
BUNUH diri merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang besar karena merenggut nyawa lebih dari 720.000 orang setiap tahunnya. Padahal hilangnya setiap nyawa membawa dampak sosial, emosional, dan ekonomi yang mendalam, serta sangat memengaruhi keluarga, teman, tempat kerja, dan seluruh masyarakat di berbagai belahan dunia. Apa yang sebaiknya dilakukan?
Bunuh diri merupakan penyebab kematian terbanyak ketiga pada kelompok usia 15–29 tahun. Kelompok ini adalah remaja dan dewasa muda. Tujuh puluh tiga persen kasus bunuh diri secara global terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Penyebab bunuh diri bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, biologis, psikologis, serta lingkungan yang muncul sepanjang perjalanan hidup seseorang. Untuk setiap kasus bunuh diri, terdapat jauh lebih banyak orang yang melakukan percobaan bunuh diri. Riwayat percobaan bunuh diri sebelumnya merupakan faktor risiko penting bagi tindakan bunuh diri di masyarakat umum.
GANGGUAN JIWA
Kaitan antara bunuh diri dan gangguan jiwa (khususnya depresi dan gangguan penggunaan alkohol) serta riwayat percobaan bunuh diri sebelumnya telah terbukti secara kuat di banyak negara berpenghasilan tinggi. Namun, banyak kasus bunuh diri terjadi secara impulsif pada saat krisis, ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk mengatasi tekanan hidup, seperti perundungan, beban pendidikan, masalah keuangan, konflik hubungan, atau rasa sakit dan penyakit kronis. Selain itu, pengalaman menghadapi konflik, bencana, kekerasan, perlakuan kejam (abuse), atau kehilangan, serta perasaan terisolasi, sangat erat kaitannya dengan perilaku bunuh diri. Angka bunuh diri juga tinggi di kalangan kelompok rentan yang mengalami diskriminasi, seperti pengungsi dan migran, masyarakat adat, individu lesbian, gay, biseksual, transgender, dan interseks (LGBTI), serta narapidana.
Terdapat beberapa langkah yang dapat diambil pada tingkat populasi, subpopulasi, dan individu remaja untuk mencegah bunuh diri dan tindakan melukai diri sendiri. Misalnya Live Life, sebuah inisiatif WHO untuk pencegahan bunuh diri, merekomendasikan intervensi utama yang efektif dan berbasis bukti sebagai berikut:
Pertama, membatasi akses terhadap sarana untuk melakukan bunuh diri (misalnya pestisida, senjata api, obat-obatan tertentu). Kedua, berinteraksi dengan media untuk mendorong pemberitaan yang bertanggung jawab mengenai bunuh diri. Ketiga, membina keterampilan hidup sosial-emosional pada remaja; serta keempat, melakukan identifikasi dini, penilaian, penanganan, dan tindak lanjut terhadap siapa pun yang terdampak oleh perilaku bunuh diri.
Upaya pencegahan bunuh diri memerlukan koordinasi dan kolaborasi di antara berbagai sektor, termasuk kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, pertanian, dunia usaha, peradilan, hukum, pertahanan, politik, dan media. Mengingat sifat bunuh diri yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek, berbagai upaya ini harus bersifat komprehensif dan terintegrasi.
Stigma, khususnya yang terkait dengan gangguan jiwa dan bunuh diri, menyebabkan banyak remaja yang memiliki niat untuk mencoba bunuh diri tidak mencari bantuan sehingga mereka tidak mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan. Pencegahan bunuh diri belum ditangani secara memadai akibat kurangnya kesadaran bahwa bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat yang besar, serta adanya anggapan tabu di banyak masyarakat untuk membahasnya secara terbuka. Hingga saat ini, hanya sedikit negara yang memasukkan pencegahan bunuh diri ke dalam prioritas kesehatan mereka, dan hanya 38 negara yang melaporkan memiliki strategi nasional pencegahan bunuh diri.
Secara global, ketersediaan dan kualitas data mengenai bunuh diri dan tindakan melukai diri sendiri juga masih buruk. Hanya sekitar 80 negara anggota WHO yang memiliki data registrasi berkualitas baik yang dapat digunakan secara langsung untuk memperkirakan angka bunuh diri. Masalah buruknya kualitas data kematian ini tidak hanya terjadi pada kasus bunuh diri, mengingat adanya stigma seputar bunuh diri—serta status ilegal perilaku bunuh diri di beberapa negara—kemungkinan besar pelaporan yang kurang (under-reporting) dan kesalahan klasifikasi, menjadi masalah yang lebih besar pada kasus bunuh diri jika dibandingkan dengan sebagian besar penyebab kematian lainnya.
REMAJA YANG RENTAN
Satu dari enam orang di dunia berusia 10–19 tahun yang disebut remaja. Masa remaja merupakan masa yang unik dan krusial bagi pembentukan diri. Perubahan fisik, emosional, dan sosial—termasuk paparan terhadap kemiskinan, perlakuan buruk, atau kekerasan—dapat membuat remaja rentan terhadap masalah kesehatan mental. Melindungi remaja dari situasi sulit, mendorong pembelajaran sosial-emosional dan kesejahteraan psikologis, serta memastikan akses terhadap layanan kesehatan mental, merupakan hal yang sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka, baik pada masa remaja maupun saat setelah dewasa.
Masa remaja adalah periode krusial untuk mengembangkan kebiasaan sosial dan emosional yang penting bagi kesejahteraan mental. Hal ini mencakup penerapan pola tidur yang sehat, olahraga teratur, pengembangan keterampilan mengatasi masalah (coping), pemecahan masalah, keterampilan interpersonal, dan belajar mengelola emosi. Intervensi promosi dan pencegahan bidang kesehatan mental bertujuan memperkuat kemampuan remaja dalam mengelola emosi, meningkatkan alternatif selain perilaku berisiko, membangun ketahanan dalam menghadapi situasi sulit dan tantangan hidup, serta mendorong terciptanya lingkungan sosial dan jejaring sosial yang suportif.
Sebaiknya kita semua bergerak bersama menantang mitos yang keliru, mengurangi stigma, serta mendorong percakapan dengan para remaja secara terbuka dan penuh kepedulian mengenai bunuh diri. Tujuannya ialah beralih dari sikap diam dan kesalahpahaman pada remaja menuju keterbukaan, empati, dan dukungan demi menciptakan lingkungan di mana setiap remaja merasa mampu untuk berbicara dan mencari bantuan.
Apakah kita sudah mendampingi para remaja di sekitar kita?
