
BAND asal Australia, Tjaka, sukses memukau penonton dalam gelaran Jakarta Gig on the Green yang berlangsung di Rumah Sarwono, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (19/9). Penampilan mereka tidak sekadar menyuguhkan musik modern, tetapi juga menjadi misi pelestarian budaya Aboriginal, suku asli benua Australia.
Grup yang digawangi oleh dua bersaudara Geoff dan Jake, serta rekan mereka Luke, memperkenalkan instrumen tradisional didjeribone di atas panggung. Penggunaan alat musik ini dimaksudkan sebagai jembatan untuk menghubungkan identitas band dengan akar budaya leluhur sekaligus memperluas wawasan audiens global.
“Kami harap penonton yang belum mengenal budaya Aboriginal untuk mencari tahu lebih jauh setelah menonton kita,” ujar personel Tjaka dalam keterangannya. Mereka menyadari bahwa saat ini pengetahuan masyarakat dunia mengenai budaya suku Aborigin masih sangat terbatas.
Selain melalui instrumen musik, identitas budaya tersebut melekat kuat pada nama band mereka. Nama “Tjaka” merupakan singkatan dari Tjakamara, yang diambil dari sistem penamaan kekerabatan tradisional suku Aborigin atau yang dikenal sebagai skin name.
“Hal ini merupakan bagian dari sistem penamaan kekerabatan. Jadi, begitulah cara suku-suku zaman dahulu mengetahui siapa yang memiliki hubungan kekerabatan,” jelas mereka. Sistem skin name ini memiliki fungsi krusial dalam menentukan aturan pernikahan antar-suku, menunjukkan status sosial, hingga mendefinisikan peran individu dalam komunitas.
Melalui perpaduan musik modern dan elemen tradisional, Tjaka berupaya membangun koneksi emosional dengan penonton. Mereka meyakini bahwa musik adalah media yang paling efektif untuk memikat rasa ingin tahu masyarakat terhadap sejarah dan eksistensi suku asli Australia.
Sebagai keturunan langsung dari salah satu suku leluhur, langkah Tjaka memadukan konsep band modern dengan nilai-nilai tradisional merupakan bentuk kebanggaan sekaligus upaya nyata dalam memastikan keberlanjutan warisan budaya mereka di masa depan. (Z-10)
