
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperketat pemantauan serta menyerukan imbauan kewaspadaan tinggi kepada seluruh pemerintah daerah dan masyarakat. Peringatan dini ini dikeluarkan seiring dengan masuknya periode puncak musim hujan yang diproyeksikan berlangsung secara intensif pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9), memaparkan bahwa porsi puncak musim hujan pada tahun ini akan terkonsentrasi secara ketat dalam kurun waktu tiga bulan tersebut, dengan karakteristik durasi musim yang cenderung lebih singkat jika dibandingkan dengan kondisi normalnya.
“Meskipun durasi musim hujannya relatif pendek, curah hujan akumulasinya umumnya normal. Nah, ini yang perlu diwaspadai. Jadi bisa saja hujan nanti jatuh secara intens di bulan-bulan tersebut dan untuk wilayah-wilayah yang secara historikal terjadi bencana hidro-meteorologi basah, itu perlu diwaspadai,” ujar Andri.
Andri merinci lebih lanjut sebaran wilayah yang akan mengalami puncak musim hujan. Gelombang awal dimulai pada Desember 2026 yang meliputi 155 Zona Musim (ZOM), mencakup sebagian besar Pulau Sumatra, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, hingga wilayah Sulawesi bagian utara.
Selanjutnya pada Januari 2027, fase puncak musim hujan bergeser melanda 162 ZOM yang mencakup hampir seluruh wilayah Pulau Jawa, Provinsi Lampung, Kalimantan Selatan, bagian barat Sulawesi Selatan, hingga sebagian besar wilayah Papua.
Sementara itu, pada Februari 2027, sebanyak 140 ZOM diperkirakan akan menyusul mengalami puncak musim hujan. Wilayah konsentrasi pada bulan tersebut meliputi kawasan Sulawesi bagian tengah, Sulawesi Tenggara, Kepulauan Maluku, hingga wilayah Papua bagian selatan.
Potensi Banjir dan Longsor
Mengantisipasi dinamika atmosfer tersebut, BMKG mengingatkan bahwa ancaman bencana ikutan berupa banjir, banjir bandang, serta tanah longsor berpotensi tinggi melanda daerah-daerah dengan topografi curam serta wilayah yang memiliki catatan historis kerawanan bencana yang tinggi.
Beberapa kawasan yang mendapat sorotan khusus meliputi sepanjang bentangan Pulau Jawa (khususnya wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur), Pulau Bali, Nusa Tenggara, pesisir barat Sumatra, Sumatra Utara, hingga Provinsi Aceh.
Selain faktor lokal dan regional, pihak BMKG juga terus memantau pergerakan anomali iklim global secara intensif guna mengantisipasi lonjakan curah hujan ekstrem mendadak.
“Indikasi pergerakan indeks Dipole Mode ke arah positif di Samudra Hindia juga terus kami pantau ketat, karena dapat menambah intensitas curah hujan, terutama untuk wilayah Sumatra,” pungkas Andri. (Ant/P-4)
