Petinggi Militer AS Terbelah terkait Rencana Serangan terhadap Houthi di Yaman
Donald Trump.(Al Jazeera)

PEMIMPIN militer Amerika Serikat dilaporkan terbelah mengenai keputusan apakah Presiden Donald Trump harus terlibat lebih jauh dalam konflik antara Arab Saudi dan pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman. Perpecahan internal ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari Riyadh agar Washington mengambil tindakan militer langsung.

Menurut laporan dua pejabat AS, Arab Saudi meminta bantuan militer AS untuk menghadapi Houthi. Permintaan ini menjadi sangat mendesak setelah pemberontak mengeklaim telah menembak jatuh jet tempur F-15 milik Saudi dan melakukan gerak maju cepat ke Provinsi Marib, wilayah yang menampung ladang minyak dan gas terbesar di Yaman.

Perdebatan di Internal Pentagon

Di dalam Pentagon, sejumlah pemimpin militer menyuarakan keberatan untuk membuka front militer baru di kawasan tersebut. Mereka mengkhawatirkan menipisnya pasokan senjata pertahanan dan jarak jauh milik Pentagon. Selain itu, mereka mencatat bahwa saat ini kelompok Houthi tidak menyerang kapal-kapal AS.

Sebaliknya, kelompok pemimpin militer lain mendukung serangan udara. Mereka berpendapat bahwa AS harus membantu Riyadh membalas serangan Houthi, terutama setelah jatuhnya F-15 yang dianggap menantang keunggulan udara Saudi di Yaman. Para pejabat ini secara pribadi menyatakan kekhawatiran bahwa kegagalan AS untuk bertindak tegas akan dianggap sebagai pengkhianatan terhadap sekutu regional yang penting.

Pembatalan Serangan Mendadak

Presiden Trump sempat memerintahkan serangan terhadap Houthi untuk dimulai pada hari Minggu sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Namun, militer diberi tahu sesaat setelah pukul 14.00 bahwa perintah tersebut dibatalkan. Meski demikian, opsi tindakan militer di masa depan tetap terbuka.

Risiko Strategis dan Keterbatasan Senjata

Seorang pemimpin militer senior di kawasan memperingatkan bahwa tindakan terhadap Houthi dapat menciptakan risiko yang tidak terkendali bagi pasukan AS di Timur Tengah, termasuk misi perang melawan Iran. Hal ini mencakup operasi keamanan di Selat Hormuz dan potensi blokade angkatan laut.

Situasi ini menempatkan Trump dalam posisi sulit. AS saat ini masih terkunci dalam ketegangan dengan Iran, sementara di sisi lain menghadapi kekurangan persenjataan utama. Arab Saudi tetap menjadi sekutu kritis AS, terutama selama konflik dengan Iran berlangsung.

Eskalasi di Lapangan

Ketegangan meningkat tajam setelah Houthi menggunakan rudal dan drone untuk menyerang situs-situs sensitif di Riyadh dan fasilitas Aramco di Yanbu pada Sabtu. Kelompok militan tersebut juga bergerak cepat untuk menguasai Selat Bab al-Mandab di Laut Merah, yang merupakan jalur penting ekspor minyak.

Sebelumnya, Trump sempat mengumumkan gencatan senjata dengan Houthi tahun lalu setelah serangkaian serangan udara. Dalam kesepakatan tersebut, AS menangguhkan aksi militer dan Houthi berhenti menyerang kapal-kapal AS.

Trump baru-baru ini menyebut telah melakukan diskusi dengan pihak Houthi, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut. Hingga saat ini, Gedung Putih, Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington, dan Pentagon menolak memberikan komentar resmi terkait dinamika internal ini. (NBC/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *