
KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak bertahan di atas USD100 per barel yang menekan nilai tukar rupiah. Bank Indonesia (BI) mengintensifkan intervensi di pasar valuta asing (valas) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pada Selasa pagi (22/9), rupiah melemah Rp17.879 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea mengatakan tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kekhawatiran terhadap tensi geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, kebutuhan valas importir dan arus keluar dana dari portofolio aset domestik turut memberikan tekanan terhadap rupiah.
“Pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas USD100 per barel,” kata Erwin, dikutip Selasa (22/9).
Menurut Erwin, kenaikan harga minyak meningkatkan risiko inflasi global dan memberikan tekanan terhadap outlook fiskal. Kondisi tersebut, kata dia, perlu diantisipasi dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
“Bank Indonesia memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya,” ujarnya.
Ia mengatakan BI memperkuat strategi operasi moneter yang berorientasi pada mekanisme pasar (pro-market), termasuk melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang. BI juga memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif.
Erwin mengatakan intervensi akan terus dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
“Disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” jelasnya.
Selain intervensi di pasar valas, sambungnya, BI melakukan koordinasi dengan korporasi serta pelaku pasar untuk mendorong arus masuk modal asing yakni mengoptimalkan insentif.
Ia menyebut BI mendorong diversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT) untuk memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional.
Di tengah tekanan tersebut, pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), Rupiah tercatat menguat 0,37%.
Posisi cadangan devisa Indonesia juga meningkat menjadi USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, yang menjadi salah satu faktor pendukung dalam menjaga stabilitas nilai tukar. (H-4)
