
DATA terbaru FAO 2026 mencatat sejarah baru dalam industri pangan dunia. Produksi perikanan dan akuakultur global berhasil menembus angka 235 juta ton. Untuk pertama kalinya, akuakultur resmi menjadi mesin pertumbuhan utama dengan menyumbang 53% hewan akuatik global dan 59% pangan hewan akuatik, di saat sektor perikanan tangkap mulai mengalami stagnasi.
Di tengah dinamika global seperti perang dagang, krisis iklim, dan ledakan populasi, sektor kelautan muncul sebagai solusi cerdas. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Umum GNTI sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, dalam presentasinya di 2026 Global Ocean Development Forum (GODF) di Qingdao, Tiongkok, Kamis (17/9).
Menurut Prof. Rokhmin, akuakultur kini bukan sekadar penyedia protein, melainkan penyedia bahan bakar dunia yang berkelanjutan. Indonesia, sebagai negara kepulauan, memegang kartu truf dengan potensi ekonomi akuakultur yang ditaksir mencapai US$210 miliar per tahun.
Rincian Potensi Akuakultur Indonesia
Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa di tiga zona utama budidaya. Berikut adalah rincian potensi lahan dan produksinya:
| Zona Budidaya | Luas Lahan | Potensi Produksi | Komoditas Unggulan |
|---|---|---|---|
| Marikultur (Laut) | 24 Juta Hektare | 60 Juta Ton/Tahun | Kerapu, Lobster, Mutiara, Teripang, Rumput Laut |
| Pesisir (Tambak) | 3 Juta Hektare | 34,36 Juta Ton/Tahun | Udang Vaname, Bandeng, Kepiting |
| Air Tawar | 2 Juta Hektare | 5,7 Juta Ton/Tahun | Nila, Patin, Arwana, Lobster Air Tawar |
Salah satu bukti dominasi Indonesia adalah pasokan mutiara laut selatan (South Sea Pearl) yang kini menyumbang 43% dari total kebutuhan dunia.
Bioteknologi: Permata Tersembunyi Ekonomi Biru
Prof. Rokhmin menyoroti bioteknologi kelautan sebagai “permata tersembunyi” yang nilainya diprediksi empat kali lipat lebih besar dari industri semikonduktor global. Sektor ini mampu menghasilkan 12 produk akhir, mulai dari pangan fungsional, farmasi anti-kanker, hingga biofuel.
Beberapa implementasi nyata di Indonesia meliputi:
- Evergen (Kendal): Memproduksi 500 kg astaxanthin per bulan untuk pasar AS, Korea Selatan, dan Jepang.
- ALBITEC (Semarang): Memproduksi 500 kg spirulina per bulan menggunakan energi terbarukan.
- Solusi Limbah: Pemanfaatan bakteri Pseudomonas putida untuk tumpahan minyak dan Bacillus subtilis untuk pengurai plastik.
Selain itu, protein ikan menawarkan solusi cerdas iklim dengan jejak karbon 5 hingga 10 kali lebih rendah dibandingkan daging merah.
Ironi Investasi dan Tantangan Sektor Perikanan
Meski memiliki potensi Rp3.000 triliun yang “menganggur”, Indonesia masih menghadapi kendala struktural. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan pemanfaatan potensi akuakultur baru mencapai 18,40% pada 2025.
Prof. Rokhmin juga mengungkap data pahit dari Bank Dunia 2024 terkait akses pembiayaan bagi nelayan dan pembudidaya:
| Indikator Keuangan | Nilai/Persentase |
|---|---|
| Suku Bunga Pinjaman Indonesia | 8,8% (Tertinggi ke-2 di ASEAN) |
| Alokasi Kredit Perikanan | 0,35% (Rp 19,78 Triliun dari Rp 5.688 Triliun) |
| Usaha Tradisional (Skala Kecil) | 75% dari total unit usaha |
Lompatan Teknologi: Marine Ranching dan TEMR
Sebagai solusi masa depan, Prof. Rokhmin menawarkan konsep Marine Ranching atau Peternakan Laut Ekologis. Berbeda dengan keramba konvensional, metode ini membangun habitat buatan di teluk untuk melepaskan benih ikan agar tumbuh secara alami dan regeneratif.
Model sukses ini telah dibuktikan melalui Sea Farming Program di Kepulauan Seribu sejak 2005, yang kini menjadikan wilayah tersebut pemasok utama kerapu ke Jakarta. Untuk skala nasional, Indonesia mengusulkan model Tropical Ecological Marine Ranching (TEMR) yang membagi teluk menjadi lima zona, mulai dari inti konservasi hingga zona pengolahan darat-laut.
“Indonesia memiliki konektivitas ekologis antara mangrove, lamun, dan terumbu karang yang tidak dimiliki negara lain. Kita punya modal besar, namun pertanyaannya: apakah alokasi kredit 0,35% itu cukup untuk mewujudkannya?” pungkas Prof. Rokhmin. (Z-1)
