sebelumnya yang sering dikaitkan dengan burnout, seperti kurangnya minat atau motivasi, energi rendah, merasa kesepian atau terisolasi, dan berkurangnya usaha dalam pekerjaan.

Pada pekerja berusia 18–25 tahun dalam survei tersebut, 48% mengatakan mereka biasanya merasa tegang atau stres selama hari kerja. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan di tempat kerja memang menjadi persoalan yang perlu diperhatikan, meskipun data tersebut berasal dari pekerja di Amerika Serikat dan tidak dapat dianggap mewakili seluruh Gen Z di Indonesia.

Gen Z dan Keinginan untuk Berhasil Secepat Mungkin

Ada satu tekanan lain yang sering tidak disadari: keinginan untuk sukses di usia muda.

Kita hidup di zaman ketika cerita kesuksesan seseorang dapat muncul di layar ponsel hanya dalam beberapa detik.

“Umur 22 tahun sudah punya bisnis.”

“Usia 24 tahun sudah menjadi manajer.”

“Baru lulus langsung mendapatkan pekerjaan impian.”

Cerita tersebut memang bisa menginspirasi.

Tetapi masalah muncul ketika cerita orang lain dijadikan patokan untuk menilai kehidupan sendiri.

Padahal, setiap orang memiliki kondisi yang berbeda.

Ada yang memiliki kesempatan lebih besar.

Ada yang harus bekerja sambil kuliah.

Ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan bidang yang cocok.

Ada yang baru menemukan tujuan hidup setelah mencoba beberapa hal.

Tidak ada jadwal resmi tentang kapan seseorang harus berhasil.

Sayangnya, media sosial membuat kita sering merasa bahwa kita sedang terlambat.

Padahal mungkin kita hanya sedang berjalan di jalan yang berbeda.

“Aku Bukan Malas, Aku Mungkin Sedang Kelelahan”

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi penting.

Tidak semua penundaan berarti malas.

Tidak semua kehilangan motivasi berarti tidak punya tujuan.

Tidak semua keinginan untuk sendirian berarti tidak peduli dengan orang lain.

Terkadang tubuh dan pikiran memang sedang meminta jeda.

Namun, penting juga untuk tidak sembarangan menyebut setiap rasa lelah sebagai burnout. WHO sendiri menggunakan istilah burnout secara khusus untuk fenomena yang berkaitan dengan stres kronis dalam konteks pekerjaan.

Karena itu, jika seseorang mengalami kelelahan dalam konteks pendidikan, lebih tepat membicarakannya sebagai tekanan atau kelelahan akademik. Sementara dalam pekerjaan, burnout memiliki pengertian yang lebih spesifik.

Perbedaan ini penting agar kita tidak menjadikan istilah burnout sekadar tren.

Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan?

Tidak ada satu solusi yang berlaku untuk semua orang.

Namun, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.

Pertama, belajar menentukan prioritas. Tidak semua kesempatan harus diambil. Tidak semua kegiatan harus diikuti.

Kedua, memberikan batas terhadap media sosial. Jika setelah melihat konten tertentu kita justru merasa semakin rendah diri, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak.

Ketiga, jangan menganggap istirahat sebagai kemunduran. Tidur yang cukup, makan dengan baik, berolahraga, dan memiliki waktu untuk melakukan hal yang disukai merupakan bagian dari menjaga diri.

Keempat, buat batas antara kehidupan akademik atau pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Ketika sudah selesai bekerja, tidak semua pesan harus langsung dibalas jika memang tidak mendesak.

Kelima, belajar mengatakan “tidak”.

Kalimat tersebut mungkin sulit bagi sebagian orang. Namun, mengatakan tidak pada sesuatu yang tidak sanggup kita lakukan bukan berarti egois. Justru itu bisa menjadi bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Dan yang terakhir, jangan menyimpan semuanya sendirian.

Jika tekanan yang dirasakan sudah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, tidur, atau kemampuan menjalankan tanggung jawab, berbicara dengan orang yang dipercaya atau mencari bantuan profesional dapat menjadi pilihan yang tepat.

Penutup

Gen Z bukan generasi yang terlalu lemah untuk menghadapi kehidupan.

Mereka hanya tumbuh di zaman yang berbeda.

Zaman ketika keberhasilan orang lain bisa dilihat setiap hari.

Zaman ketika informasi tidak pernah berhenti.

Zaman ketika seseorang dituntut untuk belajar, bekerja, membangun karier, menjaga kesehatan, memiliki kehidupan sosial, dan pada saat yang sama tetap terlihat baik-baik saja.

Tidak mengherankan jika sebagian anak muda akhirnya merasa lelah.

Persoalannya bukan selalu karena mereka kurang kuat. Terkadang, mereka hanya terlalu lama memaksa diri untuk terus berjalan.

Mungkin selama ini kita terlalu sering bertanya, “Apa yang sudah kamu capai?”

Padahal ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:

“Bagaimana keadaanmu selama mengejar semua itu?”

Menjadi muda tidak berarti memiliki energi tanpa batas. Tidak semua hari harus produktif. Tidak semua kesempatan harus diambil. Dan tidak semua orang harus mencapai tujuan pada waktu yang sama.

Berhenti sebentar bukan berarti menyerah.

Terkadang, berhenti justru merupakan cara agar kita bisa melanjutkan perjalanan dengan lebih baik.

Daftar Pustaka

American Psychological Association. (2024). 2024 Work in America survey: Psychological safety in the changing workplace. American Psychological Association. https://www.apa.org/pubs/reports/work-in-america/2024

Deloitte. (2025). 2025 Gen Z and millennial survey: Pursuing a balance of money, meaning, and well-being. Deloitte Insights. https://www.deloitte.com/us/en/insights/topics/talent/2025-gen-z-millennial-survey.html

World Health Organization. (2019). Burn-out an “occupational phenomenon”: International Classification of Diseases. World Health Organization. https://www.who.int/news/item/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon-international-classification-of-diseases

World Health Organization. (n.d.). Burn-out an occupational phenomenon. World Health Organization. https://www.who.int/standards/classifications/frequently-asked-questions/burn-out-an-occupational-phenomenon

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *