
Harga daging ayam ras di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengalami kenaikan signifikan pada September 2026. Saat ini, harga komoditas tersebut terpantau merangkak naik hingga mendekati angka Rp50.000 per kilogram, jauh melampaui harga rata-rata pada bulan sebelumnya.
Kepala Kantor Wilayah Bank Indonesia (BI) Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil survei Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), rata-rata harga daging ayam di wilayah tersebut pada September 2026 telah menyentuh Rp49.354 per kilogram.
“Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan harga rata-rata pada bulan Agustus 2026 sebesar Rp43.661, atau naik sebesar 13,04% (mtm),” ujar Rommy pada Jumat (18/9).
Melampaui Harga Acuan Pemerintah
Kenaikan ini menjadi perhatian serius karena selisihnya yang cukup lebar dari regulasi yang ada. Rommy mencatat bahwa lonjakan harga saat ini mencapai 23,39% lebih tinggi jika dibandingkan dengan Harga Acuan Penjualan (HAP) yang telah ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas), yakni sebesar Rp40.000 per kilogram.
Kondisi ini turut memberikan tekanan pada angka inflasi daerah. Rommy menyebutkan bahwa fluktuasi harga pangan, termasuk daging ayam, menjadi salah satu penyebab tingginya inflasi di Bangka Belitung yang tercatat sebesar 3,94% (yoy) pada bulan Agustus lalu.
Pemicu Kenaikan: Pasokan hingga Program MBG
Terdapat beberapa faktor utama yang diidentifikasi sebagai penyebab melambungnya harga daging ayam di pasar lokal, di antaranya:
- Tingginya Permintaan: Lonjakan konsumsi masyarakat yang tidak dibarengi dengan ketersediaan stok yang mencukupi.
- Gangguan Produksi: Adanya kendala pada proses produksi ayam ras yang berdampak langsung pada kelancaran pasokan ke distributor dan pedagang.
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Meningkatnya kebutuhan daging ayam ras untuk pemenuhan gizi pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam rangka pelaksanaan program pemerintah pusat.
- Margin Keuntungan: Kecenderungan pelaku usaha untuk mempertahankan margin keuntungan di tengah tingginya harga pembelian dari tingkat produsen.
Respons TPID
Menyikapi tren kenaikan yang masih berlanjut, Bank Indonesia meminta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk segera mengambil langkah strategis. Koordinasi cepat diperlukan guna mengantisipasi lonjakan harga lebih lanjut agar tidak semakin membebani daya beli masyarakat di Bangka Belitung.
